
Setelah kejadian yang mana membuat sang Ratu tiada, saat ini peti Ratu Elisabeth sudah masuk ke dalam lobang galian khusus pemakaman.
Kayla hanya melipat kedua tangan di dada sembari menatap ke arah Aurora yang menangis di atas gundukan tanah sang Ibu.
"Kau sudah merasakan semuanya." gumam Kayla tersenyum puas.
Salah satu prajurit menghampiri Kayla dan mengatakan sesuatu Dengan sedikit berbisik.
"Tuan Putri, tamu agung yang sedang anda tunggu telah sampai."
"Benarkah?" Kayla tersenyum senang.
"Benar, Tuan Putri. Beliau sedang menunggu anda di ruang tamu,"
"Baiklah, aku akan segera menemuinya. Kau perintahkan kepada temanmu agar membawa Putri Aurora ke ruang tamu."
Prajurit mengangguk paham.
Kayla pun berjalan ke ruang tamu Istana dengan didampingi oleh dua maid.
"Tuan Putri, kami mendapatkan perintah agar membawa anda pergi dari tempat ini." ucap prajurit yang kala itu berada di samping Aurora.
"Tidak! Aku hanya ingin bersama dengan Ibuku, kenapa kalian tidak membunuhku juga? Aku tidak sanggup jika harus hidup tanpa Ibuku.." Aurora menangis terisak.
"Maaf, Tuan Putri. Ini perintah dan kami harus menjalankannya, jika Tuan Putri tidak ikut dengan sendiri maka maaf jika kami harus memaksa Tuan Putri untuk pergi dari tempat ini."
Aurora menatap tajam kedua prajurit yang ada dihadapannya.
"Kalian tidak perlu memaksa diriku, aku akan ikut dengan kalian." Aurora beranjak dari duduknya dan pergi mengikuti dua prajurit.
Sementara di ruang tamu Istana.
"Salam, Tuan Putri.." sapa tamu itu kepada Kayla.
"Salam, Raja Faris.." Kayla tersenyum tipis dan duduk di seberang sofa Raja Faris.
"Bagaimana, apa saya bisa membawa calon istri saya?" ucap Raja Faris.
"Ternyata kau tidak sabaran, Paduka Raja."
"Tentu saja, aku akan menikahi Tuan Putri Aurora yang masih sangat muda dan cantik" Raja Faris tersenyum senang.
"Bagaimana dengan para istri-istri mu? Apa mereka sudah setuju jika kau menikah lagi?" Kayla melipat kedua tangannya.
"Mereka tidak akan berani melarang saya, Tuan Putri." sahut Raja dengan yakin.
"Baguslah, aku berharap agar istri-istrimu nantinya bisa akrab dengan kakak tiri ku."
"Saya bisaa jamin, Tuan Putri. Jika saya mendapatkan apa yang saya inginkan, maka saya menjamin kalau Tuan Putri Aurora akan hidup bahagia di Istana."
Kayla hanya mengangguk dan semua mata tertuju ke arah Aurora yang baru saja datang ke ruang tamu.
"Ada apa ini?" Aurora bingung karena semua mata menatapnya.
"Perkenalkan, kakak. Dia adalah Raja Faris, calon suamimu." ucap Kayla santai sembari menunjuk sopan pria berusia empat puluh tahun yang ada di seberangnya.
Aurora menatap tidak percaya ke arah Kayla. "Apa maksudmu, Leona? Kau mengatakan bahwa pria tua itu adalah suamiku? Sejak kapan aku memutuskan untuk menikah?"
"Apa aku butuh persetujuan darimu? Kau adalah sebatang kara dan tidak mempunyai apapun di Istana ini, jadi lebih baik kau ikut saja dengan Raja Faris dan jadilah istri yang baik untuknya." Kayla menaikkan sebelah alis.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU!! KAU GILA LEONA KAU TIDAK WARAS!!!" teriak Aurora histeris.
"Sst!!! Jangan berteriak seperti itu, bersikaplah lembut di depan calon suamimu." Kayla melangkah mendekat ke arah Aurora.
"Kau sudah merasakan semua perbuatan yang telah kau dan Ibumu lakukan padaku dan kedua orang tuaku, selama ini aku hanya diam saja karena aku bisa menahan segala kesabaran ku. Tetapi setalah kau dan Ibumu nekad menghabisi Ayahku, disitulah kesabaran ku habis dan kalian harus menerima karma atas apa yang kalian tanam." ucap Kayla pelan dan tajam ketika berada di hadapan Aurora.
"Ketika aku menikah dengan Pangeran Eric, apa kalian semua meminta persetujuan dariku? Bahkan kau sendiri yang mengatakan bahwa aku harus menggantikan mu menikah dengan pria cacat. Tetapi semuanya sekarang akan terbayar lunas ketika kau resmi menikah dengan Raja Faris dan menjadi selir ke tujuh nya." Kayla tersenyum miring.
Putri Aurora melebarkan mulutnya karena terkejut dengan apa yang Kayla katakan. 'S—selir? Aku akan menjadi selir? Bagaimana kehidupanku nanti! Ibu.. Aku ingin ikut bersamamu,' batin Aurora bersedih.
"Apa semuanya sudah selesai? Bisakah aku membawa calon permaisuri ku pulang?" ucap Raja Faris membuyarkan lamunan Aurora.
Aurora menatap jijik ke arah Raja Faris, pria berusia empat puluh tahun dengan memiliki enam istri dan tujuh orang anak dari Istri yang berbeda-beda.
"Aku tidak mau! Lebih baik kalian bunuh saja aku daripada aku harus menikah dengan pria tua ini!!!" teriak Aurora histeris.
"Silahkan, Raja.. Kau bisa membawanya pulang ke Istana mu, aku yakin nanti dia pasti akan terbiasa hidup denganmu."
Raja Faris menggenggam erat jemari Putri Aurora dan memberikan salam kepada Kayla lalu pergi dari Istana.
Kayla mengikuti Raja Faris hingga di teras Istana.
"Dah..." Kayla melambaikan tangan ketika kereta kencana pergi meninggalkan Istana, namun meskipun sudah jauh tetapi teriakan Aurora masih terdengar di telinga Kayla.
Kayla yakin jika Putri Aurora akan menyadari kesalahannya selama ini.
"Leona!" seseorang memanggil Kayla ketika Kayla ingin melangkah masuk ke dalam Istana.
•
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI BAB BESOK 🙏🏻
Jangan lupa berikan dukungan, terimakasih ❤**