
"Siapa yang melakukan ini terhadap mu" ucap Milko geram
"Aku tidak tahu kak " Milka kembali menangis
"Kak Milko aku curiga dengan Aurel dan teman-temannya" Sasha ikut bicara
"Jangan asal menuduh Sasha, kita tidak mempunyai bukti yang jelas" ucap Milka disela tangisnya
"Aurel" ucap Milko
"Kenapa dengan ku, setiap kali bertemu dan melihat wajah Aurel aku merasa begitu dekat, seperti melihat diriku sendiri. sudah berapa kali dia berbuat jahat dan berniat menjatuhkan Milka, namun aku selalu kalah dengan persaan ku sendiri yang tidak mampu membalas perbuatan jahat nya itu.
Aku bingung apa yang membuat ku seperti ini, padahal tidak ada hubungan apapun diantara kami. Okey Aurel aku akan mencari. tahu secara diam-diam apa sebenarnya motif mu yang begitu membenci Milka, yang tidak pernah berbuat salah terhadap mu" bathin Milko yang mengantarkan Milka menuju kelasnya
"Permisi buk "
"Milka, Sasha dari mana saja kalian, kenapa begitu lama kalian pergi ke toilet nya" ucap Bu Mery dengan wajah sanggar
"Maaf Bu, tadi Milka terkunci dalam toilet" ucap Milko
"Kenapa Bisa" Bu Mery mengerutkan keningnya
"Seseorang telah berniat jahat terhadap adik saya" Milko melirik Aurel dan teman-temannya yang tiba-tiba memucat ketakutan
"Siapa yang melakukannya Milko" ucap bu Mery sambil menyuruh Milka dan Sasha duduk kembali ke kursi nya
"Aku akan mencari tahunya Bu, saya permisi balik ke kelas dulu" Milko meninggalkan ruangan kelas itu menuju kelasnya sendiri yang hanya selisih satu lantai
"Brengxxxx kenapa cepat sekali Milka keluar dan mendapatkan bantuan, aku belum puas mengerjainya" Aurel menatap punggung Milka yang duduk di deretan Kursi paling depan
"Tenang Aurel kita masih punya banyak waktu" bisik Azka tersenyum sinis, Azka dulunya anak yang baik. tapi semenjak berteman dan bergaul dengan Aurel sifat nya ikut berubah. mereka begitu akrab karena merasa memiliki nasib sama. yait kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua mereka yang kaya raya melintir
Setelah merasa tenang kembali, Milka mengikuti proses belajar dengan tenang, tanpa menghiraukan tatapan iri Aurel
Alexa tersenyum manis menunggu anak kembarnya, sambil berdiri manis memainkan benda pipih ditangan nya membalas chat sang suami Lee yang tengah berada di sebuah pulau untuk menjalankan proyek perusahaan baru mereka.
Alexa sengaja hari ini menjemput kedua anaknya, dan sesekali mengunakan jasa sopir pribadi untuk antar jemput mereka, untuk Milko pun demikian jarang dia mengunakan mobil. mereka lebih suka tampil apa adanya, mencerminkan sikap Lee yang sangat sederhana.
"Mami" sapa Milka berlari menuju maminya yang diikuti Milko
"Udah pulang sayang" sapa Alexa
" Mami kelihatan nya senang banget, balas chat siapa sich ? goda Milka
"Papimu sayang"
"Kapan papi pulang ya mi, Milka udah kangen banget nih"
"Sabar..lusa juga pasti Udah nyampe Rumah" bujuk Alexa
Aurel yang berdiri tidak terlalu jauh dari merekalah sekarang, mengusap air mata yang lolos begitu saja.
"Aku merasa sakit melihat kebahagiaan mereka, Milka memiliki segalanya. maminya sangat cantik dan sangat lembut, menyayangi anak-anak.
Tuhan kirimkan aku orang tua yang seperti Milka, aku juga ingin kasih sayang dan perhatian seorang ibu" menatap kebahagiaan mereka
Secara tidak sengaja Alexa melirik Aurel yang terpaku menatap mereka yang hendak memasuki mobil.
"Kalian tunggu mami dulu ya"
Alexa berjalan mendekati Aurel sambil tersenyum ramah menyapa nya, entah kenapa hatinya terasa begitu bahagia dan tenang melihat wajah Aurel.
"Kamu menunggu siapa nak, kalau tidak keberatan mari Tante antar kamu pulang. kamu pasti temannya anak Tante Milka"
"I...iya Tante, namaku Aurel" menatap wajah Alexa, Aurel merasakan begitu tentram dan menemukan sosok seorang ibu