
Beberapa jam kemudian ku rasakan kereta kencana sudah tidak lagi berjalan. Aku pun terbangun sembari mengucek mataku perlahan.
"Apa sudah sampai?" Aku melihat keluar kereta kencana. "Kenapa tidak ada yang membangunkan ku? Pangeran Eric juga tidak bertanggungjawab sama sekali, dia membiarkan aku sendirian di dalam kereta kencana ini'' gerutu ku kesal.
Aku melangkah perlahan turun dari kereta kencana. Setelah turun, aku sangat bingung dengan keadaan saat ini.
"Tempat apa ini? Kenapa seperti hutan?" aku melihat ke sekeliling karena hanya ada pepohonan yang rimbun disini.
"Permisi, Tuan Putri"
Aku terkejut karena suara seorang wanita. Aku menatap wanita yang usianya lebih muda dariku dan menggunakan pakaian pelayan, aku yakin dia adalah seorang maid.
"Maaf jika saya mengangetkan anda, Tuan Putri" maid itu menundukkan kepala.
"Apa kau seorang pelayan?"
Maid itu mengangguk. "Perkenalkan nama saya Ruly, Tuan Putri. Saya adalah asisten pribadi anda dan saya yang akan mengurus segala keperluan anda di tempat ini." ucapnya sopan.
Aku hanya mengangguk. "Baiklah, aku harap kita bisa berteman Ruly."
Ruly hanya mengangguk sopan.
"Apa aku boleh tau ini tempat apa? Bukankah harusnya aku berada di Istana Wicaksana?"
"Memang seharusnya begitu, Tuan Putri. Tapi Tuan Putri sekarang harus tinggal di tempat ini, dan bukan Istana Wicaksana"
Aku kaget. "Apa maksudmu?"
"Mari ikut saya, nanti saya akan menjelaskan semuanya kepada Tuan Putri"
Aku berjalan terlebih dahulu di depan maid itu, tak lupa aku menjinjing gaun yang saat ini aku gunakan.
Tak lama kemudian, dari kejauhan aku dapat melihat sebuah rumah yang sangat besar. Aku menghentikan langkahku begitupun dengan Ruly.
"Ruly, itu tempat apa?" aku menunjuk ke sebuah rumah mewah tersebut.
"Itulah yang akan menjadi tempat tinggal anda, Tuan Putri. Sebuah mansion pribadi milik Pangeran Eric, sejak kecil pangeran Eric berada disini bersama dengan pengasuhnya. Tidak ada yang pernah datang kesini sekalipun keluarga Paduka Raja."
Aku terdiam.'Apa pangeran Eric diasingkan oleh keluarganya karena dia punya penyakit dan sifat yang aneh?' batinku menduga.
"Mari, Tuan Putri. Saya takut Pangeran Eric akan marah jika tau bahwa Tuan Putri belum masuk ke mansion"
Aku mengangguk dan kami berdua masuk ke dalam mansion. Tempat yang indah, megah, mewah, bak Istana kedua mansion itu menurutku. Aku berdecak kagum sembari menyapukan bola mata ke seluruh penjuru mansion.
"Ck! Bagus sekali" aku terus mengagumi mansion tersebut.
"Mari saya antar ke kamar anda Tuan Putri"
Aku mengangguk dan kami berdua berjalan menaiki tangga.
Beberapa saat kemudian kami telah sampai di depan kamar yang pintunya terbuat dari lapisan emas.
"Ini kamar anda, Tuan Putri. Jika butuh apapun Tuan Putri bisa memanggil saya" Ruly menunduk hormat.
"Baiklah, kau bisa pergi. Aku ingin istirahat, badanku lelah sekali rasanya" ucapku jujur.
Ruly mengangguk dan mundur beberapa langkah lalu membalikkan badan kemudian dari depan kamarku.
Sepeninggalan Ruly, aku langsung masuk ke dalam kamar. Kamar itu sangat besar dan mewah, di tambah ranjang king size dan di atas meja hias sudah tertata rapi alat-alat tempur seorang wanita seperti handbody lotion, lipstik dan lain-lain. Aku terus berjalan ke arah balkon, dari atas kamar ini aku bisa melihat bagaimana keadaan di bawah sana.
"Sebaiknya aku membersihkan diri terlebih dahulu baru istirahat" aku berjalan ke arah lemari.
Aku langsung membuka lemari dan melihat ternyata memang sudah banyak pakaian untukku di dalamnya.
