
Tabib sedang mengobati luka yang ada di perut Santika.
"Bagaimana keadaannya tabib?" ucap Pangeran Alvaro ketika tabib sudah selesai mengobati.
"Lukanya cukup dalam, saya sarankan agar Tuan Putri beristirahat yang cukup dan jangan banyak bergerak terlebih dahulu."
"Baiklah, kau bisa pergi. Terima kasih," Pangeran menatap wajah pucat milik Santika.
"Sama-sama, Pangeran." tabib mengeluarkan beberapa lembar daun dan juga ramuan di dalam botol. "Pangeran, jangan lupa setiap selesai mandi ganti daun yang saya letakkan di luka Tuan Putri," tabib memberikan daun. "Ini juga ada ramuan yang bisa mempercepat luka beliau mengering, tiga hari lagi saya akan datang kembali ke Istana untuk membawa obat luar lainnya." lanjutnya.
"Baiklah, terima kasih sekali lagi tabib." Pangeran berkata sopan.
Tabib mengangguk. "Saya permisi, Pangeran."
Setelah mendapatkan anggukan, tabib langsung pergi dari harapan Pangeran.
"Santika, kau sudah mempertaruhkan nyawa mu untukku. Jika kau tidak menolong ku, maka saat ini pasti aku yang akan berada diposisi mu, atau mungkin aku malah langsung tiada." Pangeran berbicara sendiri sembari terus mengelus lembut kepala Santika.
'Baru ku sadari selama ini bahwa Putri Santika sangatlah cantik dan memiliki hati yang tulus dalam apapun,' batin Pangeran tersenyum.
Klek!
Pintu kamar terbuka.
Pangeran segera menurunkan tangannya dari kepala Santika dan menoleh ke arah pintu.
"Boleh aku masuk?" ucap Kayla yang sudah berada di ambang pintu.
Pangeran mengangguk dan Kayla langsung masuk ke dalam kamar.
"Kakak ipar, bagaimana keadaan kak Santika?"
"Tabib bilang lukanya cukup dalam, dan tabib juga memberikan daun serta ramuan ini agar luka Santika cepat mengering. Setiap satu hari sekali dan sehabis mandi, maka daunnya harus di ganti." Pangeran menjelaskan seraya menunjukkan daun dan botol.
Kayla mengangguk. "Aku akan menggantikan daunnya nanti, jika kakak sudah sadar dan selesai mandi."
"Baiklah, adik ipar. Aku akan pulang ke Istana terlebih dahulu dan titip Santika, jaga juga rawat dia. Maaf jika aku merepotkan mu, karena penyebab diriku Santika jadi seperti ini." Pangeran berbicara sedih.
"Kakak ipar, kenapa kau berbicara begitu? Untuk di situasi yang seperti ini kita tidak perlu saling salah atau menyalahkan, mungkin ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa karena siapa tau dengan seperti ini kakak dan kak Santika bisa bersatu." Kayla tersenyum tipis.
Pangeran yang mengetahui arah pembicaraan Kayla hanya diam. "Ya sudah, aku permisi. Besok aku akan datang lagi ke Istana untuk melihat keadaan Santika."
"Hati-hati,"
"Titip salam pada Pangeran Eric, dan jika nanti Santika sadar katakan padanya bahwa aku sangat-sangat berterima kasih dan minta maaf yang sebesar-besarnya." Pangeran beranjak dari kursi.
Pangeran langsung keluar dari kamar dan meninggalkan Kayla.
"Lihatlah kak, sepertinya perjuanganmu akan membuahkan hasil. Aku yakin, setelah ini pasti kakak ipar akan meminang mu untuk menjadi istrinya." Kayla berbicara sendiri sembari menyelimuti tubuh Santika.
"Baiklah, aku pergi dulu. Nanti aku akan kembali lagi kesini," Kayla tersenyum tipis dan pergi dari kamar Santika. Kayla ingin memberikan waktu pada Santika agar beristirahat tanpa ada yang menganggu.
-----Keesokan paginya------
"Argh.." mata indah milik Santika berkedut pelan.
Kayla langsung mendekat ketika dia mendengar lenguhan lirih yang keluar dari mulut Santika. "Kakak, kau sudah sadar?"
Perlahan kelopak mata milik Santika terbuka sempurna meskipun masih dengan menyipit karena silaunya matahari yang menyorot ke dalam kamar.
"Leona,"
"Ya? Aku ada disini, apa yang kau rasakan sekarang kak?" Kayla duduk di kursi yang berada di samping ranjang.
Santika tersenyum. "Kau mengkhawatirkan ku? Aku pikir aku sudah berada di alam baka," Santika menggulirkan bola mata ke setiap sudut ruangan.
'Tuhan, syukurlah engkau masih memberikan aku kesempatan untuk melihat betapa indahnya pelangi, aku pikir aku tidak akan selamat dari tragedi mengerikan ini.' batin Santika.
"Kak, apa yang sedang kau pikirkan?" Kayla memegang tangan Santika.
Santika kaget dan melirik Kayla sejenak. "Tidak ada, aku hanya memikirkan akhirnya aku masih hidup dan bisa melihat keindahan alam ini.''
"Keindahan alam atau keindahan wajah kakak ipar ku?" Kayla menaikkan sebelah alisnya.
Santika terkekeh pelan. "Kau ini ada-ada saja,"
Mereka berdua larut dalam obrolan mulai dari kematian Paman Derrick hingga Pangeran Alvaro yang setia menunggu Santika.
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**