Lady Devil

Lady Devil
Bab 15 LADY DEVIL



Raja Ahmad mendekat ke arah Pangeran Eric. ''Siapa yang mengundangnya datang ke acara ini?" Raja menunjuk Pangeran Eric.


Pangeran hanya diam saja dan memasang wajah datar. Dari dulu memang Raja Ahmad tidak menyukainya, bahkan tidak menginginkan kelahirannya di dunia.


"Ayah, sudahlah. Jangan seperti ini, sudah lama Eric tidak bertemu dengan kita semua." ucap Pangeran Alvaro mencoba menenangkan Ayahnya.


"Tapi Ayah malu, Al. Ayah tidak ingin jadi bahan gunjingan para tamu nantinya jika anak itu tiba-tiba mengamuk."


"Jika Ayah tidak ingin hal seperti itu terjadi, maka Ayah jangan memancing emosi Er." ucap Pangeran Alvaro.


"Baiklah, aku akan membiarkan kau berada disini. Tapi itu semua bukan berarti aku ingin menerimamu, kau tetaplah pembawa sial dan pembunuh Istriku." ucap Raja Ahmad tajam.


Kayla melongo tidak percaya. 'Sekejam itu? Apakah seperti itu perkataan Ayah kepada anaknya?' batin Kayla sedih.


Kayla yang memegang kursi roda mengeratkan pegangannya.


"Aku ingin pulang!" ucap Pangeran Eric.


"Tapi Pangeran acaranya—" ucapan Kayla terpotong karena Pangeran Eric dengan cepat menyelanya.


"AKU BILANG AKU INGIN PULANG! Apa kau tuli? Kau masih mau berada ditempat ini? Tempat yang tidak seharusnya kau datangi dan tidak diinginkan kedatangannya." bentak Pangeran kasar pada Kayla.


Semua mata menatap ke arah Pangeran. Kayla merasa situasi mulai tidak bisa dikondisikan. Kayla ingin membuka mulut tetapi Pangeran terlebih dulu mengangkat suara.


"Jika kau masih mau berada di tempat ini silahkan! Tapi tidak dengan ku." Pangeran memutar kan kursi rodanya sendirian.


"Pangeran!" Kayla berteriak. "Ayah, Ayah mertua, Pangeran Alvaro, saya permisi untuk mengejar Pangeran Eric terlebih dulu." Kayla berpamitan. Dia berjalan pelan sembari menjinjing gaunnya, ketika melewati Aurora dan Ratu Elisabeth, Kayla melihat senyum mengejek dari bibir Aurora. Kayla tidak memperdulikan senyuman itu, dia tetap berjalan hingga...


BYUR


Kebetulan halaman samping Istana ada kolam renang, dan di tempat itulah Kayla berada. Kayla tercebur di kolam renang, Aurora dengan sengaja mengulurkan kakinya hingga Kayla tersandung dan masuk ke dalam kolam.


"Tolong!" teriak Kayla sembari melambaikan tangannya sebab dia tidak bisaa berenang.


Aurora tersenyum puas. 'Mampus! Rasakan itu tikus kecil'


"To—" ucapan Kayla tidak lagi diteruskan karena begitu banyak air yang terminum olehnya.


Pangeran Alvaro dengan cepat membuka jubah hitam dan sepatunya, dia telah bersiap untuk menolong Kayla. Tetapi baru juga ingin mengambil ancang-ancang berenang, seseorang terlebih dahulu sudah masuk ke dalam kolam tersebut.


Semua mata tertuju ke kolam renang.


Pangeran Eric yang mendengar suara teriakan Kayla langsung menoleh dan tanpa sadar dia berdiri dari duduknya lalu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Dia keluar dari kolam sembari menggendong tubuh Kayla ala bride style. Pangeran terus berjalan dan melewati keluarganya juga Aurora yang melongo tidak percaya.


'Kenapa dia sangat gagah sekali jika seperti itu' batin Aurora mengagumi.


Pangeran berjalan keluar dari pintu samping Istana, dia membopong tubuh Kayla yang sedang pingsan.


"Jack! Kau tidak perlu mengambil kursi roda yang berada di dalam. Belikan saja nanti yang baru untukku" Pangeran langsung masuk ke dalam kereta kencana.


Jack menunduk hormat lalu mengikuti sang Pangeran masuk ke dalam kereta kencana. Kereta kencana pun melaju meninggalkan Istana.


Sementara di dalam istana.


"Bu, aku rasa Pangeran Eric berpura-pura lumpuh. Buktinya dia tadi bisa berdiri" ucap Aurora berbisik.


