Lady Devil

Lady Devil
Bab 17 LADY DEVIL



Pangeran Alvaro bertekad untuk pergi ke mansion milik Pangeran Eric, saat ini dia sudah sampai dan tengah berdiri di depan mansion megah tersebut. Dengan gagahnya Pangeran Alvaro masuk ke dalam mansion itu.


"Selamat pagi, Pangeran" Prajurit menyapa sekaligus menunduk hormat.


"Pagi. Apa Pangeran Eric ada di dalam?"


"Pangeran Eric tengah bermain golf, Pangeran." prajurit menunjuk ke arah lapangan.


Pangeran Alvaro menoleh ke lapangan itu, dahinya mengerut kala melihat keadaan Eric yang seperti orang normal tanpa cacat.


'Benarkah dia adikku?' batin Alvaro.


Pangeran Alvaro melangkah ke arah lapangan golf, dia dapat melihat betapa lincahnya Pangeran Eric dalam bermain golf tersebut.


Ni


"Pangeran Eric!" Pangeran Alvaro berseru memanggil nama Eric.


Pangeran Eric yang ingin memukul bola langsung menoleh, dia terkejut karena sang kakak berada di mansion nya. Pangeran Eric membawa tongkat golf sembari berjalan ke arah Pangeran Alvaro.


"Kau ada disini?" Pangeran langsung bertanya ketika berada di depan sang kakak.


"Ya, seperti yang kau lihat." Pangeran Alvaro menatap Pangeran Eric dari atas sampai bawah. "Adikku, apa kau baik-baik saja?".


"Tentu saja," Pangeran Eric menjawab dengan pasti.


"Benarkah?"


"Apa kau tidak bisa melihatku? Kau pasti bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana keadaan ku saat ini."Pangeran memberi kode kepada prajurit untuk menyimpan alat-alat olahraganya.


"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu kesal,"


"Tidak masalah. Kau berada disini? Ada apa, apa ada masalah?" Pangeran bertanya lalu menengguk air mineral yang ada di genggamannya.


"Semuanya baik-baik saja dan aku hanya ingin berkunjung ke mansion ini."


"Raja itu memperbolehkan mu datang ke mansion ini? Wah, tumben sekali" Pangeran Eric tersenyum miring.


Pangeran Eric berjalan ke arah sebuah bangku dan disusul oleh Pangeran Alvaro.


"Pangeran Eric, apa kau marah dengan Ayahanda?"


Mereka berdua duduk di bangku panjang itu.


"Marah? Memangnya aku punya alasan apa untuk marah dengannya?" Pangeran membuka topi yang menutupi rambutnya.


"Aku tau pasti segala ucapan Ayah sangat menyakitkan di hatimu. Tapi percayalah Er, aku tidak seperti Ayah! Aku sama sekali tidak membencimu"


"Kau tidak membenciku tetapi kau merasa kasihan padaku, benarkan?" Pangeran bertanya sambil melirik tajam.


"Kau salah, Er! Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu, kau adalah adikku dan kita satu Ibu. Kita lahir dari rahim yang sama, kita juga satu darah karena Ayah kita sama. Er, darah bangsawan keluarga Wicaksana juga mengalir dalam tubuhmu, jangan pernah berpikir semua orang itu hanya merasa kasihan padamu."


"Sudahlah! Hentikan ocehan mu." sentak Pangeran Eric kesal. "Aku tidak suka jika kau membahas tentang darah keluarga Bangsawan. Bagiku aku bukanlah keluarga Wicaksana, kalian sudah mengasingkan ku disini dan kalian tidak pernah melihat bagaimana keadaan ku disini."


"Kalian siapa, Er? Itu mereka, bukan aku." bantah Pangeran Alvaro. "Sudah aku katakan berapa kali bahwa aku menyayangimu sebagai adik sepenuhnya, tidak lebih." ucap Alvaro tulus.


'meskipun aku memang merasa kasihan padamu karena Ayah telah mengasingkan mu ditempat seperti ini.' ucap pangeran Alvaro dalam hati karena dia tidak mungkin mengatakan langsung kepada Eric karena Alvaro yakin jika Eric tau ada yang mengasihaninya, maka dia pasti akan mengamuk.


"Kau mendengarkan ku, Er? Aku tulus mengatakan itu" ucap Pangeran lembut.


