Lady Devil

Lady Devil
Bab 13. Lady devil



Jack menunduk. "Saat usia pangeran menginjak lima belas tahun, Bibi Mida meninggal dunia karena riwayat penyakit yang tidak bisa disembuhkan."


Kayla hanya mengangguk. "Apa dari dulu pangeran memang memakai topeng?"


Jack menggeleng. "Sejak kematian Ibunya dan kebencian yang dilayangkan Paduka padanya, membuat pangeran menutup diri dan wajahnya dari siapapun. Pangeran menjadi seseorang yang mempunyai sifat temperamental, dan seperti depresi. Ada luka terbakar juga di wajah pangeran akibat kejadian di aula itu".


"Lalu masalah lumpuh? Kenapa waktu itu aku melihat pangeran bisa berjalan normal?"


"Pangeran lumpuh sementara, jika mengkonsumsi obat maka beliau akan bisa berdiri seperti biasanya. Tetapi itu semua tidak terjadi lama, Tuan Putri."


"Maksudmu, apa pangeran bisa berdiri sendiri dalam jangka waktu tertentu?" tebak Kayla.


Jack mengangguk. "Benar. Pangeran akan normal hanya selama enam jam sampai delapan jam, setelah itu dia akan kembali lumpuh lagi."


"Apa kau tau kejadian di aula sengaja atau tidak?"


"Bukti mengatakan bahwa itu disengaja. Maka dari itu setelah dewasa pangeran merasa bahwa ada seseorang yang sengaja ingin menghabisi ibunya atau dirinya."


Kayla hanya mengangguk. 'Apa aku harus membantu pangeran mencari siapa yang sudah merencanakan kejahatan itu? Tapi tidak mungkin aku bisa, aku saja tidak mengerti cerita awalnya bagaimana.' Kayla berpikir.


"Jack, apa kau sudah lama bekerja dengan pangeran?"


"Sudah, Tuan Putri. Mulai dari usia pangeran 10tahun saya telah menjadi asisten pribadinya dan orang kepercayaannya."


"Baiklah, semuanya sudah jelas. Aku hanya berharap agar pangeran segera menemukan pelaku yang sengaja menyabotase aula"


Jack menunduk tanpa menjawab ucapan Kayla.


"Aku akan kembali ke kamar" Kayla pamit undur diri.


"Silahkan, Tuan Putri" Jack mempersilahkan dengan sopan.


Kayla mulai melangkah pergi menuju kamarnya dengan banyak sekali pertanyaan dan dugaan. 'Apa mungkin yang melakukan sabotase itu adalah Paduka Raja? Karena paduka Raja sendiri sangat membenci pangeran dan ingin membuang pangeran.' batin Kayla menduga sembari terus berjalan menaiki anak tangga. 'Aku tidak boleh gegabah. Mana mungkin paduka yang melakukan, bukankah paduka tidak ingin pangeran ikut dalam acara pertemuan itu? Astaga, kenapa kepalaku jadi pusing memikirkannya?' batin Kayla dan memasuki kamarnya.





Keesokan paginya.


Kayla telah siap membersihkan diri. "Huft. begini kerjaan setiap hari. Tidur, makan, tidur lagi. Gak ada kegiatan lain, aku sudah seperti merasa di penjara" gumam Kayla berdiri dari meja riasnya.


Kayla berjalan ke arah balkon kamar, dia terkejut saat melihat ke bawah tepatnya halaman mansion.


"Kenapa ramai sekali?" ucap Kayla sembari dengan cepat berjalan turun ke bawah.


Sesampainya di luar mansion, Kayla melihat seorang prajurit yang bersimpuh di bawah kaki pangeran. Pangeran saat itu tidak menggunakan kursi rodanya. Kayla ingin berlari menghampiri pangeran kala pangeran mengeluarkan tongkat golf.


"Tuan Putri!'' seru Ruly berlari cepat ke arah Kayla.


Terdengar nafas ngos-ngosan dari mulut Ruly. "Tuan Putri, saya mohon jangan kemana-mana, anda harus berada disini bersama saya"


"Tapi Ruly, itu—" ucapan Kayla terpotong karena mendengar suara prajurit yang meminta ampun dan berteriak sakit.


"Argh! Ampun pangeran," ujar prajurit itu lirih.


"Siapapun yang tidak mengikuti perintahku, maka dia akan mendapat hukuman mengenaskan dariku." bentak pangeran.


