
Kelopak mata yang dipadu dengan bulu mata lentik milik Putri Leona berkedut perlahan
"Argh.." lenguhan lemah keluar dari bibir mungil milik sang Putri.
Pangeran Eric yang setia menjaga permaisurinya langsung mendongak dan menatap wajah Putri Leona dengan seksama.
Kelopak mata itu terbuka sempurna hingga terlihatlah bola mata nan biru bening milik sang Putri bergulir kesana-kemari.
"Dimana aku?" gumamnya pelan.
"Putri, kau sudah sadar?" Pangeran mendekatkan wajahnya ke wajah sang Putri.
"Pangeran?" ucapnya gugup.
Pangeran mengangguk. "Bagaimana, apa yang kau rasakan?" Pangeran mengecup lembut punggung tangan Putri Leona.
"Tidak ada, aku hanya merasa sedikit pusing."
"Kau tau, kau itu sangat membuat aku khawatir. Lihatlah, dari pagi kau pingsan dan sadar malam hari. Aku sudah memanggil tabib dan tabib juga sudah memeriksa keadaanmu."
"Apa aku tidak mimpi? Dan masih berada di kerajaan?" Kayla menatap ke sekeliling kamar.
"Tentu, Yang Mulia Ratuku. Kau masih berada si Istana, memangnya apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku pikir aku sudah berada di pangkuan Tuhan." Kayla terkekeh pelan dan berharap semua ini bukanlah mimpi atau khayalannya.
"Kau masih berada di Istana, dan kau baik-baik saja. Lihat aku, aku suamimu dan sekarang kau berada di kamarmu.." jelas Pangeran dengan lembut.
Kayla tersenyum tipis. 'Ya Tuhan, syukurlah akhirnya aku bisa kembali lagi kedalam raga Putri Leona. Meskipun aku tidak bisa berkumpul dengan keluargaku, tapi setidaknya aku bisa selalu bersama dengan pria yang ku cintai,' batin Kayla sembari menatap Pangeran.
"Putri, ada apa? Kau terlihat aneh, mengapa sedari tadi aku melihatmu seperti tengah memikirkan sesuatu?" Pangeran semakin khawatir.
Kayla menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Pangeran ku."
"Oh syukurlah, kau jangan terlalu banyak pikiran karena itu bisa mempengaruhi bayi yang ada dalam kandungan mu."
Kayla mengerutkan dahi karena heran dengan apa yang Pangeran katakan. "Bayi? Bayi apa, Pangeran?"
Pangeran terdiam sejenak dan kemudian tersenyum manis. "Ya, tabib mengatakan alasan dirimu mual-mual adalah karena penyebab kehamilan pertama dan saat hamil muda."
"Maksudmu, aku hamil?" pekik Kayla dengan mata membola.
Pangeran mengangguk senang. "Disini.." Pangeran memegang perut Putri Leona yang masih rata. "Ada calon anak kita, tabib mengatakan usianya baru menginjak empat minggu dan kau tidak boleh terlalu lelah ataupun banyak pikiran."
Kaya tersenyum senang mendengarkan setiap ucapan Pangeran, dia tidak menduga kejadian bahagia ini akan menghampirinya. 'Aku sudah berjanji untuk membuat hidup Putri Leona bahagia, dan sekarang semuanya sudah tercapai, hanya saja aku ingin meminta maaf karena sepertinya akulah yang ditakdirkan untuk hidup bersama Pangeran dan menjadi Putri Leona seutuhnya.' batin Kayla.
Kayla memeluk tubuh Pangeran dan Pangeran pun membalasnya dengan senang hati.
"Terima kasih atas segalanya," Pangeran mengecup dahi Kayla.
"Kau tidak perlu berterimakasih, Pangeran. Ini adalah takdirmu.."
"Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seorang suami sekaligus seorang Ayah. Aku pikir aku akan hidup sendirian seumur hidup karena diriku yang cacat dan tidak ada satupun wanita yang mau mencintai ku dengan tulus. Tapi aku salah, kau datang dengan segala sesuatu yang mampu membawa perubahan dalam hidupku, memberi warna hari-hariku dan menyadarkan bahwa tidak semua orang harus dihukum dalam keegoisanku." Pangeran menempelkan dahinya di dahi Kayla hingga hidung mereka saling bertubrukan.
Mereka berdua saling melempar senyum.
Kayla teringat akan bisikan itu.
Kembali
Kembali
Kembali
Itulah yang dikatakan oleh bisikan gaib sewaktu Kayla berada di pemakaman, dunia seakan berputar dan akhirnya Kayla jatuh pingsan lalu saat terbangun dirinya sudah kembali ke dalam tubuh Putri Leona Virgiano.
☸
☸
☸
Keesokan paginya.
Kayla terbangun seperti biasa, dengan rasa mual yang melanda di perutnya.
"Hoek.." lagi dan lagi Kayla memuntahkan segala isi perutnya.
"Sampai kapan ini akan berakhir?" Kayla mencuci mulutnya yang sehabis muntah.