Pangeran Eric hanya diam saja sembari menatap lurus ke depan.


"Eric, beri aku kesempatan sekali saja untuk menjadi kakakmu dan orang yang kau percaya. Aku tidak akan mengecewakan mu, Er"


Pangeran Eric menghela nafas pelan. "Baiklah, aku akan memberimu kesempatan dan aku juga akan mencoba percaya padamu. Jika semua ucapan mu itu adalah bohong dan kau sengaja ingin mencari tau keadaanku karena Raja itu, maka aku tidak akan mengampuni mu meskipun kau adalah kakak kandungku."


"Aku tidak akan mengecewakan mu. Apa kau tidak senang jika Ayah peduli dan ingin tau keadaanmu?"


"Aku tidak percaya jika dia memang benar ingin tau keadaanku. Aku yakin dia pasti hanya ingin tau kelemahan ku lalu membunuhku. Kau tau kan, dari dulu dia sangat tidak suka padaku. Bahkan dia tega menuduhku sebagai pembawa sial dan pembunuh." Pangeran tersenyum hambar.


Pangeran Eric tersenyum miring. "Aku yakin firasat ku tidak akan pernah salah."


Mereka berdua terdiam, tetapi sejenak kemudian mereka menatap ke suatu arah yang sama.


Kayla yang baru selesai membersihkan diri langsung keluar mansion untuk menanam bunga mawar.


"Aku lihat di tempat ini tidak ada tanaman bunga Mawar. Maka dari itu aku akan menanamnya disini, untung saja pelayan bisa mencarikan bibit bunga mawar untukku." Kayla berbicara sendiri sembari berjongkok di depan polibag.


"Apa yang sedang istrimu lakukan?" Pangeran Alvaro bertanya sambil melirik Pangeran Eric.


"Entahlah. Aku tidak peduli apa yang ingin dia lakukan" Pangeran menjawab dengan yakin.


"Apa aku boleh menghampirinya?"


"Silahkan!" Pangeran Eric memberi izin.


Kakak-beradik itu beranjak dari bangku dan berjalan ke arah mansion. Pangeran Alvaro menghampiri Kayla, sementara Pangeran Eric masuk ke dalam mansion.


"Salam Putri Leona,"


Kayla terkejut dan dia terduduk di atas tanah.


Pangeran Alvaro tertawa pelan karena melihat reaksi Kayla. "Maafkan aku," Pangeran Alvaro mengulurkan tangan untuk membantu Kayla berdiri.


Kayla menerima uluran tangan Pangeran Alvaro. " Kau mengagetkanku,"


"Maaf," ujar Pangeran sembari tersenyum manis


"Kau berada disini kakak ipar?"


"Ya, seperti yang kau lihat." Pangeran Alvaro melirik ke bawah. "Sedang apa kau, Tuan Putri?"


"Oh, aku sedang menanam bunga mawar." Kayla menjawab.


"Bunga? Apa kau pecinta bunga?".


"Ya, terutama bunga mawar" Kayla berjongkok kembali.


Pangeran Alvaro mengangguk. "Apa aku boleh membantumu?" Pangeran berjongkok disebelah Kayla.


"Eh, tidak perlu kakak ipar. Aku bisa melakukannya sendiri" tolak Kayla halus.


"Hei sudahlah! Aku sekalian ingin belajar bagaimana caranya menanam bunga" Pangeran mencari alasan.


"Benarkah? Baiklah, kakak bisa melihatku lalu nanti ikuti bagaimana caraku menanamnya."


Kayla mulai menggunakan sarung tangan plastik, lalu kemudian mengambil tanah dan memasukkan ke dalam polibag itu. Setelah itu Kayla mulai menanam bibit bunga mawar di dalam polibag yang sudah terisi tanah.


"Kakak ipar bisa melakukannya sepertiku tadi."


"Baiklah, aku akan melakukannya." Pangeran mulai melakukan hal yang sama seperti Kayla tadi, meskipun sesekali salah menancapkan bibit tetapi Kayla dengan sabar mengajari Pangeran Alvaro.


Mereka berdua terkadang tertawa bersama karena wajah tampan Pangeran Alvaro terkena tanah. Sementara dari atas balkon, Pangeran Eric menatap ke arah kakak dan istrinya.


•


•


**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART TOMORROW


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**