
Kayla kembali ke tempatnya semula berdiri, dia menatap ke arah kuburan sang Ayah yang sudah di tutup rapat oleh tanah.
"Kau darimana, Leona?" Pangeran bertanya kala Kayla sudah berada disampingnya.
"Tidak ada," Kayla menggeleng sembari terus menatap orang-orang yang membenamkan tanah di dalam kuburan sang Ayah.
Bibi Helen berjalan menghampiri Kayla dan Pangeran. "Permisi, Tuan Putri. Apa Tuan Putri mencari Bibi?" Bibi Helen menunduk sopan.
"Bi, aku ingin membicarakan tentang hal yang selama ini para mata-mata kita lakukan. Apa mereka tidak menjalankan tugas dengan benar? Mengapa semua ini bisa terjadi pada Ayahku?"
"Bibi rasa para mata-mata kita sudah melakukan hal yang semestinya, Tuan Putri." ucap Bibi yakin.
"Lalu mengapa hal buruk seperti ini bisa terjadi kepada Ayah ku, Bi?"
"Satu hari yang lalu Bibi melihat ada tabib yang datang ke Istana, setelah Bibi bertanya ternyata yang memanggil tabib itu adalah Ratu Elisabeth."
"Untuk apa tabib itu datang ke Istana?" Kayla terus bertanya untuk mendengarkan penjelasan apalagi yang Bibi Helen katakan.
"Tabib itu berkata ingin mengobati Paduka Raja yang sedang sakit. Tuan Putri, jika masalah makanan Bibi sudah mengantisipasinya, Paduka hanya memakan apa yang Bibi masak dan hidangkan. Bibi mengatakan jika itu semua adalah perintah dari Tuan Putri, dan Ratu Elisabeth maupun Paduka tidak protes." ucap Bibi Helen.
"Lalu masalah ramuan yang aku curigai bagaimana? Apa maid berhasil mencari dan mendapatkan buktinya?"
"Ramuan yang selama ini Tuan Putri curigai ternyata benar, maid menemukan ramuan berupa pil dan air dari laci lemari Ratu Elisabeth. Bibi membawa ramuan juga pil itu ke tabib kepercayaan Istana dan ternyata siapapun yang meminum ramuan tersebut akan penyakitan lalu perlahan meninggal dunia. Tabib mengatakan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ramuan itu adalah bahan beracun, untung saja Paduka Raja tidak terus-terusan meminum ramuan atau pil itu." jelas Bibi Helen lagi.
"Berarti jika semuanya aman, maka hanya ada satu kemungkinan." Kayla menatap tajam ke arah gundukan yang didalamnya ada peti sang Ayah.
"Apa itu, Tuan Putri?" Bibi Helen penasaran.
"Tabib yang datang ke Istana dengan dalih ingin mengobati Ayah, dia pasti ada hubungannya dengan kematian Ayah dan aku yakin bahwa Ratu Elisabeth adalah dalang di balik semua ini." geram Kayla dengan mengepalkan kedua tangannya erat.
"Apa kau yakin?" Pangeran yang sedari tadi terdiam langsung angkat bicara.
'Astaga, kenapa aku bisa lupa kalau ada Pangeran di samping ku?' Kayla merutuki kebodohannya dalam hati.
"Tentu saja aku yakin, Pangeran. Aku sangat paham sifat Ratu Elisabeth dan Putrinya, jika benar mereka yang sudah menyebabkan Ayahku tiada maka aku pasti akan membalaskan semuanya." Kayla bersumpah.
"Aku tidak menyangka ternyata kau mempunyai sifat yang kejam juga, Putri Leona." cibir Pangeran dengan senyum tipis.
Kayla terdiam dan tidak menjawab ucapan sang suami. 'Tentu saja aku kejam, karena aku bukan Putri Leona yang mempunyai sifat lembut hingga ditindas pun dia hanya diam saja lalu menangis.' batin Kayla menjawabnya.
Setelah semua ritual selesai, para rakyat, panglima dan pengurus penting kerajaan Timur langsung bubar ke tempat asal mereka masing-masing.
Kayla berjalan masuk ke dalam Istana dengan didampingi oleh Pangeran Eric, Pangeran tidak ingin membiarkan sang istri yang tengah berduka hanya sendirian tanpa seorang penopang.
"Putri Leona.." seorang pria memanggil Kayla lembut dan Kayla pun langsung menoleh.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SUPAYA OTHOR LEBIH SEMANGAT UP NYA 🙏🏻 terimakasih 😘**