
Tak terasa satu minggu sudah status Kayla menjadi seorang permaisuri Pangeran Eric. Tetapi sama sekali tidak ada perubahan, pangeran tetap dengan sifat temperamennya.
"Bagaimana caranya aku mengubah sifat pangeran Eric?" gumam Kayla di dalam kamar sembari mengigit kuku jarinya. "Aku harus bisa mengambil hatinya, lalu setelah pangeran sudah bisa mengendalikan emosinya, aku akan segera meminta cerai dan tidak akan lagi menggangunya. Diantara kami juga tidak ada cinta, jadi tidak masalah jika kami berpisah" lanjut Kayla yakin.
Kayla melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Sudah malam, sebaiknya aku tidur dulu. Besok baru memikirkan kembali rencana selanjutnya untuk menjerat hati Pangeran" Kayla berjalan menuju ranjang dan mulai merebahkan diri, tak lama kemudian dia tertidur.
Sementara di kamar lain.
Seorang pria tengah berdiri di dekat jendela kamar.
"Bagaimana? Apa kau sudah tau siapa pembunuh Ibuku?" ucap pria itu dengan suara beratnya.
"Maaf, Pangeran. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda tentang siapa yang sudah sengaja membunuh Yang Mulia Ratu."
"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah memisahkan aku dan Ibuku." geram Pangeran Eric penuh dendam.
Pangeran Eric ingin membalikkan badan untuk menuju ranjang, tiba-tiba tubuhnya oleng begitu saja.
"Pangeran!" dengan sigap Jack langsung memapah tubuh pangeran Eric dan menuntunnya ke arah ranjang.
Sebelum sampai di ranjang, tubuh pangeran Eric bergetar dan keluar keringat dingin dari dahi serta seluruh tubuh sang pangeran. Jack mulai khawatir tentang keadaan pangeran, dia mendudukkan pangeran di kursi dan mulai bergegas mengambil obat yang berada di laci.
"Pangeran! Minum dulu obatnya'' Jack menyerahkan obat itu terhadap sang pangeran, tetapi saat obat sudah berada di tangan pangeran dan Jack memberikan minum, pangeran dengan cepat menghempaskan kasar tangan Jack yang memegang gelas.
PYAR!
Gelas hancur berantakan di atas lantai. Pangeran menatap ke depan dengan tatapan kosong, dia mulai melempar vas bunga yang ada di meja sampingnya ke arah cermin.
Cermin hancur berkeping-keping. Jack mulai bingung dan dia memutuskan untuk keluar dari kamar pangeran Eric, daripada dirinya yang akan kena amukan.
Sesampainya diluar kamar, Jack langsung mengunci pintu kamar itu dari luar.
Kayla yang kala itu masih tertidur pulas langsung terbangun karena mendengar suara berisik dari lantai bawah.
"Suara apa itu?" Kayla menggulirkan bola mata ke arah jam dinding. "Pukul dua dini hari" gumam Kayla pelan, dia bergegas turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
Tap
Tap
Langkah kaki Kayla setengah berlari menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah, Kayla berjalan menuju ke sebuah lorong yang dia yakini suara berisik itu berasal dari sana. Setelah berhasil menemukan suara berisik itu, Kayla dari kejauhan dapat melihat seorang pria berdiri tak jauh dari dirinya.
"Apa itu Jack?" Kayla terus berjalan dan menatap dengan seksama pria yang berdiri itu.
"Jack!" seru Kayla saat dia sudah mendekati Jack.
Jack langsung menoleh. "Tuan Putri," gumam Jack pelan.
"Jack, suara apa itu?" Kayla menatap pintu ruangan tersebut.
"Apa anda belum tidur, Tuan Putri?" Jack mengajukan pertanyaan kepada Kayla.
"Sudah. Tapi aku tadi mendengar suara berisik, maka dari itu aku terbangun dan ingin mengeceknya." sahut Kayla. "Kau belum menjawab pertanyaan ku, ada apa di dalam sana?" Kayla menunjuk ke arah pintu kamar.
Jack menunduk. "Pangeran mengamuk, Tuan Putri"
Kayla tercengang mendengar ucapan Jack. "Mengamuk? Kenapa —" Kayla tidak meneruskan ucapannya karena terus mendengar barang-barang pecah di dalam kamar tersebut. "Jack kenapa kau tidak menghentikannya?".
