
Airin tidak bisa menyembunyikan kekesalan dan kesedihannya, melampiaskan ke barang-barang yang ada dikamar nya.
"Minnie brengsek, Rian bajingan kalian berdua, kalian menikah dan berbahagia diatas penderitaan ku" menangis sambil melempar kaca besar yang ada dihadapannya yang seakan mengejek dirinya.
Kedua orang tua Airin hanya bisa menyaksikan kesedihan Putri mereka itu, tanpa bisa berbuat lebih. karena Airin akan lebih parah lagi mengamuk jika mereka berdua berusaha untuk menenangkan.
Merasa tenaganya yang sudah terkuras dan capek menangis, Airin merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu sambil menerawang mengingat pertemuan mereka siang tadi.
Dimana Rian dan keluarganya tidak mau melepaskan Clara, dan yang membuat nya bertambah sedih ucapan Clara yang lebih memilih tinggal bersama Rian, dan memanggil Minnie dengan sebutan Bunda.
"Clara hanya aku Mami mu satu satunya, dan tidak ada seorang pun yang akan mengantikan ku" kembali menangis
Malam itu Mama Airin memerintahkan para pelayan Rumah mereka untuk mengemas pakaian Airin. dan memutuskan besok pagi waktu yang pas untuk mereka membawa Arin pindah tinggal bersama mereka.
Pagi ini meskipun dengan berat hati, Airin terpaksa mengikuti kedua orang tua nya, mereka menaiki penerbangan pertama menuju Brunei Darussalam.
"Selamat tinggal Clara sayang, suatu saat mami pasti akan kembali. membawamu dan kita akan terus bersama sayang" menghapus air matanya
"Sudah lah nak, Mama yakin Clara tidak akan pernah melupakan mu sebagai maminya, jadi kamu tidak perlu khawatir" Mama berusaha untuk membujuk anaknya yang terlihat masih murung.
Sehingga Rian tidak akan rela jika kebahagiaannya dirusak kembali, dengan kehadiran Airin yang akan mengambil Clara. dari sisi mereka. bagaimana pun juga dia juga berhak atas Clara yang pernah mereka sia siakan dulu.
"Mas Rian aku sangat mengerti persaan Nona Airin sekarang, tapi kita juga tidak bisa berpisah dari Clara" mengusap sayang kepala Clara yang sudah tertidur
"Airin bukan lah ibu yang baik buat Clara, dia itu wanita egois yang pernah meninggalkan Clara bersama pengasuh demi mencapai misinya menghancurkan Alexa, setelah berhasil merusak hubungan kami dulunya, anggap saja ini hukuman atas perbuatan n dulu"
Rian menarik pelan tangan Minnie menuju kamar mereka, setelah memastikan jika Clara telah tertidur dengan pulas, Minnie memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Putri sambungnya itu. selanjutnya Minnie mengikuti langkah Rian. untuk melanjutkan PR mereka berdua menyiapkan seorang adek untuk Clara nantinya.
Rian dengan semangat menciumi wajah dan bibir Minnie, hingga kedua begitu terbuai dengan permainan yang tidak pernah membuat kedua nya bosan.
Minnie sudah mampu mengimbangi permainan Rian, beberapa gaya telah mereka coba, berharap segera memperoleh hasil yang memuaskan. hingga kedua insan itu kelelahan tidur saling berpelukan hingga pagi menjelang.
Beberapa bulan berlalu, Niko juga sudah menghirup udara kebebasannya. dia Kembali Pulang berkumpul kembali dengan keluarga besar yang telah ditinggalkan nya selama beberapa bulan terakhir
"Alexa brengxxxx ternyata kamu telah membebaskan Airin, tanpa mencabut tuntutan terhadap diriku" menggenggam erat tangannya penuh dengan kemarahan dan kebencian
"Alexa kamu akan membalasmu dengan cara ku sendiri, dan aku pastikan tidak akan ada hukum yang akan menjerat ku"