
Di dalam kamar, sebuah erangan dan ******* menjadi satu merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Setelah ejakulasi, tubuh Pangeran ambruk di atas tubuh Kayla dengan nafas yang terengah.
Cup!
Pangeran mengecup kening Kayla. "Terimakasih untuk segalanya,"
Kayla tersenyum dengan nafas yang tidak kalah terengah.
"Kau tidak perlu berterimakasih padaku, Pangeran. Ini semua sudah kewajiban ku menjadi istrimu,"
Pangeran turun dari atas tubuh Kayla dan dia memeluk tubuh Kayla dari samping.
"Aku sangat lelah, apa kau tidak lelah?"
Kayla mengangguk. "Ayo kita tidur,"
Mereka berdua memejamkan matanya bersama lalu tertidur dengan posisi berpelukan.
Sementara di luar mansion, Pangeran Alvaro baru saja menginjakkan kakinya di mansion tersebut.
"Apa Pangeran Eric ada di dalam?"
"Beliau ada di dalam, Pangeran" ucap prajurit itu.
"Leona? Apa dia ada di dalam juga?"
Prajurit mengangguk.
Setelah itu pangeran Alvaro langsung masuk ke dalam mansion.
Ketika berada di dalam matanya bergulir ke sana-kemari.
"Kenapa sepi sekali?" Pangeran terus berjalan menuju maid.
"Pelayan!" seru Pangeran ketika melihat pelayan yang ingin berjalan ke dapur.
Pelayan itu berjalan ke arah Pangeran. "Anda memanggil saya, Pangeran?"
"Apa kau melihat Eric atau Leona?"
"Pangeran dan Tuan Putri sedang berada di dalam kamar, Pangeran." sahut maid tersebut.
"Kamar?" gumam Pangeran pelan lalu memberi kode pada sang maid agar pergi.
Maid pun pergi dari hadapan Pangeran.
"Tumben mereka berdua ada di dalam kamar bersama-sama?" Pangeran langsung naik ke atas tangga menuju kamar Kayla.
Tok!tok!
Pangeran mengetuk pintu kala dirinya sudah sampai di depan pintu kamar milik Kayla.
"Leona! Eric!" teriak Pangeran sembari mengetuk pintu.
"Kenapa tidak ada jawaban?"
Tanpa berpikir panjang Pangeran langsung membuka pintu kamar dan ketika pintu terbuka matanya terbelalak kala melihat Pangeran Eric yang sedang tertidur sembari memeluk tubuh Kayla.
"ERIC!!!" teriak Pangeran kencang.
Sontak Pangeran dan Kayla terkejut, mereka membuka mata dan terbangun dari tidurnya.
"Kakak!" seru Pangeran Eric terkejut saat melihat sang kakak yang sudah berada di depan pintu dengan mata memerah.
Pangeran Eric segera mengambil topeng miliknya dan langsung memakai topeng itu sebelum menghampiri sang kakak.
Pangeran Alvaro berjalan menuju ranjang sementara Pangeran Eric beranjak dari ranjang.
BUGH!
"Aaa!!" pekik Kayla takut. "Kakak ipar apa yang kau lakukan!" bentak Kayla marah masih dengan meringkuk di atas ranjang.
Pangeran Alvaro menatap Kayla yang hanya memakai selimut hingga batas leher, lalu matanya beralih menatap sang adik yang hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada.
"Kau apakan Putri Leona?" teriak Pangeran Alvaro di depan wajah sang adik.
Pangeran Eric menautkan alisnya. "Pertanyaan konyol apa yang sedang kau ucapkan, kakak?"
"Aku bertanya kau apakan Putri Leona?" bentak Pangeran marah.
"Dia istriku, jadi aku bebas mau melakukan apapun padanya." sahut Pangeran Eric santai.
"Kurang ajar!" Pangeran Alvaro ingin melayangkan bogem kembali tetapi suara Kayla menghentikannya.
"Hentikan kakak ipar!" pekik Kayla.
Pangeran Alvaro menatap tajam mata Pangeran Eric dan dia menurunkan kembali tangannya dengan kasar.
"Kenapa Leona? Apa yang sudah dia lakukan padamu!"
"Kami melakukan hubungan yang wajib dilakukan oleh sepasang suami-istri! Apa itu salah?" ucap Kayla yang masih berada di atas ranjang dengan memegangi selimutnya agar tidak terbuka.
"Leona, kau—" Pangeran mengusap wajahnya frustasi. "Kau sudah memberikan hidupmu seutuhnya pada pria cacat ini?" Pangeran menunjuk wajah sang adik.
Pangeran Eric emosi dan menghempaskan telunjuk sang kakak dengan kasar.
"Aku tidak lumpuh, Pangeran Alvaro. Jadi berhenti mengatakan bahwa aku adalah pria lumpuh." ucap Pangeran dengan menekan setiap katanya.
"Haha.. Benarkah? Apa kau malu karena cacat! Kau tidak bisa kabur dari kenyata—"
BUGH!
BUGH!
Pangeran Eric memberikan bogeman di wajah Pangeran Alvaro.
"Sudah aku katakan kau tidak perlu mengatakan bahwa aku adalah pria cacat! Kau tau, aku cacat karena Ayahmu!! Raja Ahmad!." Pangeran Eric berteriak emosi.
Pangeran Alvaro menegakkan tubuhnya dengan senyum sinis dibibir.
"Kau tidak perlu memfitnah Ayahmu sendiri hanya karena keadaan fisikmu yang memang kurang sempurna."
"Kau—" Pangeran Eric menarik kerah baju milik Pangeran Alvaro, tetapi suara Kayla berhasil membuat sang Pangeran menoleh.
"PANGERAN CUKUP! Hiks.." Kayla menangis karena takut ketika melihat sang suami dan kakak iparnya berkelahi. "Aku mohon hentikan, kenapa kalian harus memperpanjang masalah ini? Kakak ipar aku mohon jangan menganggu ku lagi, aku sama sekali tidak akan bisa mencintaimu dan aku hanya mencintai Pangeran Eric.." lanjutnya.
"Cinta? Apa maksudmu Leona, apa dia mencintaimu! Benarkah?" Pangeran Eric menatap Kayla dan sang kakak bergantian.
"Jika benar aku mencintainya bagaimana? Apa kau keberatan? Kau hanyalah pria kejam yang pasti tidak punya hati dan tidak tau apa itu cinta, Eric."
Urat leher Pangeran menegang tangannya mengepal erat dan giginya saling bertubrukan.
"DIAM KAU! TAU APA KAU TENTANG AKU, HAH! KAU HANYALAH BONEKA YANG DIJALANKAN OLEH AYAHMU, KAU TIDAK AKAN PERNAH TAU BAGAIMANA SIKAPKU, DIRIKU DAN ISI HATIKU." teriak Pangeran Eric menatap tajam mata Pangeran Alvaro.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**