"Saya tidak ingin jadi sasaran amukan Pangeran, Tuan Putri. Pangeran jika sudah mengamuk tidak akan melihat siapapun, dia akan melampiaskan amarah itu kepada siapapun yang ada bersamanya" ucap Jack menjelaskan.
Kayla semakin tidak tau bagaimana pola pikiran Pangeran Eric. Jack dan Kayla terus mendengarkan pecahan-pecahan barang di dalam kamar Pangeran Eric. Hingga beberapa saat kemudian, suara itu tidak ada lagi.
"Jack, kenapa suaranya berhenti? Apa pangeran sudah tidak lagi mengamuk?" Kayla bertanya heran.
"Tuan Putri tunggu disini, saya akan memeriksanya kedalam."
Kayla mengangguk dan Jack langsung membuka kunci pintu kamar.
Tak lama kemudian.
Jack keluar dari kamar.
"Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?" Kayla langsung bertanya.
"Saya mohon agar Tuan Putri menggantikan pakaian Pangeran. Keadaan beliau sangat kacau,"
"Aku? Kenapa harus aku? Memang biasanya siapa yang menggantikan pakaian pangeran setelah dia selesai mengamuk?"
"Biasanya saya yang akan menggantikan pakaian pangeran, Tuan Putri. Tetapi berhubung pangeran sudah menikah, maka permaisuri pangeran lah yang akan mengurusnya."
"Aku bukan baby sitter nya, Jack!" bantah Kayla karena dia takut jika dirinya di dalam maka nanti tiba-tiba Pangeran mengamuk lagi.
"Tapi anda istri pangeran, Tuan Putri. Anda harus ingat kewajiban sebagai istri"
Kayla langsung terdiam ketika Jack mengatakan kewajiban. Kayla menghirup nafas dan membuangnya pelan.
"Baiklah, aku akan masuk ke dalam." Kayla berjalan ke arah pintu kamar. "Ingat Jack! Kau jangan kemana-mana, tunggu disini saja hingga aku keluar." perintah Kayla.
"Baik Tuan Putri" Jack menunduk patuh. "Tuan Putri!" Jack memanggil Kayla.
Kayla yang baru memegang handel pintu langsung menoleh. "Ada apa?".
"Jika sudah berada di dalam, anda dilarang menghidupkan lampu atau senter." peringatan dari Jack.
Kayla hanya mengangguk meskipun banyak pertanyaan yang singgah dipikirannya.
Dengan perlahan Kayla masuk ke dalam kamar, jantungnya merasa dag dig dug tak karuan kala pemandangan pertama yang dia lihat adalah kegelapan.
"Kenapa gelap sekali?" gumam Kayla melihat sekeliling, hanya ada satu buah lilin di dalam sana dan itupun sangat jauh dari jangkauan Kayla.
Tangan Kayla terulur untuk menghidupkan lampu, tetapi dia teringat perkataan Jack. 'Jangan hidupkan lampu atau senter' perkataan itulah yang Kayla ingat.
"Memangnya ada apa hingga aku dilarang menghidupkan lampu," Kayla sebenarnya sangat penasaran, tetapi dia berusaha untuk menghilangkan semua rasa penasarannya itu.
Kayla mulai berjalan pelan, hingga sampai beberapa langkah dari pintu, Kayla tersandung sesuatu.
"Aw," Kayla jatuh terjungkal. Dia segera berjongkok dan meraba apa yang membuatnya terjatuh. "Apa ini?" gumam Kayla sembari terus memperhatikan sekaligus meraba sesuatu itu.
"Astaga!" pekik Kayla kaget kala memegang bibir seseorang. "Apa ini Pangeran Eric?" Kayla kembali meraba. "Benar ternyata ini Pangeran Eric." Kayla dapat mencium bau anyir dari tubuh Pangeran Eric.
"Bau darah, apa pangeran terluka?" Kayla merasa kasihan melihat keadaan pangeran.
Kayla berdiri dari jongkoknya dan berjalan sembari mencari sesuatu untuk merebahkan tubuh pangeran, dia tidak mungkin membersihkan tubuh pangeran dengan keadaan di bawah lantai seperti itu. Meskipun dalam kegelapan, tetapi pancaran lilin yang tidak terlalu terang bisa membantu Kayla mencari sesuatu yang diinginkan.
Mansion pangeran Eric
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA
JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMAKASIH 😘
∆∆∆∆∆∆∆
MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR JUGA YUK 😍**