Dengan langkah gontai dan perlahan, Kayla keluar dari kamar mandi menuju ranjang.
"Tuan Putri," sapa seorang asisten pribadi yang kala itu sudah berdiri di ambang pintu.
Kayla menoleh dan mengangguk. "Masuklah,"
Asisten pribadi Kayla yang bernama Ghea masuk ke dalam kamar dan menghampiri Kayla.
"Apa Tuan Putri menginginkan sesuatu?"
Pertanyaan itulah yang setiap hari, jam, menit dan detik Kayla dengar.
"Tapi itu semua perintah dari Pangeran Eric, Tuan Putri." Ghea menunduk sopan.
"Ya aku tau, tapi seharusnya tidak setiap waktu karena aku bosan mendengarkannya."
"Maaf, Tuan Putri."
"Hm." sahut Kayla singkat. "Aku sangat bosan berada di Istana setiap hari, aku ingin jalan-jalan tapi bingung mau kemana." ujar Kayla dengan memeluk bantal.
"Apa anda lupa ini tanggal berapa?"
Kayla menatap Ghea sang asisten pribadi dengan rasa penasaran. "Tentu saja aku ingat, ini tanggal 31 September. Memangnya ada apa?"
"Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun Kerajaan." ucap Ghea yang memang sudah lama tinggal di Kerajaan timur.
"Benarkah? Mengapa aku bisa lupa," Kayla berbohong karena sebenarnya dia memang tidak tahu menahu.
"Benar, Tuan Putri. Saya tidak mungkin berbohong, apa Tuan Putri ingin pergi melihat perayaan itu?" tawar sang asisten.
"Em.. Boleh, tapi aku harus pamit terlebih dahulu kepada Pangeran."
"Silahkan, Tuan Putri. Saya permisi," Ghea pergi dari kamar Kayla.
Kayla beranjak dari ranjang dan bersiap untuk pergi ke perayaan.
Beberapa menit kemudian, Kayla keluar dari kamar dan dia sudah menggunakan gaun berwarna gold dengan bawahan yang mengembang, rambut bergelombang terurai sempurna di tambah pernak pernik yang menempel di kepala Kayla dan jangan lupakan kalung liontin berbentuk angsa serta gelang perak yang sangat indah.
"Aku akan memakai Liontin yang Pangeran berikan waktu itu." Kayla tersenyum sembari memandangi Liontin nya dan kemudian berjalan menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Kayla menghampiri seorang prajurit. "Apa kau melihat Ghea?"
"Ghea sedang berada di kamarnya, Tuan Putri." sahut prajurit itu.
"Bisa tolong panggilkan? Katakan padanya bahwa aku menunggu di kereta,"
"Baik, Tuan Putri." prajurit mengangguk paham.
Kayla pun melangkah pergi keluar dari Istana dan prajurit pergi ke kamar Ghea.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa bertanya dimana Pangeran? Sedari tadi aku tidak melihatnya,'' gumam Kayla merutuki kelupaan nya.
"Tunggu!" sebelum melangkah masuk ke dalam kereta, Kayla menghentikan maid yang lewat di depannya. "Apa kau melihat dimana Pangeran?"
"Dari pagi buta tadi Pangeran sudah pergi bersama dengan beberapa prajurit dan Panglima Jack, Tuan Putri." ucap maid sopan.
"Kemana mereka?" lirih Kayla pelan. "Baiklah, jika Pangeran pulang nanti kau bisa katakan padanya bahwa aku pergi ke perayaan bersama dengan Ghea."
"Baik, Tuan Putri."
"Ya sudah, kau bisa pergi." lanjut Kayla.
Maid pun pergi dari hadapan Kayla dan Kayla langsung masuk ke dalam kereta ketika melihat Ghea yang telah berjalan ke arahnya.
*
Sementara di perayaan.
"Pangeran, mengapa anda tidak mengajak Tuan Putri datang melihat perayaan ini? Saya yakin beliau pasti akan sangat senang karena bisa melihat perayaan yang jarang terjadi ini."
"Aku sengaja tidak mengajaknya, Jack. Para rombongan Kerajaan Selatan pasti akan datang ke perayaan ini untuk menghancurkan segala kegembiraan para rakyat." Pangeran menjelaskan alasannya karena tidak mengajak Kayla.
"Apa anda se' yakin itu?"
Pangeran mengangguk. 'Tentu saja aku yakin Jack, karena Paman Nando sudah mengirimkan surat bahwa dia akan menghancurkan kegembiraan semua orang dalam merayakan hari ulang tahun Kerajaan. Dia ingin membalaskan dendam karena aku sudah membunuh keponakannya yaitu Raja Glend.' batin Pangeran terus memantau setiap pergerakan masyarakat yang mengikuti perayaan itu.
•
**Prince Eric ❤
•
•
TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA
JANGAN LUPA DUKUNGAN SERTA JEJAKNYA, TERIMAKASIH 😘
🍎🍎🍎🍎🍎🍎
MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR YUK**