
Dua minggu kemudian, setelah Kayla puas menyiksa Ibu tiri dan saudari tirinya sekarang tinggallah langkah terakhir yang akan Kayla berikan sebagai hukuman penutup.
Di halaman Istana, telah ramai para prajurit dan pelayan tengah berkumpul untuk menyaksikan hukuman apa yang akan diberikan oleh Tuan Putri mereka kepada sang penjahat.
"Apa semua sudah berkumpul?" ucap Kayla tegas.
"Sudah, Tuan Putri." sahut mereka semua serempak.
"Prajurit, apa kau sudah menyiapkan segala keperluan yang aku inginkan?" Kayla melirik ke arah prajurit sejenak.
"Semuanya sudah beres, Tuan Putri." prajurit menunduk sopan.
"Baiklah, kau bisa membawa Ratu Elisabeth dan Putri Aurora kesini."
Prajurit langsung pergi masuk ke dalam Istana untuk membawa Ratu dan Aurora.
Beberapa saat kemudian.
"Lepas!" bentak Ratu marah ketika prajurit menyeret nya untuk menghadap Kayla.
"Salam, Ratu Elisabeth. Hari ini aku akan memberikan hukuman terakhir untukmu, semoga kau dan Putri mu bisa menerimanya. dengan lapang dada." Kayla tersenyum tipis.
Kayla beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Ratu serta Aurora.
"Kau akan mendapatkan hukuman yang memang pantas kau terima, Bibi Elisabeth." geram Kayla tajam.
"Lepas! Apa yang kau katakan! Dasar tidak waras!!!" teriak Ratu marah.
Plak!
Kayla menampar pipi Ratu.
"Berani sekali kau membentak ku, Bibi." Kayla menatap tajam sang Ratu. "Baiklah, tidak perlu berlama-lama karena aku mempunyai urusan lain selain mengurusi dirimu." Kayla melipat tangannya sembari mundur beberapa langkah dari hadapan Ratu.
"Prajurit!" Kayla memberi kode dan prajurit langsung mendekat.
"Berikan apa yang aku inginkan."
Prajurit yang memang paham langsung memberikan sebuah kain hitam dan sebuah pisau tajam.
"Mau apa kau!" Ratu membentak Kayla.
"Aku ingin bermain-main denganmu dan juga dengan Aurora." Kayla menatap pisau tajam yang ada ditangannya.
Perlahan, Kayla mendekat ke arah Aurora yang sudah terlihat gemetaran, dengan kasar Kayla melempar penutup mata hitam kehadapan Aurora.
"Tutup matamu!." perintah Kayla.
Aurora hanya diam sembari menggeleng.
"Kau tidak ingin menuruti perintahku?" Kayla menggenggam pisau tajam itu dengan erat sehingga membuat Aurora semakin ketakutan..
"T—tapi kenapa aku harus menutup mata?" Aurora bertanya dengan gugup.
"Karena aku ingin bermain denganmu. Ayo cepat lakukan perintahku, tutup matamu menggunakan kain hitam itu." Kayla menunjuk kain hitam yang berada digenggaman Aurora.
"B—baik." Aurora yang sudah pasrah hanya menuruti perintah Kayla.
"Bagus.." Kayla tersenyum tipis. 'Kalian berdua tidak akan bisa berkutik jika aku sudah mengamuk.' batin Kayla dengan senyum sinis.
"Prajurit, bawa Ratu Elisabeth menuju ke sana." Kayla menunjuk tempat yang tak jauh dari dirinya berdiri.
Prajurit mematuhi perintah Kayla dan langsung menuntun Ratu Elisabeth menuju ke tempat yang Kayla katakan.
Kayla menganggukkan kepala senang ketika apa yang dia inginkan terpenuhi.
"Baiklah, kakak tiri. Aku akan mengatakan peraturan permainan kita kali ini." Kayla berdiri di samping Aurora dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Dengan mata tertutup, kau harus bisa menjatuhkan buah apel yang ada di atas kepala Ibumu."
"Apa maksudmu? Bagaimana caranya,"
"Ya, dengan mata tertutup kau harus menjatuhkan buah apel yang saat ini telah berada di atas kepala Ibumu menggunakan pisau tajam yang ada di tanganmu."
Aurora terkejut begitupun dengan Ratu Elisabeth.
"Tidak mungkin, lalu bagaimana jika aku tidak bisa menjatuhkan buah apel itu?"
"Maka Ibumu lah yang akan terkena imbasnya. Kau tidak tau dimana pisau itu akan meleset bukan? Di buah apel atau di area tubuh ibumu."
"Kau gila, Leona! Kau benar-benar sudah gila!!!" teriak Aurora dengan emosi.
