
Paginya Minnie terbangun sambil meringis menahan sakit dibagian sensitif nya, melirik kesamping Rian masih tertidur pulas dengan dengkuran halus keluar dari mulut nya.
Minnie menangis menyesali apa yang telah terjadi,
"Bagaimana jika ku hamil,.... bagaimana jika Rian tidak mau bertanggung jawab..
Ayah, ibu maafkan aku yang telah mengecewakan kalian" sambil terus menangis
Minnie berusaha untuk bangkit, dan memungut pakaiannya yang berserakan.
"Aaaww sakit" pekik Minnie
Rian terbangun sambil mengucek matanya dan kepala yang masih terasa berat.
"Minnie ada apa, kenapa disini ? Rian mengerutkan keningnya sambil memijit kepala bingung dan mencoba mengingat kejadian semalam.
"Aaahhk tidak" ucap Rian frustasi mengingat sedikit demi sedikit kejadian semalam
"Minnie aku mohon kamu bisa menutup kejadian ini, aku akan memberikan berapapun uang yang kamu butuhkan" ucap Rian tanpa peduli perasaan Minnie yang terus menangis
"Bagaimana jika aku hamil Rian"
Rian tercekat dan mulut tiba-tiba terkunci tidak mampu mengeluarkan kata-kata, pikiran nya teringat dengan hubungan nya bersama Airin dulu yang hamil dan melahirkan anak nya Clara.
Akankah kejadian seperti itu terulang lagi dengan wanita yang berbeda. Rian meremas kepalanya frustasi, menyesali kebodohannya.
"Bagaimana jika Alexa mengetahui kebodohan yang ku lakukan untuk kedua kalinya, pasti dia akan marah besar dan Kakek tidak akan pernah memberikan aku restunya lagi" Rian menunduk dan meremas rambutnya
Minnie menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi, sambil membawa pakaian yang berserakan di lantai. setelah membersihkan tubuhnya Minnie berjalan keluar meninggalkan Rian yang masih begitu terpukul dan syok.
"Ibu kenapa tidur di sofa" Minnie menguncang pelan tubuh ibunya
"Minnie kenapa tidak pulang semalaman" pertanyaan itu langsung terlontar begitu melihat Minnie Putri satu-satunya
"Dikantor sedang banyak pekerjaan Bu, jadi kami semua lembur" berusaha menyembunyikan kejadian itu dan berlalu menuju kamar nya.
Acara pernikahan Alexa dan Rian hampir tujuh puluh lima persen sudah rampung, gedung terbesar dan mewah serta dekorasinya yang begitu wah. semua itu tidak terkendali campur tangan Kakek dan keluarga Rian. sementara Alexa menurut saja.
Rian mengandeng tangan Alexa memasuki ruangan khusus untuk mereka fiixting baju pengantin dan foto prewedding pernikahan. nampak senyum terpaksa tersungging di bibir Alexa begitu juga dengan Rian.
Semua itu tidak luput dari pantauan media, sehingga muncul berbagai isu tentang retaknya hubungan mereka berdua. Kakek yang menyaksikan berita itu ikut mengerutkan keningnya melihat seyum terpaksa cucunya, dia sudah hafal betul bagaimana sikap Alexa, yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Yudha cepat kamu selidiki hubungan Alexa dan mantan asisten nya itu, dan informasi yang kamu dapatkan harus akurat" ucap Kakek
"Baik Tuan" Asisten Yudha akan bersama orang nya akan menyelidiki secara langsung, bukan berdasarkan informasi dari wanita pemilik Club itu lagi dan orang-orang suruhan Rian
Asisten Yudha mendatangi lokasi tempat usaha Lee, serta memantau usaha yang dikelola Lee bersama bibi Uty. setelah melihat Lee pergi membawa kendaraan berisi begitu banyak pesanan bunga.
Asisten Yudha turun dari mobil dan berjalan mendekati wanita paruh baya yang sedang menyusun bunga kedalam bucket.
"Selamat pagi Tuan, apa ada yang bisa kami bantu" sambil merentangkan tangannya bibi Uty menunjuk bunga mawar yang indah
"Iya aku mau pesan beberapa bucket bunga itu" tunjuk asisten Yudha
"Baik lah tunggu sebentar Tuan, kami akan persiapkan terlebih dahulu" ucap Bi Uty senang karena usaha nya semakin maju