
Satu bulan kemudian.
Kayla yang baru bangun dari tidur nya langsung berlari menuju kamar mandi.
"Hoek.." Kayla memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Akh, kenapa kepala ku pusing sekali?" gumam Kayla seraya menyandarkan tubuh di dinding serta memegangi perut dan kepalanya.
"Eugh.." Pangeran menggeliat di dalam selimut. Dirinya memiringkan badan guna memeluk tubuh sang sang istri.
Tangan Pangeran meraba-raba di ranjang sebelah nya. Perlahan mata Pangeran terbuka dan dia terkejut karena tidak mendapati sang permaisuri.
"Dimana Leona?" gumam Pangeran dengan suara serak khas bangun tidur.
Mata Pangeran terhenti di pintu kamar mandi.
"Hoek.."
Suara Kayla terdengar hingga Pangeran langsung melompat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi masih dengan bertelanjang dada.
"Tuan Putri?" Pangeran bergegas menghampiri Kayla yang terlihat lemas.
"Pangeran, kau sudah bangun?" ucap Kayla lemah.
"Ada apa? Mengapa wajahmu pucat sekali?" Pangeran menatap wajah Kayla yang memang tampak pucat.
Kayla menggeleng dan tersenyum, dia tidak ingin membuat sang suami khawatir.
"Jangan berbohong Putri, wajahmu benar-benar sangat pucat. Apa kau sakit?" Pangeran memegang dahi Kayla.
"Bagaimana? Apa menurutmu aku sakit?" Kayla menggenggam tangan Pangeran.
"Tidak panas. Aku tadi mendengar mu yang mual-mual, aku rasa kau kelelahan atau masuk angin."
"Ya, aku masuk angin karena setiap hari harus mandi bersama denganmu." Kayla terkekeh pelan.
"Kau bercanda, Putri. Aku sangat khawatir karena melihat wajah mu yang pucat seperti ini".
"Kau tidak perlu khawatir, Pangeran ku. Aku baik-baik saja, percayalah." Kayla membelai pipi sebelah kiri Pangeran.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita keluar." Pangeran menuntun Kayla keluar dari kamar mandi.
Namun baru juga melangkah, tubuh Kayla oleng dan dia jatuh pingsan.
"Tuan Putri!" pekik Pangeran terkejut. "Putri, Putri Leona bangun!!" Pangeran menepuk sebelah pipi Kayla sementara tangan sebelah Pangeran menahan tubuh Kayla agar tidak terjatuh ke lantai.
Pangeran segera menggendong tubuh Kayla ala bride style dan membawa Kayla menuju ranjang.
"Kau tunggu disini, aku akan memerintah prajurit untuk memanggil tabib." Pangeran berbicara pada Kayla yang kala itu masih pingsan .
Pangeran bergegas memakai kembali pakaian dan topengnya lalu keluar dari kamar untuk segera memerintah prajurit agar memanggil tabib.
☸
☸
☸
Di kerajaan Utara.
"Kau tau, kau itu hanyalah selir dan kau tidak pantas menguasai Raja sendirian." bentak wanita itu dengan kasar.
"Argh, ampun Ratu.. Ini sangat sakit," rintih Aurora dengan menahan sakit di rambutnya.
Brugh!
Tubuh Aurora jatuh ke lantai karena Ratu Megantari mendorongnya dengan kencang.
"Sekali lagi kau berani menghasut atau menguasai Raja, maka aku pastikan kau tidak akan lagi melihat indahnya matahari pagi." Ratu Mengantari langsung pergi dari hadapan Aurora.
"Hiks.. Hiks.. Ya Tuhan, mengapa hidup ku jadi seperti ini?? Aku tidak sanggup, aku ingin mati.." Aurora memukul dadanya yang terasa sesak.
Ratu Megantari merupakan Istri pertama dari Paduka Raja Faris yang sangat membenci Aurora karena semenjak menikah dengan Aurora, Paduka Raja tidak pernah lagi bermalam dengannya.
Paduka bahkan tega memukul Ratu Megantari sewaktu sang Ratu menjelek-jelekkan serta memfitnah Aurora di depan sang Raja.
Istri kelima Raja yang bernama Ratu Tessa datang menghampiri Aurora yang tengah menangis sembari memeluk lututnya sendiri.
"Ratu.." seru Ratu Tessa ketika berada di ambang pintu kamar Aurora.
Aurora mendongak dan segera menghapus air matanya.
"Apa aku boleh masuk?" ucap Ratu Tessa dengan lembut.
Aurora mengangguk pelan.
"Ayo berdiri," Ratu Tessa membantu Aurora berdiri dari duduknya.
Mereka berdua duduk di tepi ranjang.
"Apa yang telah Ratu Megantari lakukan padamu?" Ratu Tessa bertanya dengan nada lembut karena memang sifat Ratu Tessa sangat lembut serta penyayang.
"Hiks.." Aurora tidak sanggup menceritakan apa yang selama ini Ratu Megantari lakukan padanya.
"Kau harus sabar, Ratu. Aku ada bersamamu, meskipun aku tidak selalu bisa menolong mu kala Ratu Megantari berbuat kasar." Ratu Tessa mengelus pundak Aurora sebab saat ini Aurora tengah memeluknya.
Pelukan pun terurai.
"Terima kasih banyak karena Ratu sudah mau menjadi teman ku di Istana ini, aku tidak tahu jika tidak ada Ratu entah apa yang akan terjadi padaku." Aurora tersenyum tipis.
"Aku juga pernah merasakan seperti apa yang Ratu rasakan. Bahkan lebih parah, hingga Raja pun pernah menghukum ku dengan cara mengurung di tempat yang sangat gelap dan juga mencambuk ku." Ratu Tessa mengungkapkan keadaanya sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Istana.
"Se-kasar itu?" Aurora pun ikut iba ketika mendengar curahan Ratu Tessa.
Ratu Tessa mengangguk. "Dulu sama sekali tidak ada yang menjadi penolongku sewaktu Raja ataupun Ratu lainnya menyiksaku."
"Aku sangat bersyukur sebab ada Ratu yang selalu menjadi tameng disaat aku terpuruk dan mendapat perlakuan kasar yang akan Raja lakukan." Aurora kembali memeluk tubuh Ratu Tessa.
"Sama-sama. Aku yakin kau akan terbiasa menjalani semua ini, semoga saja Raja bisa memberikan pelajaran kepada Ratu lainnya yang selalu berbuat kasar.''
Aurora mengangguk dan mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.
•
•
TBC