
Hari pernikahan pun telah tiba, tak terasa satu minggu sudah berlalu dengan cepat. Kayla tengah berada di dalam kamar, dia baru selesai dirias oleh maid khusus acara pernikahan.
"Lihatlah Tuan Putri, anda sangat cantik sekali" ucap maid itu.
Kayla hanya tersenyum tipis. Meskipun keberatan dengan pernikahan ini, tetapi dia harus menjalaninya dengan ikhlas. Kayla bersumpah akan mengubah kehidupan Pangeran Eric agar lebih baik.
Kayla menatap wajahnya dari pantulan cermin, gaun panjang yang indah serta mengembang di bawah membuatnya terlihat seperti Cinderella, ditambah mahkota bermata berlian yang ada di atas kepalanya.
'Ini adalah hari pernikahan ku. Padahal aku ingin menikah dengan Boy, bahkan Mama dan Papa yang aku inginkan berada di samping ku menemani aku di atas pelaminan. Tapi sekarang, semuanya tidak seperti yang aku bayangkan. Aku harus menikah dengan pria yang entah seperti apa wajahnya' batin ku bersedih.
"Tuan Putri" Bibi Helen masuk ke dalam kamar ku.
Aku menoleh dan seketika senyumku pun terbit. "Bibi" ucapku menginginkan ketenangan.
Bibi Helen berdiri dihadapan ku dan aku langsung memeluk tubuh Bibi helen. Wanita paruh baya yang mengurus Putri Leona sedari Ibunda Ratu meninggal.
Bibi Helen mengelus punggungku. "Tuan Putri, anda tidak boleh bersedih seperti ini. Tersenyumlah, katakan pada dunia bahwa anda baik-baik saja." bujuk Bibi Helen yang tau bagaimana perasaan Tuan Putrinya.
Bibi Helen memberikan kode pada maid agar keluar dan meninggalkan dirinya juga Tuan Putri berdua saja.
Maid itu mengerti dan langsung undur diri.
Pelukan terlepas, Bibi Helen menatap wajah cantik Putri Leona. "Tuan Putri, jika anda nanti sudah resmi menjadi permaisuri pangeran Eric, Bibi minta anda harus menuruti perkataan pangeran Eric dan jangan membantah."
Aku mengerutkan dahi. "Ada apa Bi? Kenapa harus seperti itu?" tanya ku heran.
"Bibi akan membocorkan satu hal padamu, Tuan Putri. Pangeran Eric adalah tipe orang yang tega membunuh atau menyiksa siapapun. Dia tidak suka jika perintahnya dibantah, ataupun diabaikan. Maka dari itu Bibi ingin anda mendengarkan ucapan Pangeran Eric."
Aku terdiam sejenak dan tak lama kemudian mengangguk.
Pintu diketuk, terlihat seorang maid berdiri di depan pintu kamar ku.
"Maaf Tuan Putri, Bibi Helen, rombongan pangeran Eric telah tiba"
"Baik, kami akan segera turun" sahut Bibi Helen. "Mari Tuan Putri. Jangan tunjukkan wajah sedih anda, karena musuh anda nanti pasti akan senang melihat wajah terpuruk anda"
Aku langsung tau siapa musuh yang Bibi Helen katakan, aku pun mengangguk mengerti.
Kami berdua berjalan keluar dari kamar menuju aula pernikahan.
Sesampainya di bawah, aku melihat hanya ada sedikit tamu yang datang. Tentu saja hatiku merasa sedih meskipun saat ini aku sedang berada di tubuh Putri Leona. Pernikahan mewah pada umumnya di sebuah kerajaan tidak akan aku lakukan.
Aku terus berjalan hingga atensi mataku tertuju pada seorang pria duduk di kursi roda, memakai jubah hitam dengan topeng yang menempel menutupi bagian matanya, aku pun semakin penasaran dengan sosok Pangeran Eric. Setelah berjalan beberapa langkah, aku akhirnya sampai di samping pangeran Eric. Dia sama sekali tidak menatap aku ataupun orang lain, pandangannya hanya ke depan saja seperti orang sombong.
Topeng pangeran Eric
Pria paruh baya yang aku yakini adalah pendeta kerjaan mendekat.
"Apa kalian berdua sudah siap?"
"SIAP!" sahutku dan pangeran Eric bersamaan.
