
Pangeran Alvaro menatap dendam ke arah Pangeran Eric.
"Sejak kapan kau mengakui Ayah sebagai orang tuamu?" ucap Pangeran Alvaro dengan suara tegas.
"Sejak aku mengetahui bahwa dialah yang sudah menghabisi Ibuku."
Dahi Pangeran Alvaro mengerut. "Apa maksudmu? Aku bertanya apa dan kau menjawab dengan jawaban yang berbeda."
"Aku datang kesini bukan untuk berbasa-basi, panggil Raja Ahmad sekarang dan katakan aku ingin bertemu dengannya!" Pangeran Eric berbicara dengan suara bariton yang menggelegar di dalam Istana.
Tap
Tap
Suara sepatu milik Raja terdengar menuruni anak tangga.
"Kau tidak perlu berteriak seperti itu anak pembawa sial!" bentak Raja dengan wajah memerah.
Semua mata menuju ke tangga.
Senyum sinis terbit dibibir Pangeran Eric. "Siapa yang kau katakan pembawa sial?"
"Tentu saja dirimu, apa kau melupakan segalanya!" Raja Ahmad tersenyum miring ketika sudah berada di hadapan Pangeran Eric.
"Kau salah Raja Ahmad, kau salah!!! Kaulah yang sebenarnya pembawa sial karena kau telah sengaja meletakkan Bom di aula kerajaan Selatan dan menyebabkan Ibuku tiada!!!" teriak Pangeran dengan murka.
Deg!
Jantung Raja Ahmad membeku seketika, bibirnya kelu dan tidak mampu mengucapkan apapun.
'Sudah aku duga jika ini pasti akan terjadi. Kemana para prajurit? Mengapa anak sialan ini bisa masuk ke dalam Istana.' Raja Ahmad melirik sekilas keluar Istana.
"Apa kau sedang mencari para prajurit lemah mu itu?" Pangeran langsung bertanya ketika menyadari bahwa Raja pasti tengah mencari prajuritnya.
"Eric, apa yang kau katakan! Bisa-bisanya kau menuduh Ayah sebagai penyebab Ibu meninggal. Apa kau sudah tidak waras??" bentak Pangeran Alvaro tidak terima.
"Kau tanyakan saja sendiri kepada Ayahmu apa yang sudah dia lakukan dua puluh tahun yang lalu kepada Ibuku." Pangeran Eric berbicara santai.
Pangeran Alvaro maju mendekat ke samping sang Ayah dan langsung mengajukan pertanyaan. "Ayah, benarkah yang Eric katakan?"
Raja Ahmad menoleh sekilas menatap Pangeran Alvaro.
"Ayah jawab aku!"
"Ya! Dia benar!!! Akulah yang sudah meletakkan bom di aula kerajaan Selatan, tetapi itu semua karena aku ingin menghabisi anak ini, tidak lebih!" teriak Raja Ahmad dan berbicara jujur.
Pangeran Alvaro menggeleng. "Ayah, Ayah adalah seorang pembunuh. Ayah sudah menghabisi istri Ayah sendiri," lirih Pangeran tidak percaya, selama ini dia juga berpikir bahwa Pangeran Eric lah yang sudah menyebabkan sang Ibu tiada.
"Tapi Ayah melakukannya untuk menghabisi anak sialan ini!" Raja Ahmad menunjuk Pangeran Eric. "Ayah tidak menyangka jika Ibumu berhasil lolos dari genggaman Ayah dan kembali masuk ke dalam aula."
"Meskipun tidak sengaja tetapi kau tetap pembunuh Ibuku, Raja Ahmad. Kau harus mendapatkan balasan setimpal untuk kesalahanmu itu."
Raja dan Pangeran Alvaro menatap ke arah Pangeran Eric.
"Apa maksudmu!" bentak Pangeran Alvaro marah.
"Ya, aku sudah bersumpah akan membalaskan kematian Ibuku kepada siapapun yang sudah membuatnya meninggal dunia. Ayahmu itu pantas mendapatkan hukuman karena dia sudah sengaja ingin membunuhku di saat usia ku masih lima tahun, dan dia telah memfitnah aku serta mengasingkan aku ke dalam hutan lebat yang tidak ada satupun rumah di sana selain mansion tempat tinggal ku." Pangeran menghela nafas kasar. "Dia juga telah bersekongkol dengan juru masak di mansion agar membuatku lumpuh lalu lama kelamaan aku akan segera mati!" lanjutnya.
Pangeran Alvaro tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut sang adik. "Ayah, katakan bahwa apa yang dikatakan Eric itu salah."
Raja Ahmad hanya diam saja.
