Lady Devil

Lady Devil
Bab 71 Lady Devil



Sesampainya di Istana.


Pangeran dan Kayla melihat ada kereta kencana yang sangat asing di halaman Istana.


"Raja, apa kau mengenal kereta kencana itu?' Kayla menunjuk kereta.


Pangeran melihat kereta kencana yang Kayla katakan. "Ya, sepertinya ini milik Raja Valen."


"Raja Valen? Siapa dia?" Kayla bertanya sembari melangkah masuk ke dalam Istana.


"Raja yang memimpin kerajaan Barat." sahut Pangeran dan tersenyum ketika melihat teman lamanya.


"Salam, Raja.." Raja Valen menangkup'kan tangan di di depan dada.


Pangeran dan Kayla membalas salam dari Raja Valen dan permaisuri nya.


"Apa anda sudah menunggu lama?" Pangeran mengajak teman lamanya itu duduk.


"Tidak terlalu, prajurit mengatakan bahwa anda sedang dalam keadaan berduka. Benarkah?"


Mereka semua duduk di sofa.


"Ya, Ayah ku baru saja meninggal dunia" ujar Pangeran.


"Aku turut berduka cita, Raja." Raja Valen menatap Kayla. "Apa dia permaisuri mu?"


Pangeran melirik dan kemudian mengangguk. "Dia permaisuri ku, dan itu adalah kedua Putraku." Pangeran menunjuk Kayla dan juga kedua Putranya.


"Wah wah.. Ternyata anda benar-benar beruntung, Raja. Memiliki permaisuri yang sangat cantik dan juga kedua penerus kerajaan," ucap Raja Valen diiringi senyuman.


"Suamiku, apa kau sendiri tidak memiliki permaisuri yang sangat cantik?" istri Raja Valen tersinggung.


"Oh Ratu ku.. Mengapa kau harus iri seperti itu, bagiku kau adalah wanita paling cantik di seluruh kerajaan." Raja tersenyum manis ke arah sang istri-Ratu Neha.


Neha hanya tersipu malu.


"Oh yas, Raja. Dia adalah Neha, Istriku. Dan itu Putri kami, Elif."


"Anda juga sudah mempunyai anak? Selamat Raja Valen," Pangeran menjabat tangan Raja Valen.


''Boleh saya tau berapa usia kedua Putra Raja dan Ratu?" Neha bertanya.


"Usianya baru dua bulan, Ratu." Kayla pun menjawab.


"Oh, hanya berbeda satu bulan saja dengan Elif." Neha tersenyum tipis. "Siapa nama kedua Putra Ratu?"


"Putra pertama kami bernama Abiyaksa, dan Putra kedua kami bernama Abiandra."


"Nama yang sangat bagus." Neha tersenyum dan memikirkan ide. "Boleh aku mengatakan sesuatu?"


Semua mata menatap Neha.


"Ada apa Ratu ku? Mengapa wajahmu begitu serius sekali?" Raja Valen menatap sang istri.


"Perjodohan? Tapi tidak mungkin, Ratu. Anak-anak kita masih kecil dan apa mereka mau jika harus dijodohkan?" Kayla pun seperti keberatan.


"Yang Mulia Ratu Leona, setelah usia mereka berdua menginjak dua belas tahun kita bisa langsung menikahkan mereka dan ketika nanti usia mereka sudah matang lalu mengerti cinta, kita akan mengatakan bahwa mereka sudah dinikahkan sedari kecil dan harus menikah lagi jika sudah sama-sama dewasa. Tentu mereka tidak akan menolak bukan? Sebagai orang tua kita harus bisaa membujuk anak-anak kita untuk mengikuti suatu pilihan demi kebaikan mereka. Bagaimana, apa kalian setuju?" Ratu Neha menatap suami serta Pangeran Eric dan Kayla secara bergantian.


Mereka semua hanya diam sembari saling pandang satu sama lain.





Sementara di kerajaan Timur.


"Raja, kau harus tabah dan ikhlas. Jika kau terus bersedih, maka Ayah tidak akan tenang di alam sana." Santika mengelus pundak Pangeran Alvaro dengan lembut.


"Tapi aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergiannya, Ratu. Ayah adalah sosok pria yang baik, mempunyai jiwa pemimpin, dan seorang pria yang sangat tegas. Meskipun Ayah sangat jahat kepada Eric, tetapi Ayah tetaplah pahlawan dimata ku." Pangeran Alvaro menunduk sedih.


"Aku tau itu, sekarang kau harus tunjukkan kepada Ayah dan Ibu jika kau mampu menjadi seperti yang mereka inginkan. Kau akan menjadi Raja yang bertanggungjawab, Raja yang adil, serta Raja yang tidak akan membela kesalahan meski apapun yang terjadi kau akan selalu mendukung kebenaran."


Pangeran menatap wajah Santika dan tersenyum tipis.


"Raja, mengapa kakak ipar tidak datang ke Istana? Bukankah dia tahu jika Ayah telah tiada dan akan langsung dimakamkan?" Santika menjadi heran.


"Dia memang seperti itu, dia tidak menyukaiku sebab akulah yang Ayah pilih sebagai Putra Mahkota. Dia iri, padahal dia sudah memimpin kerajaan milik Ayah mertuanya. Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang dirinya." Pangeran menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


"Raja, sebaiknya kau membersihkan diri terlebih dahulu."


Pangeran merasa sangat malas melakukan apa-apa saat ini. Pangeran menatap wajah Santika dengan lekat, dia mendekatkan wajah nya hingga hidung mereka saling bertubrukan.


"Raja.." lirih Santika dengan deru nafas yang tertahan.


Pangeran semakin mendekatkan wajahnya.


Santika dengan cepat mendorong tubuh Pangeran dan menutup mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan.





TBC


HAPPY READING


SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA DAN TERIMA KASIH 🙏🏻🙏🏻


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA ❤❤