
Sudah satu hari satu malam Kayla berada di dalam lubang buatan Pangeran Eric, Kayla harus mendapatkan hukuman atas suatu kesalahpahaman. Saat ini Kayla telah keluar dari lubang itu sebab Pangeran mendapatkan surat bahwa Paduka Raja Vincent sedang sakit dan Kayla diperintahkan untuk pulang ke Istana sementara.
Kayla tengah berada didalam sebuah ruangan khusus mandi susu. Dia mandi dengan dibantu oleh para maid, karena tubuh Kayla saat ini sangat kotor sekali. Maid dengan telaten menggosok tubuh Kayla dengan lembut dan perlahan, sementara Kayla hanya diam saja sembari menikmati pijatan maid itu ditubuhnya.
Beberapa jam kemudian Kayla telah siap dalam ritual mandi susunya, tanpa Kayla dan maid sadari Pangeran Eric sudah berada di ambang pintu ruangan itu dengan menatap Kayla tanpa berkedip. Bagaimana tidak, Kayla bangkit dari dalam bathub besar dengan hanya menggunakan bikini sebatas dada dan kain penutup bawah hanya sampai batas paha. Kulit putih dan bersinar milik Putri Leona terpampang jelas di depan mata Pangeran.
Kayla berbalik ingin keluar dari ruangan itu, tetapi dia terkejut karena melihat Pangeran Eric. Mata Kayla melotot dan dia menatap sekujur tubuhnya sendiri, Kayla menutupi tubuhnya menggunakan handuk. Kayla berjalan dengan tatapan datar keluar dari ruangan itu, sesampainya di samping Pangeran Eric, Kayla mendongak dan melirik Pangeran dengan sinis.
Setelah itu Kayla langsung pergi meninggalkan pangeran tanpa mengatakan sepatah katapun. Pangeran terus menatap punggung belakang Kayla yang sudah menjauh.
"Aku harus bisa menahan semuanya, dia itu menikah denganku hanya karena kasihan bukan cinta!" Pangeran berbicara sendirian. lalu dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Di dalam kamar, Kayla telah siap untuk pulang ke Istana milik Ayahanda nya.
"Aku pamit pergi,'' ucap Kayla saat dia sampai di lantai bawah.
"Hm, hati-hati. Sampaikan salam ku pada Paduka Raja, dan prajurit akan mengawal serta mengantarmu hingga sampai di Istana." sahut Pangeran Eric.
Kayla menjawab dengan anggukan, setelah itu dia pergi keluar dari mansion dan segera bergegas menaiki kereta kencana.
Kereta kencana pergi meninggalkan mansion, Pangeran menatap kepergian kereta dengan datar.
•
•
•
Di tempat lain.
"Bu, apa hari ini tikus kecil itu benar-benar akan kembali?" Aurora bertanya kepada sang Ibu.
"Sepertinya begitu, Putriku. Prajurit sudah mengirimkan surga untuk Leona dan semua itu atas perintah Raja Vincent."
"Baiklah, akhirnya boneka kita kembali lagi ke Istana. Aku sudah tidak sabar untuk bermain-main dengannya," Aurora tersenyum licik.
***
Beberapa saat kemudian.
Kereta kencana milik Kayla telah sampai di Istana.
"Kalian pulanglah, tidak perlu menjemput ku. Aku akan pulang bersama dengan prajurit yang ada di Istana ini," perintah Kayla kala dia sudah turun dari kereta kencana.
"Baik, Tuan Putri" sahut para Prajurit dengan menundukkan kepala mereka.
Kayla masuk ke dalam istana.
"Ayah!" teriak Kayla ketika sudah berada di dalam Istana.
Suara tepukan tangan terdengar mendekat ke arah Kayla. Kayla menoleh dan dia menatap datar Aurora yang berjalan menghampirinya.
"Selamat datang kembali, Putri Leona Virgiano.'' tekan Aurora berkata.
Kayla hanya diam saja, dia yakin pasti Aurora akan melontarkan hinaan pada dirinya.
"Bagaimana kabarmu setelah menikah dengan pria lumpuh dan misterius itu? Apa kau bahagia?" Aurora tersenyum miring.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia hidup dengan Pangeran Eric."
"Haha.. Kau pikir aku bodoh? Lihatlah dirimu saat ini, kau bahkan sekarang makin terlihat kurus. Aku yakin di sana hidupmu pasti bagaikan di neraka,"
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu! Dimana Ayahku?"
"Oho.. Kau sangat merindukan kakek tua itu? Dia ada dikamar, ya.. Hidupnya tidak berdaya, dia hanya tidur dan tidak bisa bergerak."
