Lady Devil

Lady Devil
Bab 49 LADY DEVIL



Pangeran Alvaro menuruni anak tangga dengan tatapan yang sulit untuk dibaca.


"Kakak ipar, kau—" belum selesai Kayla berbicara, Pangeran Alvaro bersimpuh di bawah kaki Pangeran Eric.


Pangeran Eric dan Kayla kaget.


"Kakak ipar apa yang kau lakukan?" Kayla memegang lengan Pangeran Eric.


"Aku bodoh, aku sangat bodoh karena telah berusaha untuk merebut mu dari Eric, Leona.." Pangeran Alvaro berbicara dengan nada sedih.


"Bangunlah." Pangeran Eric membantu sang kakak berdiri.


"Maafkan aku, Eric. Aku bersalah, aku salah.." Pangeran Alvaro memeluk tubuh Pangeran Eric.


Pangeran Eric menghela nafas pelan. "Kau tidak perlu merasa bersalah, jujur aku sebenarnya masih sedikit kesal terhadapmu, tetapi sudahlah.. Lupakan saja,"


Pelukan terlepas.


"Aku berjanji tidak akan menganggu dirimu dan Leona lagi, aku sudah malu karena Ayah ku adalah seorang pembunuh dan aku juga sudah tidak punya siapapun lagi selain dirimu, adikku." Pangeran Alvaro menyadari kesalahannya.


"Ya, jika kau sudah sadar maka itu sangat bagus. Aku hanya ingin kau hidup seperti yang kau inginkan, jangan pernah menganggu kebahagiaan siapapun." ucap Pangeran Eric.


"Aku berjanji Eric, aku juga sepertinya tidak pantas untuk memimpin kerajaan ini."


"Jika bukan dirimu yang memimpin, lalu siapa lagi?"


"Kau! Kaulah yang pantas memimpin kerajaan ini Eric, kau lebih tegas dibanding aku.'' sahut Pangeran Alvaro.


"Aku?" Pangeran Eric melirik Kayla sekilas, dan terlihat Kayla menggelengkan kepala pelan. "Tidak! Tidak bisa kak, aku harus mengurus kerajaan Barat Daya."


"Benarkah?" Pangeran Alvaro menatap Eric dan Kayla bergantian.


"Tentu, jika suamiku harus memimpin kerajaan ini lalu siapa lagi yang akan memimpin kerajaan Barat Daya?" Kayla angkat suara.


Pangeran Alvaro hanya mengangguk. "Terima kasih karena kalian sudah memberikan aku kepercayaan untuk menjadi pemimpin di kerajaan ini. Ya, meskipun aku merasa tidak cocok." Pangeran Alvaro malu pada dirinya sendiri yang sudah berpikir akan merebut istri sang adik.


"Kau jangan bicara seperti itu kak, kau sangat tegas. Aku yakin mau mampu memimpin kerajaan dengan baik, aku menyerahkan segalanya padamu. Kau harus berusaha adil dan selalu membela yang benar, jika kau tidak bisa memimpin kerajaan maka aku akan menghabisi dirimu." gertak Pangeran Eric dengan tersenyum tipis.


Mereka tertawa pelan bersama-sama.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Kakak ipar harus mengurus mayat prajurit bukan? Kami tidak ingin menganggu pekerjaan kakak," ucap Kayla berpamitan.


"Hati-hati dijalan."


Pangeran Eric dan Kayla mengangguk lalu mereka keluar dari Istana diikuti oleh Jack dan beberapa prajurit mansion. Sementara prajurit lainnya menunggu diluar Istana.


----------------------


Sesampainya di Istana kerajaan Barat Daya. Pangeran dan Kayla langsung masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana keadaan Ibu tiri dan saudari tiri mu?" Pangeran berbicara sembari melepas topengnya.


"Mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik." Kayla yang kala itu sedang berada di meja rias tersenyum tipis sembari menatap Pangeran Eric dari pantulan cermin.


"Apa yang sudah kau lakukan pada mereka?" kali ini Pangeran membuka jubahnya.


Glek!


Kayla meneguk Saliva nya kasar ketika melihat Pangeran Eric yang bertelanjang dada. Jantungnya berdegup kencang ketika mengingat kejadian malam pertama itu, dada bidang dengan sedikit bulu halus dan juga perut kotak-kotak yang menghiasi diri Pangeran.