"YA, AKU MEMANG SUDAH GILA! KAU TAU, AKU GILA KARENA KALIAN, KALIAN YANG SUDAH MENGANGGU KETENANGAN KU DENGAN CARA MENJAUHKAN AKU DARI ORANG-ORANG YANG PALING AKU SAYANGI! APA KALIAN TAU BETAPA SAKITNYA KETIKA KEHILANGAN SESEORANG YANG SANGAT BERJASA DALAM HIDUP INI? HAH!!!" Kayla berteriak histeris dengan urat yang memegang dilehernya.
Aurora menangis begitupun Ratu Elisabeth.
"Leona, kita lupakan saja segalanya dan mulai dari awal, nak. Ibu akan berusaha menjadi yang terbaik dan menebus kesalahan Ibu terhadapmu." Ratu berbicara lembut.
Kayla menghela nafas kasar. "Ayo kita mulai."
Prajurit telah menutup mata Aurora.
"Aku tidak akan melakukannya, aku tidak ingin menjadi durhaka karena telah membunuh Ibuku sendiri." pekik Aurora dengan tangan yang gemetaran memegang pisau.
"Kau harus melakukannya, jika tidak mau maka kau akan melihat ibumu mati dengan mengenaskan." gertak Kayla menakuti Aurora.
"Kau jahat, Leona!"
"DIAM! Hanya tiga kali percobaan, jika kau bisa menjatuhkan buah apel itu maka aku akan melepaskan Ibumu dan juga dirimu."
Aurora hanya diam saja.
"Aku akan menghitung sampai tiga. Setelah hitungan terkahir kau harus segera melempar pisau itu dengan kencang."
"Satu... Dua... Tiga..." Kayla telah selesai menghitung dan Aurora mulai melemparkan pisau.
Lemparan pertama berhasil mengenai ujung buah Apel.
Prok prok!
Kayla bertepuk tangan. "Wow, sepertinya feeling mu tidak meleset. Satu lemparan berhasil mengenai ujung buah Apel, berdoa lah agar lemparan selanjutnya buah Apel itu bisa segera jatuh." Kayla tersenyum sinis.
"Lanjut!"
Aurora mulai melemparkan pisau.
Sret!
Pisau menancap di lengan sang Ratu.
"Argh!" Ratu merintih kesakitan ketika pisau dicabut paksa dari lengannya.
"Ibu!" teriak Aurora khawatir.
"Hei! Jangan berani membuka penutup mata itu atau aku akan menghabisi kau dan Ibumu secara bersamaan." teriak Kayla marah ketika Aurora ingin membuka penutup mata hitam tersebut.
Aurora hanya pasrah dan menitikkan air mata. 'Tuhan, aku tidak menyangka jika perbuatan ku dan ibu selama ini akan sangat menyakitkan balasannya..' batin Aurora penuh penyesalan.
"Satu kali lagi." ucap Kayla kembali memberikan pisau kepada Aurora.
Aurora menerima pisau dengan tangan yang dingin karena takut, dia terus berdoa semoga pisau tidak menembus tubuh sang Ibu.
Aurora mulai melemparkan pisau kembali untuk terakhir kalinya.
Jleb!
Pisau mendarat tepat di perut Ratu Elisabeth.
Sunyi!
Keadaan setempat langsung sunyi ketika Ratu Elisabeth memegangi perutnya dan langsung tergeletak di atas rerumputan.
Brugh!
Aurora mendengar jelas suara jatuh itu, perasaannya sudah tidak enak ketika semua orang terdiam. Dengan cepat Aurora membuka penutup mata dan dia langsung membekap mulutnya sendiri ketika melihat sang Ibu yang telah tergeletak di atas rerumputan dengan pisau menancap di perut serta darah mengalir deras dari perut itu.
"IBU!!!" teriak Aurora memanggil sang Ibu dan berlari menghampiri sang Ibu yang sudah tak bernyawa.
Air mata mengalir deras di pipi Aurora.
'Kau sudah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupmu, Aurora. Nyawa harus di balas dengan nyawa.' batin Kayla penuh dendam dan ada sedikit kelegaan dihatinya kala sudah berhasil memberikan hukuman setimpal tanpa harus mengotori tangannya sendiri..
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
TERIMAKASIH UNTUK SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA 🙏🏻
MON MAAF JIKA MENURUT KALIAN CERITA INI GAK NYAMBUNG DENGAN JUDUL, OTHOR HANYA MENUANGKAN APA YANG OTHOR PIKIRKAN. MULAI DARI JUDUL, KARAKTER DLL 🙏🏻🙏🏻
🍎🍎🍎🍎🍎🍎
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR ❤**