
Pangeran Alvaro menatap ke belakang Santika, terlihat sebuah angin kencang disertai abu dan banyak barang-barang lain berterbangan.
"SANTIKA AWAS!!!" teriak Pangeran hingga urat lehernya menegang.
BOM!
Bom susulan pun datang.
Brugh!
Santika terjatuh dengan Pangeran yang berada di atas nya.
"Santika, apa kau baik-baik saja?" ucap Pangeran ketika sembari menegakkan tubuhnya.
Pipi Santika menjadi merona sebab Pangeran menatapnya dan bertanya dengan nada khawatir.
"Kau mengkhawatirkan ku, hm?" Santika mengedipkan sebelah mata.
"Ck! Aku sedang serius, kau terkena percikan Bom susulan. Apa tidak ada yang sakit? Atau terluka?" Pangeran menatap wajah cantik Santika.
"Aw.. Iya, kaki ku sakit Pangeran.. Sepertinya kau harus menggendongku." ucap Santika manja.
"Dasar! Kau ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, sebaiknya kau jalan sendiri atau aku akan meninggalkan mu sendirian di tempat ini." ujar Pangeran Alvaro dengan nada kesal.
"Baiklah, setidaknya kau bisa membantu ku berdiri." Santika mengulurkan tangan sebelah kanannya.
"Ck!" Pangeran berdecak kesal dan menarik tangan Santika untuk membantunya berdiri.
"Kakak!" teriak Kayla berjalan cepat menghampiri Santika.
"Putri hati-hati," Pangeran Eric khawatir dan takut jika Kayla terjatuh.
"Kakak, apa kau baik-baik saja?" Kayla memeriksa seluruh tubuh Santika dengan cara memutar dan memegang pundaknya.
"Ya Tuhan.. Wahai adikku tersayang, aku baik-baik saja dan jangan membuatku menjadi pusing karena kau memutar tubuh ku terus-terusan.."
Kayla tersenyum tipis. "Maafkan aku,"
Prok! Prok! Prok!
Terdengar suara tepukan tangan, dan semua itu membuat mereka berempat menoleh.
"Paman Derrick!" seru Pangeran Eric dan Pangeran Alvaro bersamaan.
"Kalian berdua, mundur-lah." Pangeran memberi aba-aba kepada Kayla dan Santika.
Dua wanita itu mundur ke belakang hingga jauh.
"Bagaimana kejutan dari ku, Pangeran?" Paman Derrick tersenyum sumringah.
"Kau sudah mencelakai seseorang yang tidak bersalah!" teriak Pangeran Eric marah.
"Memangnya mengapa? Apa kau merasa keberatan? Itu belum seberapa Pangeran, karena aku akan menghabisi kalian berdua." ucap Paman dengan geram.
SERANG!
Mulailah terjadi perkelahian antara Kerajaan Selatan dan Kerajaan Barat Daya.
"Kau yang memulai ini semua, Paman. Jadi maaf jika kau tidak bisa selamat nanti jangan menyalahkan aku atau kakakku." Pangeran Eric menatap tajam Paman Derrick.
"Haha.." Paman tertawa mengejek. "Cih! Kau jangan terlalu PD, Pangeran. Ayo kita buktikan siapa yang akan mati terlebih dahulu," Paman mulai menarik pedang dari tempatnya.
Bugh!
Dugh!
Cring!
Sret*!
Bunyi dari perkelahian mereka, ada yang tiada dan terluka parah. Untuk saat ini posisi menang masih ditangan Kerajaan Barat Daya karena mereka masih banyak yang hidup.
"Menyerah- lah sebelum kami menghabisi kalian semua!!!" teriak Jack dengan tegas.
Para prajurit Kerajaan Selatan tidak mau mendengar dan mereka mulai melakukan penyerangan kembali.
Sret!
Bahu Pangeran Eric terkena goresan pedang tajam nan panjang milik Paman.
Paman yang melihat itu tersenyum puas. "Aku akan membalaskan dendam atas kematian keponakanku, kau tidak punya rasa kasihan ketika membunuh keponakanku dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah kau lakukan!" Paman mulai menyerang Pangeran Eric kembali.
Bugh!
"Argh.." Paman menendang kaki Pangeran hingga Pangeran jatuh ke tanah.
Dengan senyum remeh, Paman berjalan angkuh menghampiri Pangeran Eric yang mencoba untuk bangun.
"Apa kau tidak ingin mengucapkan salam perpisahan?" Paman tersenyum miring.
"Cih! Percaya dirimu sangat tinggi sekali, Paman. Aku adalah Pangeran Eric dan aku tidak akan mudah menyerah begitu saja," Pangeran mulai melakukan penyerangan kembali meskipun darah terus mengalir di bahunya.
Pangeran Alvaro sendiri menghadapi panglima perang Kerajaan Selatan.
"Kau adalah Pangeran, tetapi ilmu beladiri mu masih seujung kuku." ucap Panglima dengan senyum sinis.
"Kau tidak perlu banyak bicara, Panglima. Mari hadapi aku dan kita lihat siapa yang mempunyai ilmu beladiri seujung kuku," Pangeran Eric mulai mengarahkan senjatanya ke perut Panglima.
Sementara dari kejauhan.
"Leona, aku sangat takut.." Santika bersembunyi di belakang tubuh Kayla.
'ck! Apa-apaan kak Santika, bisa-bisanya dia bersembunyi di belakang ku seperti ini, apa dia pikir aku adalah tembok?' Kayla menjadi kesal karena kelakuan sang kakak sepupu.
Dua orang prajurit kerajaan Selatan menghampiri Kayla dan Santika.
"Mau apa kalian!" teriak Kayla dengan tegas.
Kedua prajurit itu tidak menjawab dan hanya saling pandang, mereka tersenyum sinis lalu kemudian mulai berjalan semakin mendekat ke arah Kayla dan Santika.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
TERIMAKASIH UNTUK YANG SELALU MENDUKUNG, I LOVE YOU SEKEBON 🌹 ALL 🙏🏻🙏🏻**