
Dengan semangat Aurel melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang mulai padat kendaraan, Aurel menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala dan bersenandung kecil menikmati suasana hati nya yang senang.
Pandangan mata Cantik Aurel sekilas melihat seperti sosok Cellin yang berada tidak jauh dari deretan mobil nya yang berhenti. Aurel mempertajam penglihatan nya, namun suara klakson mobil lainnya yang memekakkan telinga membuat Aurel melajukan mobilnya kembali mengingat lampu merah sudah bertukar warna.
"Mama ternyata kamu berada di negara ini, tapi kenapa ma... kalian tidak memperdulikan ku bahkan untuk menjenguk ku pun tidak pernah. sebegitu tidak diinginkan kah kehadiran ku ditengah-tengah kalian"
air mata Aurel kembali membanjiri kedua pipinya
"Okey mulai sekarang aku tidak akan mengharapkan kasih sayang kalian lagi, aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri" mengusap air mata, kemudian Aurel memperbaiki riasanya kembali.
Aurel memasuki gerbang utama Rumah mewah Alexa, nampak mobil teman-teman sudah parkir di halaman luas itu, yang menandakan mereka telah berkumpul di dalam.
Aurel mengagumi keindahan dan kemewahan Rumah itu, Sambil tersenyum sinis
"Beruntung sekali hidupmu Milka"
Aurel memencet bel, tidak lama pelayan Rumah membukakan pintu
"Mari Nona silahkan masuk" ucap pelayan hormat
"Terimakasih" Aurel mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah besar itu, dimana setiap sudut terdapat beberapa miniatur mahal.
"Wah bagus sekali" Aurel berjalan mendekati dan melihat berbagai pajangan mewah, yang merupakan koleksi Tuan Juang semasa hidupnya.
"Aurel" sapa Milka dari belakang tempat Aurel berdiri, membuat Aurel kaget dan menjatuhkan miniatur berbentuk menara Eiffel itu hingga rusak, karena ada beberapa bagian yang pecah
"Ma... maaf Milka, kamu mengagetkan ku dan aku tidak sengaja memecahkan nya" Aurel ketakutan dan segera mengumpulkan serpihan pecahan itu
"Aurel kamu merusak peninggalan Opa ku yang paling berharga, aku yakin kamu sengaja melakukan itu" ucap Milka kesal, karena disekolah Aurel pun sering mengerjainya.
"Aku bilang tidak sengaja, lagian kamu mengagetkan ku" bentak Aurel yang tidak terima tuduhan Milka
Suara mereka terdengar hingga ke taman belakang, teman-temannya berlarian menuju asal suara, termasuk Alexa dan Lee yang tengah bersantai berdua dikamar, melepaskan kerinduan mereka setelah beberapa hari ini berpisah.
"Ada apa ini" suara bariton Milko terdengar memandang bergantian Milka dan Aurel, semen teman-teman yang lain bungkam, masih syok melihat pertengkaran itu
Melihat kedatangan Alexa dan suaminya, tiba-tiba tangis Aurel pecah
"Hu...hu....hu....,, Milka aku sudah minta maaf, dan tidak sengaja menyenggol miniatur ini, lagian kamu datang secara tiba-tiba dari belakang mendorong dan mengagetkan ku hu...hu..." ucap Aurel terus menangis
"Bohong..aku tidak pernah mendorong mu Aurel"
Aurel mendekati Alexa dan Lee yang masih terbengong
"Mami....eh Tante, percayalah aku benar-benar tidak sengaja" kemudian menangis kembali
Hati Alexa benar-benar luluh melihat air mata Aurel, termasuk Lee yang ikut menyaksikan, merasa mata Aurel itu mengingatkan akan mata ibunya dulu yang pernah menangis saat kehilangan ayah nya Lee. Alexa membawa Aurel kepelukanya
"Sudahlah sayang.... jangan menangis, cup...cup"Mengusap sayang punggung Aurel
Lee memerintahkan pelayan untuk membersihkan semua, dan menyuruh Milka dan teman-teman yang lain meneruskan belajar kelompok mereka, sementara Aurel dibimbing Alexa duduk disofa dan memberikan nya minuman segar.
"Sudahlah sayang...,, Minum dulu biar kamu lebih tenang"
"Terimakasih Tante" Aurel meminumnya
Milko menatap Aurel tidak suka, namun tidak dapat dipungkiri dilubuk hati terdalam nya, merasa begitu dekat dengan Aurel, dan perasaan ingin selalu melindungi, meskipun dia tahu sifat buruk Aurel terhadap adik kembar nya Milka.