Pangeran Alvaro menatap Kayla dari jauh' an. 'Aku sangat kasihan padamu, Putri Leona. Pasti kau akan tersiksa jika nanti hidup bersama dengan Eric, seandainya boleh, aku mau menggantikan Eric agar bersanding denganmu.' batin Alvaro.
Aurora yang menyadari keterdiaman Alvaro langsung menegur. "Pangeran Alvaro" sapa Aurora yang kala itu kebetulan berdiri di samping pangeran Alvaro.
Alvaro menoleh sejenak.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Aurora bertanya lembut.
Alvaro menggeleng. "Tidak ada" sahutnya singkat.
"Benarkah?" Putri Aurora masih penasaran.
"Aku hanya iri saja dengan Eric. Dia sudah menikah, sementara aku kakaknya dilangkahi"
"Jika boleh, sayangnya aku belum mendapatkan sosok wanita yang pas untuk jadi permaisuri ku"
"Aku bersedia jika kau ingin segera menikah, Pangeran. Aku bersedia menikah denganmu,"
Pangeran Alvaro tersenyum tipis. "Sayangnya aku tidak tertarik denganmu"
Seketika senyum dibibir Aurora menghilang. 'Sial! Berani sekali dia menolak ku. Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkan mu, pangeran'
Setelah melakukan beberapa prosesi, akhirnya acara pernikahan telah selesai. Anggota kerajaan Istand sudah ada yang pulang terlebih dahulu.
Aku melihat pangeran Eric memberikan kode kepada seorang pria yang memegang kursi rodanya.
Pria itupun mendekat ke arah ku. "Mohon maaf, Tuan Putri. Perkenalkan saya Jack, saya adalah asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Pangeran Eric. Saat ini pangeran ingin segera membawa anda pulang, beliau tidak ingin lama-lama berada disini"
Aku terdiam sembari bibir ku sedikit terbuka karena terkejut. 'Apa pria itu benar-benar gila? Dia bahkan tidak ingin berada di rumah mertuanya sendiri' batinku menggerutu.
"Tuan Putri! Mari, saya takut pangeran kambuh karena anda tidak menuruti keinginannya dan nanti malah membuat kerusuhan disini."
Aku langsung mengangguk dan ingin berjalan ke tangga.
"Tidak perlu membawa apapun Tuan Putri, semua kebutuhan anda sudah dipersiapkan" ucap Jack.
Aku tidak menjawab ucapan Jack. Aku mengikuti arah kemana Jack menunjuk, saat berjalan aku pun tidak sengaja melewati Aurora yang terlihat menyunggingkan senyum mengejek ke arah ku. Aku hanya bisa pasrah, daripada harus melawannya sekarang bisa-bisa reputasi ku akan hancur.
Aku menaiki kereta kencana milik Pangeran Eric. Ayah dan Bibi Helen melambaikan tangan saat melihat kepergian ku.
"Semoga saja kau selalu bahagia, Putriku. Lihatlah Jihan, putri kita sudah besar dan sudah menikah. Aku yakin kau melihat dari atas sana dan pasti bahagia karena putri kita sudah menikah'' gumam Raja Vincent.
Bibi Helen pergi undur diri, sementara Ratu Elisabeth menghampiri Paduka Raja Vincent. "Suamiku, Leona sudah pergi. Ayo kita masuk"
Raja Vincent mengangguk dan masuk ke dalam istana.
•
•
•
Di dalam perjalanan menuju kerajaan timur.
"Jack! Kenapa lama sekali sampainya?" aku yang merasa lelah pun langsung bertanya pada Jack.
Jack hanya diam saja tanpa menjawab perkataanku.
"Apa dia tuli? Mengapa hanya diam saja." aku melirik sekilas ke arah wajah Pangeran Eric yang tertutupi topeng.
Dapat aku lihat luka bakar dan seperti terkena sebilah pisau di bagian pipi kiri Pangeran. 'Apa yang terjadi padanya? Kenapa baru melihat wajahnya yang tertutupi topeng saja sudah membuatku takut? Dia sangat menyeramkan'
Pangeran Eric hanya diam saja sembari terus menatap ke depan tanpa ingin melihat ke arah ku sejenak. Aku pun menguap karena perjalanan serasa sangat jauh sekali, mataku lelah dan akhirnya aku tertidur.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**