Terlihat prajurit juga maid yang lain berkumpul mengelilingi pangeran dan prajurit yang sedang mendapat hukuman. Kayla tidak tega, dia berlari menghampiri pangeran tanpa mendengarkan panggilan dari Ruly.


Kayla menerobos masuk ke garis yang ditentukan.


"TUAN PUTRI!" teriak Ruly takut.


Pangeran menoleh kebelakang dan ternyata Kayla berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam.


Kayla berdiri didepan pangeran. "Hentikan kegilaan ini, Pangeran. Kuping ku sudah sakit karena setiap hari mendengar rintihan serta kata ampun dari mulut pelayan dan pada prajurit."


"Siapa kau? Berani sekali kau melarang dan tidak mengikuti peraturan ku?" pangeran melihat ke sekeliling. "Kau juga sudah melewati garis yang aku berikan, apa kau tidak punya rasa takut?" suara bariton nan berat milik pangeran sangat tajam di pendengaran Kayla.


Pangeran terdiam dan menatap Jack. Jack yang mengerti langsung menghampiri Kayla. "Tuan Putri, mari ikut saya. Jangan membuat masalah dengan pangeran, apa anda tidak memikirkan keadaan Ruly?"


Kayla terdiam, dia jadi takut jika nanti Ruly akan diberi hukuman lagi. "Tapi Jack, dia—"


Jack langsung menarik tengah Kayla menjauh dari pangeran Eric.


"Jack lepaskan aku, aku belum selesai berbicara dengan pria tidak punya hati itu! JACK LEPASKAN AKU, HEI! DASAR TIDAK PUNYA HATI!!!" bentak Kayla kesal sembari menoleh kebelakang menatap Pangeran Eric.


"JACK, BERHENTI!" teriak pangeran Eric.


Jack langsung menghentikan langkahnya. Pangeran Eric berjalan ke arah Jack dan Kayla dengan tatapan mematikan.


Kayla menelan saliva nya kasar. 'Tamatlah riwayatku. Apa aku akan mati hari ini?'


Setelah berada di dekat Kayla, pangeran langsung menarik tangan Kayla hingga tubuh Kayla membentur dada bidang milik pangeran.


"A—apa.." ucapan Kayla terpotong.


Cup!


Satu kecupan pangeran berikan dibibir mungil milik Kayla. Kayla melongo dan memegangi bibirnya, dia juga menatap pangeran dengan kesal.


'Ciuman pertamaku' batin Kayla. "Kenapa kau mencium ku?" bentak Kayla tajam.


"Bukankah kau itu istriku? Lalu mengapa jika aku mencium mu?" ucap pangeran enteng.


Para prajurit, maid, dan Jack membelakangi pangeran dan Kayla. Tak lupa mereka juga menunduk sembari menutup mata.


"Tapi—" ucapan Kayla lagi-lagi mengambang di udara.


Pangeran menempelkan bibirnya lebih lama di bibir milik Kayla, bahkan pangeran memberikan sedikit ******* di sana. Manik mata pangeran dan manik mata Kayla bersitubruk. Jantung Kayla berdegup sangat kencang, begitupun dengan pangeran.


'Astaga, perasaan apa ini?' batin pangeran dan langsung melepaskan tautan bibirnya.


Kayla terdiam sembari menatap pangeran Eric marah. Tanpa berkata apapun, Kayla langsung berlari masuk ke dalam mansion dan meninggalkan halaman.


Para prajurit dan maid bubar, sementara Jack menatap pangerannya.


''Pangeran, anda baik-baik saja?"


Pangeran hanya terdiam dan mengangguk pelan, dia berjalan masuk ke dalam mansion. Entah kenapa bayangan tatapan Kayla masih berada di dalam matanya.


'Kenapa aku memikirkan Putri Leona?' batin pangeran. 'Dia menikah denganku hanya karena kasihan, tidak lebih. Dan yang Putri Leona putuskan sangatlah membuat aku tidak suka, aku tidak suka dikasihani oleh siapapun. Aku bukanlah orang lemah' Pangeran terus membatin hingga masuk ke dalam mansion.


Setelah berada di dalam, pangeran menoleh ke atas tangga sejenak. Lebih tepatnya di lantai kamar Kayla, lalu sejenak kemudian pangeran berjalan ke kamarnya. Tubuhnya terasa lemas dan pasti pengaruh ramuan itu sudah hilang.



Kamar milik Kayla di mansion.




**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘


∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆


MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR JUGA YUK ❤**