
Raja Faris menghempaskan tangan Aurora dengan kasar.
"Raja, aku mohon percayalah padaku. Aku dijebak dan aku tidak tau menahu masalah ramuan itu," Aurora terisak.
"DIAM!" bentak Raja dengan suara meninggi. "Kau sudah berani membohongiku, Ratu! Bukti sudah ada dan kau malah berkilah, mulai sekarang aku akan memberikan hukuman padamu agar kau berada disini."
Aurora menggeleng. "Aku tidak mau, aku takut.." lirik Aurora lemah.
Raja berjongkok di samping Aurora. "Bersedia atau tidak, kau harus tetap berada di tempat ini." Raja mencengkram dagu Aurora dengan kuat. "Aku juga akan melakukan hubungan badan denganmu ditempat ini, jika kau tidak hamil-hamil maka bersiaplah untuk mendapatkan hukuman yang lebih perih dari sekarang." Raja menghempaskan kasar dagu Aurora.
Raja berpikir jika dia melakukan hubungan dengan Aurora di gudang itu, pasti Aurora tidak akan berani mengkonsumsi ramuan apapun lagi sebab Raja akan mengunci gudang itu dan dia akan memerintahkan beberapa prajurit untuk berjaga-jaga di depan gudang tersebut agar Aurora tidak kabur.
"Aku akan keluar dan nanti malam akan kembali lagi ke tempat ini. Persiapkan dirimu untuk terkena bantai'an ku," ucap Raja lalu pergi meninggalkan Aurora yang menangis sendirian.
Raja menutup pintu dengan kasar dan menguncinya dari luar, kunci itu hanya satu dan Raja saja yang punya.
"Hiks.. Ibu, aku ingin bersama Ibu" lirih Aurora dengan air mata yang menetes deras.
🌿
🌿
🌿
Pangeran Eric kembali ke kamar dengan nafas terengah.
''Tuan Putri, bersabarlah.." Pangeran duduk di tepi ranjang sembari mengelus kepala Kayla.
"Aku sudah tidak tahan, Pangeran.." lirih Kayla dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Pintu kamar terbuka dan terlihat dukun beranak perempuan masuk ke dalam kamar.
"Permisi, Paduka. Saya ingin melihat kondisi Ratu terlebih dahulu," ucap dukun beranak itu.
Pangeran menyingkir dan memberikan ruang pada dukun beranak tersebut agar memeriksa Kayla.
"Pembukaan sudah sempurna, Ratu. Anda hanya perlu mengikuti aba-aba dari saya," ucap dukun beranak- Bibi Misha.
Kayla hanya mengangguk pasrah.
Bibi Misha mulai menekuk kedua kaki Kayla dan Pangeran Eric bergegas keluar dari kamar untuk memberikan tugas pada prajurit agar mencegah siapapun yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
"Baik, Yang Mulia. Dalam hitungan ketiga Yang Mulia harus mengejan, apa Yang Mulai Ratu tau seperti apa mengejan?" tanya Bibi Misha.
"Satu.. Dua.. Tiga.. Dorong, Ratu"
Kayla mulai mengejan dengan sekuat tenaga, keringat membasahi dahinya dan Pangeran Eric duduk di ranjang sebelah Kayla.
"Pangeran.." lirih Kayla dengan mata sayu, sudah beberapa kali dia mengejan tetapi tidak ada hasil, belum ada tanda-tanda bayinya akan keluar.
"Putri, kau harus bertahan. Ingat aku dan anak kita masih membutuhkan mu," Pangeran mengecup lembut dahi Kayla.
Rasa sakit itu kembali menjalar di seluruh tubuh Kayla, dengan sekuat tenaga Kayla mengejan dan lahirlah bayi mereka dengan selamat.
"Oek.. Oek.." suara tangisan bayi terdengar menggelegar di dalam kamar diiringi dengan suara petir.
"Pangeran," Kayla tersenyum tipis dengan nafas yang terengah.
"Putri, lihatlah bayi kita sudah lahir.." Pangeran tersenyum bahagia dengan mengecupi kepala Kayla berkali-kali.
Bibi Misha membersihkan darah yang ada di tubuh bayi Pangeran dan Kayla.
"Aw.." Kayla memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan.
•
•
**Ayah Eric ❤❤
•
•
TBC
HAPPY READING DAN SAMPAI JUMPA DI BAB BERIKUTNYA, JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN ❤
assalamualaikum
terimakasih 🙏🏻🙏🏻**