"Entahlah, Putriku. Ibu juga tidak tau, tapi Ibu berdoa bahwa pangeran itu memang lumpuh. Ibu tidak sudi melihat Leona hidup bahagia" balas Ratu Elisabeth.


Pangeran Alvaro masih terdiam sembari mengingat kejadian tadi, bagaimana adiknya bisa berdiri dan menolong Leona. 'Bagaimana bisa? bukankah Eric lumpuh'


Tidak hanya Aurora dan Alvaro saja yang berpikir, Raja Ahmad beserta seluruh tamu juga banyak sekali berpikiran tentang Pangeran Eric, mereka menduga bahwa pangeran adalah seseorang yang misterius. Bahkan mereka semua tidak pernah melihat wajah Pangeran sekalipun itu Alvaro atau Raja Ahmad.





Pangeran Eric segera turun dan menatap Kayla yang masih berada di dalam kereta kencana. Entah kenapa hatinya merasa sakit dan dia merasa bersalah ketika melihat Kayla yang meminta tolong dan tercebur ke dalam kolam.


"Ini salahku" ucap lirih Pangeran Eric.


Jack yang tanpa sengaja mendengar Pangerannya bergumam langsung mendekat."Pangeran, apa yang sedang anda pikirkan?"


"Jack, aku merasa bersalah pada Leona." ucap jujur Pangeran Eric.


Jack merasa ada sedikit perubahan di diri Pangeran. "Anda tidak perlu merasa khawatir dan merasa bersalah, Pangeran. Itu semua kejadian yang tidak disengaja, dan lebih baik sekarang Pangeran bawa Tuan Putri ke kamarnya. Dia pasti kedinginan sebab pakaian yang dia pakai basah''


"Kau benar Jack. Kenapa aku malah berdiri saja," Pangeran segera mengangkat Kayla dan menggendongnya masuk ke dalam mansion.


Jack mengikuti langkah Pangeran Eric, dia berdoa agar pangerannya bisa berubah dan segera mendapatkan kebahagiaan.


Sesampainya di dalam kamar Kayla. Pangeran langsung merebahkan tubuh Kayla di atas ranjang, dia menatap wajah Kayla sejenak. Entah mengapa hatinya merasa damai dan tenang kala memandang wajah itu, mata Pangeran berhenti tepat dibibir mungil milik Kayla. Dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu dimana dirinya merasakan betapa manisnya bibir mungil tersebut.


Tak ingin berlama-lama, Pangeran segera berdiri dari duduknya dan langsung pergi keluar.


"Ruly!" teriak Pangeran memanggil Ruly.


Ruly datang dengan setengah berlari. Setelah didekat Pangeran, Ruly menunduk hormat.


"Segera kau ganti pakaian Tuan Putri. Aku tidak ingin dia menjadi sakit karena pakaian basah itu!" perintah dari Pangeran.


"Baik Pangeran, akan saya laksanakan." ucap Ruly sopan.


Pangeran langsung pergi meninggalkan Ruly yang mulai masuk ke dalam kamar Kayla. Pangeran berada di dalam kamar miliknya, dia teringat akan ucapan Raja Ahmad.


'Aku tau kau tidak menginginkan kehadiran ku di dunia ini. Tapi bisakah kau sedikit saja memberikan aku waktu untuk berbicara bahwa aku sangat merindukan seorang Ayah. Jika aku tau hidupku akan seperti ini, maka aku lebih memilih tidak ingin dilahirkan daripada harus diasingkan.' batin Pangeran bersedih. Kebersamaan dengan Ibunda Ratu kembali menghiasi pikiran Pangeran, dia sangat rindu dengan Ibunya.


"Ibu, rasanya aku ingin sekali menyusul mu ke alam sana." lirih Pangeran sembari menunduk.


Pangeran berjalan ke arah laci, dia mengambil sesuatu dari laci itu. Setelah mengambil sebuah bingkai dari laci, Pangeran berjalan menuju jendela kamar. Tak lupa dia membuka jendela kamar agar bisa melihat keadaan diluar. Pangeran mendongak dan menatap langit.


"Ibu, tolong doakan agar aku segera menemukan siapa orang yang telah melakukan sabotase di aula itu. Aku belum puas jika aku belum menemukan siapa pelakunya. Bu, aku menginginkan doa dan restu mu, berkati lah anak mu ini" Pangeran mengelus bingkai gambar yang di dalam bingkai itu terdapat foto dirinya dan sang Ibu.





Putri Leona



Gaun yang Leona gunakan ketika berada di acara kerjaan timur.



**Tatapan tajam pangeran Eric




TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**