"Ayah hanya diam? Berarti yang dikatakan Eric benar adanya, aku tidak menyangka jika Ayah adalah orang tua yang sangat jahat." Pangeran Alvaro berlalu pergi menaiki anak tangga.
"Alvaro!" Raja Ahmad memanggil sang putra mahkota.
Pangeran Alvaro hanya diam saja sembari terus berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Raja Ahmad menatap Pangeran Eric dengan amarah. "Sudah puas kau menghancurkan kepercayaan putraku yang ada untukku?"
"Tentu saja aku belum puas, Raja. Itu belum seberapa, kau harus mati di tangan ku terlebih dahulu barulah aku akan merasa puas." Pangeran Eric mulai mencabut pedangnya dari sangkar.
HIYA!!!
Perkelahian antara Ayah dan anak itupun dimulai.
Jack yang akan ikut turun tangan untuk membantu prajurit lainnya berbisik kepada salah satu prajurit mansion terlebih dahulu.
Sret!!!
Goresan dalam berhasil Pangeran layangkan di lengan Raja Ahmad.
Raja Ahmad mundur beberapa langkah dengan memegangi lengannya yang mengeluarkan darah segar.
"Kau, aku pasti akan membunuh mu sekarang juga anak sialan!" geram Raja emosi dan mulai menyerang pangeran Eric untuk kesekian kalinya.
•
•
•
Di Kerajaan Barat Daya.
Setelah membersihkan diri, Kayla langsung turun ke ruang bawah tanah. Dia ingin melihat kondisi Ibu tiri dan saudari tirinya.
Ratu dan Aurora mendengar suara hentakan sepatu heels milik Kayla, mereka bersama-sama menoleh menatap tangga.
Kayla muncul dengan senyum dibibir. "Apa kabar Ibu dan kakak?" Kayla melipat kedua tangannya di dada ketika dia sudah sampai di depan jeruji besi.
"Keluarkan kami dari sini!" teriak Aurora kesal.
"Mengeluarkan kalian? Ck ck! Tidak akan, sebelum kalian menderita aku tidak akan pernah mengeluarkan kalian dari tempat terkutuk ini." Kayla tersenyum remeh.
"Kau benar-benar kejam Leona! Kau jahat!" teriak Aurora emosi.
"Bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian tidak sadar jika kalian berdua juga sangat kejam serta jahat!"
"Kau sangat durhaka, Leona. Kau mengurung ku yang berstatus sebagai Ibumu di dalam jeruji besi seperti ini!" Ratu Elisabeth angkat bicara.
"Oh ya ampun.. Sejak kapan kau menjadi Ibuku, Bibi Elisabeth? Sungguh aku sangat terharu," Kayla memasang wajah memelas.
"Keluarkan kami dari sini, Leona!" ucap Ratu mencoba berbicara lembut.
"Cih! Kau tidak perlu sok baik dan sok lembut di depan ku seperti ini. Kau adalah pembunuh Ayah dan Ibuku, aku tidak akan berbuat baik terhadapmu meskipun kau berlutut di kaki ku." ucap Kayla tajam.
Salah satu prajurit menghampiri Kayla dan mengatakan sesuatu dengan suara pelan.
Kayla mengangguk dan membalikkan badan untuk pergi dari ruang bawah tanah.
"Prajurit! Jangan ada yang memberi makanan kepada mereka berdua, jika ada yang memberi makanan maka aku akan memotong tangan kalian. Paham!"
"Paham Tuan Putri," sahut prajurit dengan tegas dan menunduk sopan.
Kayla langsung pergi menaiki tangga untuk menemui seseorang yang prajurit tadi katakan.
"Ibu, Leona benar-benar jahat. Aku tidak menyangka dia mempunyai sifat tega seperti ini, kita bisa mati kelaparan jika tidak diberi makan, Bu." keluh Aurora sedih.
"Sudah kau tenanglah, Ibu yakin itu hanya gertakan yang Leona katakan. Nanti pasti salah satu pelayan akan mengantar makanan untuk kita berdua." Ratu mencoba menenangkan sang Putri tunggal.
'Sia-sia rencana ku selama ini. Putri ku gagal menjadi pewaris dan kami harus mendekam di jeruji besi! Lihat saja Leona, jika aku bisa bebas dari kurungan ini maka aku pasti akan langsung menghabisi mu.' tekad dalam hati yang Ratu Elisabeth katakan.
•
•
•
**TBC
assalamualaikum
HAPPY READING
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN LIKE, VOTE, KOMEN, ATAU KOMENTAR TERBAIK YA, RATE 5 JUGA YA. TERIMAKASIH ,😘😘**
🍎🍎🍎🍎🍎
MAMPIR KE NOVEL MAMA RENI YUK 😘