Lady Devil

Lady Devil
PROMO NOVEL BARU



O halo semuanya 🤗


Assalamualaikum


Syalom


Dan salam sehat untuk kita semuanya 🤗


Hari ini OTHOR mau promosikan novel terbaru yang bab nya sudah tidak sedikit, mohon dukungan dan jangan lupa selalu meninggalkan jejak setelah selesai membaca 🙏


Terima kasih untuk kalian semua yang selalu menjadi obat semangat bagi Othor, semoga Allah membalas segala dukungan kalian dengan rezeki yang berlimpah.


AMINN



Satu minggu kemudian.


Tidak ada perubahan dalam rumah tangga Airin dan Eza, hingga saat ini Airin masih saja bersikap dingin dan tidak menganggap Eza sebagai suaminya.


Mereka sekarang telah memiliki rumah sendiri yang tak jauh dari kota, Eza terpaksa pindah ke kota karena Airin mengatakan jika dirinya tidak bisa meninggalkan perusahaan yang telah dibangun susah payah oleh almarhum sang Ayah. Ibu Murni pun memahami kesibukkan Airin dan dia mengizinkan Eza untuk ikut bersama istrinya.


"Rumah ini saya beli menggunakan uang saya sendiri, jadi Anda tidak perlu terlalu mengekang saya ketika saya pulang larut malam ataupun pergi tanpa izin Anda."


"Saya adalah suamimu, surgamu ada di telapak kaki saya. Bukan hanya menurut Negara saja kamu sah menjadi milik saya tetapi juga dimata Allah jika kamu sudah sah menjadi bagian dari hidup saya." balas Eza ketika Airin mengatakan tentang status.


"Tapi saya tidak akan pernah menganggap Anda sebagai suami!" Titah Airin tdiak terima.


"Seberapa besar kamu menolak saya tetapi kenyataannya tetaplah kenyataan, tidak akan bisa di pungkiri.''


Airin yang kesal karena ucapan Eza akhirnya pergi keluar dari kamar.


"Argh!" Airin berteriak ketika dia sudah berada di halaman belakang rumah.


"Kenapa aku harus terjebak dengan pria itu? Dia bukanlah Mas Ezra, dia hanya bayangan yang sangat mirip dengan Mas Ezra dan memiliki watak yang jauh berbeda." Airin mengusap wajahnya frustasi.


"Aku harus bisa membuat pria itu mengucapkan kata talak agar aku bisa terbebas darinya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai suami apalagi sampai mencintainya."



Sementara Anisa hanya diam saja sambil terus menatap Ammar.


"Aku datang kesini untuk meminta pertanggungjawaban." ucap Nisa tanpa ingin berbasa-basi.


Glek!


Ammar meneguk Saliva nya dengan kasar. 'Apa maksud perempuan itu?'


Anisa berjalan mendekati Ammar.


Setelah berada di dekat Ammar, dirinya mengeluarkan semua bukti yang dia letakkan di dalam tas.


Ammar terkejut karena Anisa melemparkan amplop berwarna cokelat ke wajahnya.


"AKU HAMIL!" teriak Anisa tidak mau kalah.


Amir, Aresha, Amman dan Audrey membolakan mata mereka karena mendengar penuturan dari Anisa.


"H—hamil?"ucap Aresha dengan lirih.


Tubuh Aresha terhuyung ke belakang, untung saja Amir menangkapnya sehingga Aresha tidak jatuh ke lantai.


Ammar membuka amplop itu dengan terburu-buru. Dia membaca kertas yang tadi berada di dalam amplop, matanya mendelik ketika Anisa dinyatakan positif hamil.


"Aku ingin meminta pertanggungjawaban!" teriak Anisa kedua kalinya.


Ammar menatap Anisa dengan tajam, dia merobek kertas itu dan melemparnya ke udara.


"Aku tidak akan menikahimu!" sahut Ammar dengan yakin.


Anisa terkejut dengan jawaban Ammar meskipun dia awalnya yakin jika Ammar pasti tidak akan bersedia bertanggungjawab.


Plak!


Aresha menampar pipi Ammar, matanya memerah dan darahnya naik mendidih. "Mudah sekali kamu mengatakan itu Ammar! Apa kamu tidak berpikir bagaimana kondisi Anisa jika kamu tidak bertanggungjawab? Mama gak nyangka ternyata kamu lelaki yang egois dan jahat!" teriak Aresha dengan penuh emosi.


Ammar hanya diam.


Bugh!


"Dasar brengsek!" Amman tidak dapat mengendalikan emosi dan dia melayangkan tinjuan ke wajah Ammar.


"Mengapa kau memukulku?" Ammar membentak sang kakak.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Anisa? Kau benar-benar keterlaluan, Ammar! Kau pengecut! Sialan!" Amman menatap Ammar dengan mata merah menyala.


Anisa hanya menangis saja begitupun dengan Audrey.


"Apa urusanmu, hah! Jika kau keberatan dengan keputusanku, maka kau saja yang menikahi wanita itu!" Ammar tidak mau kalah.


"Ya, akulah yang akan menikahi Anisa!" jawab Amman tanpa berpikir panjang.


Audrey menatap Amman dengan rasa tidak percaya, dadanya terasa sesak ketika Amman masih tetap memutuskan untuk menikahi Anisa.


Plak!


Plak!


Amir menampar pipi kedua Putranya dengan sangat kuat, hingga keluar darah dari sudut bibir keduanya.


🌺🌺🌺🌺


UNTUK KELANJUTANNYA SILAHKAN KE LAPAK LANGSUNG 🤗 JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SEPERTI ***LIKE, KOMENTAR, HADIAH, RATE 🌟 5, DAN TAP FAVORIT 🥰


SEE YOU NEXT NOVEL, BYE BYE ❣️❣️***