"Sepertinya mereka memang sudah menyiapkan semua ini" gumam ku pelan sembari mengambil pakaian tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa saat kemudian aku telah selesai membersihkan diri.
"Heum.. Rasanya tubuhku terasa lebih ringan dan segar setelah berendam tadi" ucapku seraya duduk di meja rias.
PRANG!
Saat aku ingin mengoleskan lipstik di bibirku, aku mendengar sebuah suara. Ya, seperti suara piring pecah. Seketika aku langsung berdiri dari kursi dan keluar kamar untuk melihat ada apa di bawah sana.
Aku telah sampai di tangga paling akhir lantai bawah, mataku membola kala aku melihat pecahan piring di dekat pangeran Eric.
"Siapa yang menyuruhmu memasak makanan itu?" bentak Pangeran dengan suara bariton dan menakutkan.
Nyaliku menciut kala aku mendengar suara berat dan menakutkan itu. 'Astaga, kenapa baru mendengar suaranya saja aku sudah ketakutan seperti ini?'
"Tuan Putri"
Ruly dengan cepat menghampiriku, aku pun menoleh sejenak. "Ruly, apa yang dia lakukan sehingga pangeran Eric marah seperti itu?"
"Saya dengar bahwa juru masak itu memasak makan malam dengan campuran daging Tuan Putri." jelas Ruly.
"Hanya itu?"
Ruly mengangguk.
"Keterlaluan sekali dia, hanya masalah sepele saja langsung marah besar." aku ingin melangkahkan kaki menghampiri Pangeran Eric, tetapi Ruly dengan cepat mencekal lenganku.
"Maaf jika saya tidak sopan, Tuan Putri. Saya mohon jangan ikut campur dengan masalah Tuan Eric" Ruly seperti ketakutan.
"Ruly, aku harus membela juru masak itu. Aku yakin dia tidak sengaja melakukannya"
Ruly masih mencekal lenganku.
"Ruly lepaskan tanganku!" perintahku agar Ruly melepaskan cekalannya.
"Tidak Tuan Putri. Saya tidak akan melepaskan sebelum hukuman untuk juru masak itu selesai. Saya tidak ingin anda kenapa-kenapa"
Aku hanya menghela nafas kasar, dan saat aku melihat ke arah Pangeran Eric ternyata dia sudah memegang cambuk untuk memukul juru masak itu. Pangeran Eric mulai mencambuk juru masak tersebut. Juru masak itu merintih kesakitan dan mengatakan ampun, tetapi semua itu tidak dihiraukan oleh pangeran Eric, hingga saat cambukan selanjutnya ingin dilayangkan, hatiku sebagai manusia biasa pun tergoyahkan. Pangeran Eric mulai mengambil ancang-ancang untuk kembali mencambuk.
"HENTIKAN!!!" teriakku kencang sebelum cambuk itu mengenai tubuh sang juru masak yang berjenis kelamin laki-laki.
Semua atensi mata terarah padaku, aku melepaskan paksa tangan Ruly yang memegang lenganku. Dengan emosi yang memuncak, aku berjalan menghampiri Pangeran Eric.
"HENTIKAN PERBUATAN GILA INI, PANGERAN ERIC!" bentak ku emosi.
Ruly meneguk saliva nya kasar. 'Astaga, matilah aku' batin Ruly takut.
Pangeran Eric hanya menatap aku sejenak, lalu dia mulai mendorong kursi rodanya ke arah kamar yang ada di lantai bawah.
Aku menghampiri juru masak yang memegang punggungnya sendiri.
"Kau tidak pa-pa?" tanyaku lembut sembari membungkukkan setengah badanku.
Juru masak itu menggeleng dan menunduk.
"Bangunlah. Kau bisa pergi dan lanjutkan pekerjaanmu!" perintahku pada juru masak itu.
Juru masak tersebut mengangguk dan berdiri dari duduknya. Dia berjalan dengan terhuyung sembari memegangi punggungnya.
Aku menghela nafas kasar.
"Tuan Putri, untunglah pangeran Eric tidak berbuat tega kepada anda" ucap Rully yang sudah berada di sampingku.
"Ruly, aku ingin istirahat dikamar" ucapku pada Ruly.
"Silahkan Tuan Putri"
Aku langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku. Dalam hati aku merasa kesal dengan perbuatan Pangeran Eric yang semena-mena.
Bentuk undangan pernikahan Leona dan Eric
penampilan Putri Leona saat menikah.
•
•
TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART, BYE..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 🙏🏻😘.
♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻
mampir ke karya temen Othor juga yuk ❤