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Ayah ku?" Kayla menatap tajam ke arah Aurora.
"Kau pikir aku akan memberitahumu? Itu semua rahasia dan aku ataupun Ibu tidak akan pernah memberitahumu,''
"Kau—!" Kayla menunjuk wajah Aurora dengan rasa amarah. Kayla menghembuskan nafas dan dia langsung berjalan menaiki anak tangga, dia sangat khawatir dengan Ayahnya.
Kriet!
Bunyi pintu kamar terbuka.
Terlihatlah Paduka Raja yang berbaring lemah di atas ranjang bersama dengan Ratu Elisabeth yang duduk di tepi ranjang.
"Ayah," Kayla berjalan menghampiri sang Ayah.
"Putriku," lirih Raja terbata.
Ratu Elisabeth berdiri dari duduknya dan Kayla langsung memeluk sang Ayah. Air mata menetes di pipi Kayla, meskipun Raja Vincent adalah Ayah Putri Leona tetapi Kayla tetap merasa sedih karena membayangkan jika yang berbaring di depannya adalah sang Papa, Ando.
"Ayah, kenapa bisa seperti ini?" Kayla menghapus air matanya.
'Aku yakin ini adalah kerjaan Ratu Elisabeth dan Aurora,' Kayla melirik tajam Ratu Elisabeth.
"Leona, apa kabarmu?" Ratu Elisabeth berpura-pura baik.
'Cih, menjijikan. Dasar ular bermuka dua!' maki Kayla dalam hati.
"Kabarku baik." Kayla tidak ingin memperlihatkan kebenciannya pada Ratu Elisabeth didepan sang Ayah.
"Ayah, apa Ayah sudah makan?"
Raja Vincent mengangguk.
Kayla beranjak dari duduknya dan berdiri didepan Ratu Elisabeth. "Selama aku disini akulah yang akan merawat Ayah, tidak boleh ada satu orang pun yang ikut campur tangan dalam merawat Ayah!"
Ratu Elisabeth hanya mengangguk, dia tidak ingin membuat Raja Vincent curiga.
"Suamiku, dikarenakan sudah ada Putrimu disini, maka aku pamit keluar"
Raja mengangguk dan Ratu Elisabeth langsung pergi dari kamar.
Setelah kepergian Ratu Elisabeth, Kayla menatap sang Ayah lalu berjalan ke arah ranjang.
"Ayah, Ayah tidurlah. Aku akan membuatkan sup untuk makan Ayah nanti malam," Kayla menggenggam tangan Raja Vincent.
Raja Vincent memejamkan matanya dan tertidur.
Kayla menatap Raja dengan sedih. "Tega sekali mereka melakukan hal ini pada Ayah, aku harus segera menghentikan semuanya sebelum keadaan Ayah semakin parah."
Kayla beranjak dan keluar dari kamar.
Kayla berjalan ke kamar Ratu Elisabeth.
Tok ! Tok !
Ratu membuka pintu kamarnya, dia heran melihat Kayla yang berani datang ke kamar. "Kau kemari? Berani sekali," Ratu tersenyum remeh.
Tanpa permisi Kayla langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
"Hei! Dasar tidak tau sopan santun!" bentak Ratu kesal.
"Apa yang telah kau lakukan pada Ayahku?"
Ratu tersenyum jatah. "Kau ingin tau?" ucap Ratu sembari berjalan ke arah Kayla.
Kayla mengangguk pasti.
"Sayangnya aku tidak akan memberitahumu." Ratu tersenyum miring.
"Kalian sangat jahat sekali, hanya demi kekuasaan kalian tega melakukan hal licik!" teriak Kayla geram.
"Ck ck.. Berani sekali kau berteriak seperti itu. Aku lihat semenjak kau bangun dari pingsan sifat mu semakin berani." Ratu menatap Kayla tajam.
"Katakan apa yang sudah kau berikan pada Ayahku, hingga Ayah menjadi seperti ini!" bentak Kayla dengan mata memerah.
"Haha.. Percuma kau marah Leona, karena aku tidak akan memberitahumu. Aku ingin membuat Ayahmu bernasib sama dengan Ibumu!"
Kayla melongo tidak percaya, dia masih mencerna ucapan Ibu tirinya itu. 'Ibu? Apa maksudnya bernasib sama dengan Ibu,' batin Kayla.
•
•
**Putri Aurora
•
•
TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA NANTI MALAM
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘
🍎🍎🍎🍎
MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR YUK ❤**