''Ya Tuhan, kenapa jantung ku berdegup begitu kencang? Padahal aku sudah pernah melihat dada bidang itu, tetapi saat ini rasanya berbeda.' batin Kayla,.mungkin waktu itu dia tidak terlalu meneliti setiap inci tubuh Pangeran Eric.


Pangeran yang sadar bahwa Leona nya melamun langsung menegur.


"Leona, mengapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?"


Kayla terjingkat kaget karena Pangeran sudah berada di sampingnya.


"Pangeran apa yang kau lakukan?" Kayla memalingkan wajah.


"Aku?" Pangeran menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku hanya bertanya apa yang sudah kau perbuat kepada Ibu dan saudari tiri mu. Kau hanya diam saja maka dari itu aku menghampiri dirimu,"


Kayla hanya mengambil nafas lalu menghembuskan nya perlahan, dia harus bisa menetralkan degup jantungnya.


Pangeran hanya menjawab lalu dia menundukkan badan dan mengecup bibir manis Putri Leona yang menjadi candunya.


Cup!


Kayla diam tak berkutik, rasa aneh itu menjalar kembali ditubuhnya.


"Aku harus segera pergi," ucap Pangeran.


Kayla mendongak dan menatap wajah tampan sang Pangeran. "Pergi? Kau mau kemana, Pangeran? Bukankah urusanmu sudah selesai," Kayla seperti tidak terima jika harus berjauhan dengan Pangeran.


"Aku harus pergi ke hutan rimbun dimana Raja Ahmad telah ditempatkan."


Kayla hanya mengangguk dan beranjak dari kursi sementara Pangeran berjalan menuju ranjang.


"Pangeran, bagaimana kau bisa mengalahkan Ayahmu? Bukankah dia sangat hebat dalam hal beladiri?"


"Peperangan itu bukan hanya menggunakan tenaga saja, Leona. Tetapi juga otak,"


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," Kayla masih bingung.


"Ya, aku membiarkan Raja menyerang ku hingga dirinya puas dan kemudian tenaganya habis lalu dia pasti akan menjadi lemah. Dalam hal itu aku tidak menyerangnya karena aku lebih memilih menghindar, setelah ku lihat Raja mulai lemah dan kehabisan tenaga disitulah aku mulai melakukan penyerangan." Pangeran menjelaskan.


Kayla hanya mengangguk, suaminya itu sangatlah pintar.


"Aku harus segera membersihkan diri dan melihat keadaan Raja Ahmad." Pangeran beranjak dari duduknya.


"Aku akan menyiapkan pakaian mu," Kayla juga beranjak dan mempersiapkan pakaian Pangeran."


*


Beberapa saat kemudian pangeran telah selesai dan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, dengan rambut yang basah karena sehabis keramas membuat sang Pangeran terlihat sangat cool.


"Ini pakaianmu," Kayla memberikan sepasang jubah kepada Pangeran.


"Terima kasih," Pangeran menerima pakaiannya.


"Aku akan mempersiapkan makanan untukmu," Kayla membalikkan badan dan ingin keluar dari kamar tetapi Pangeran dengan cepat menarik tangan Kayla hingga Kayla membentur dada bidang milik Pangeran.


Mata mereka saling bertubrukan, manik mata abu milik Pangeran terus menatap manik mata biru bening milik Kayla tanpa berkedip. Pangeran menyelipkan anak rambut Kayla dibelakang telinga.


"Kau sangat cantik, Leona." ucap Pangeran tulus.


Ada rasa bahagia dan sedih ketika Pangeran mengatakan hal itu, sedih karena dirinya di panggil Leona dan bahagia karena Pangeran menatapnya dengan penuh cinta.


"Ehm.." Kayla berdehem untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. "Aku tau, Pangeran." Kayla tersenyum tipis.


"Aku sebenarnya ingin melakukan hal pertama yang pernah kita lakukan waktu itu," Pangeran berbicara jujur.


"Aku yakin nanti pasti akan ada waktunya untuk melakukan itu," Kayla mengelus lembut tangan Pangeran yang berada di wajahnya.


Pangeran melepaskan Kayla. "Baiklah, aku akan segera bersiap setelah itu kita makan bersama."


Kayla mengangguk dan berjalan keluar dari dalam kamar.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA TINGGALKAN DUKUNGAN SERTA JEJAKNYA, TERIMAKASIH 🙏🏻😘**


assalamualaikum