Lady Devil

Lady Devil
Bab 75 Lady Devil (Bonchap S-2)



Terlihat Sekar sedang bermain boneka di pojokan sudut Istana.


"Kamu lucu deh.." Sekar tertawa sendiri dengan mencubit gemas bonekanya.


Pangeran Andra melihat ke sekeliling terlebih dahulu ketika dia ingin menghampiri Sekar. "Dor!" Pangeran menepuk kedua pundak Sekar hingga Sekar terkejut.


"Aaaa.." pekik Sekar terjingkat.


Pangeran Andra hanya tertawa saja.


"Pangeran, kau benar-benar keterlaluan.. Bagaimana jika tadi aku jantungan? Apa kau mau bertanggungjawab?" Sekar mengerucutkan bibirnya.


"Maafkan aku," Pangeran duduk disebelah Sekar. "Mengapa kau berada disini sendirian?"


"Memangnya salah? Aku takut jika aku ikut bergabung pasti nanti hanya akan membuat Paduka Raja marah."


Pangeran Andra menatap Sekar dengan Iba. "Maafkan Ayahku, Sekar." lirih Pangeran dengan nada lemah.


"Untuk apa? Paduka Raja tidak bersalah apapun, Paduka benar bahwa aku hanyalah gadis miskin yang tidak pantas bermain dengan kalian para bangsawan." ucap Sekar sadar diri.


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, aku tidak masalah ingin berteman dengan siapapun."


"Itu 'kan kau, Pangeran. Tentu saja berbeda dengan cara pandang Paduka Raja," Sekar memeluk bonekanya.


Pangeran Aksa yang baru saja tiba dilantai bawah tak sengaja melihat sang adik yang tengah berbicara dengan Sekar. Pangeran mengeraskan rahangnya dan langsung menghampiri Pangeran Andra.


"Pangeran Andra!" bentak Aksa ketika sudah berada didekat Pangeran Andra.


Andra dan Sekar langsung menoleh, mereka bergegas untuk berdiri.


"Kakak, mau apa kau kesini?" ucap Pangeran Andra tidak suka.


"Kemanapun diriku apa masalahnya? Ini Istana Ayah dan aku bisa sesuka hati datang kemana saja."


Pangeran Aksa menatap Sekar yang hanya menunduk. "Pangeran Andra, pergi dari tempat ini atau aku akan memanggil Ayah agar kau, atau gadis ini akan diberi hukuman."


"Tapi—" ucapan Pangeran Andra terpotong karena sang kakak dengan cepat menyelanya.


"Tidak ada penolakan! Pergi atau aku akan memanggil Ayah sekarang juga." bentak Pangeran dengan tajam menatap mata sang adik .


"Ck! Dasar, kau itu temperamental dan bersikap sesuka hatimu." Pangeran Andra langsung pergi dari hadapan sang kakak.


Sekar takut akan tatapan mata Pangeran Aksa yang menyiratkan ketidaksukaan terhadap dirinya. Sekar membalikkan badan ingin pergi, tetapi Pangeran Aksa mencekal lengannya dengan kuat.


"Akh, sakit Pangeran.." lirih Sekar seraya memberontak.


"Jangan pernah berani bermain lagi dengan adikku. Kau hanya gadis miskin, anak pelayan dan tidak pantas bermain dengan kami. Apa kau tidak pernah mendengarkan ucapan yang sering aku katakan tentang perbedaan status? Hah!''


"Ampun Pangeran.. Maafkan saya, saya berjanji tidak akan bermain lagi dengan Pangeran Andra," rintih Sekar sembari memegangi tangan Pangeran yang ada di dagunya.


Pangeran langsung menghempaskan kasar dagu Sekar. "Sepertinya aku harus mencuci tanganku dengan bunga selama tujuh hari berturut-turut." Pangeran mengibaskan tangannya yang tadi tersentuh oleh Sekar.


Sekar hanya meneteskan air mata, betapa sakit hatinya ketika Pangeran mengatakan seperti itu. Sementara Pangeran, dia hanya tersenyum miring melihat air mata yang menetes di pipi Sekar. Pangeran mendorong Sekar dan langsung pergi dari tempat itu.


Sekar terjatuh dan hanya mampu meratapi nasibnya. "Hiks.. Aku tau aku miskin dan hanya anak seorang pelayan, tapi apa aku sekotor itu hingga Pangeran harus mencuci tangannya dalam jangka waktu yang lama? Ayah.. Ibu.." Sekar menundukkan kepala dan berusaha untuk bangkit.


Kaki seseorang menginjak boneka Sekar dan Sekar langsung mendongak.


Terlihat Putri Elif tersenyum dengan remeh. "Kau mau mengambil boneka jelek itu? Ayo ambil."


"Singkirkan kaki anda dari boneka saya, Tuan Putri." pinta Sekar dengan memelas.


"Ck ck! Kasihan sekali," Putri Elif menyingkirkan kakinya dan tersenyum tipis.


Sekar berdiri dengan memeluk boneka jelek nya.


"Aku tadi tidak sengaja melihatmu yang diperlakukan kasar oleh Pangeran Abiyaksa. Bagaimana rasanya? Apa kau sudah sadar diri akan siapa dirimu sebenarnya?" Putri Elif melipat kedua tangan di depan dada.


"Maaf, Tuan Putri. Saya harus pergi, permisi.." Sekar bicara dengan sopan dan langsung pergi dari hadapan Elif.


Putri Elif hanya ternganga melihat keberanian Sekar yang langsung pergi tanpa menjawab pertanyaannya. "Sial! Berani sekali dia pergi begitu saja," geram Putri Elif dan pergi dari tempat itu dengan membawa kekesalannya.





**Pangeran Abiandra (Kecil)




TBC


HAPPY READING AND HAPPY WEEKEND.. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH 🙏🏻😘**