Lady Devil

Lady Devil
Bab 52 LADY DEVIL



Kayla melangkah masuk ke dalam Istana.


"Leona!" seru seseorang dan itu berhasil membuat langkah Kayla terhenti.


Dahi Kayla mengerut ketika melihat siapa yang datang ke Istananya.


"Kakak?" gumam Kayla pelan sembari menatap Santika yang berjalan menghampirinya.


"Salam, adik." Santika mengatupkan kedua tangan di depan dada diiringi senyum ramah.


"Salam," Kayla pun membalas salam dari Santika dengan senyum tipis.


"Apa kedatangan ku menganggu mu?" seperti dapat membaca pikiran Kayla, Santika menanyakan hal yang mungkin membuatnya tidak enak karena datang sebagai tamu yang tak di undang.


"Tidak, kak. Masuklah!" Kayla dan Santika masuk ke dalam Istana bersama-sama.


"Apa Paman tidak ikut?" Kayla bertanya ketika mereka telah duduk di sofa.


"Tidak, Ayah sedang banyak pekerjaan jadi dia tidak bisa ikut berkunjung ke Istana ini."


Kayla hanya mengangguk.


"Leona, apa aku boleh menginap disini untuk beberapa hari ke depan?"


Kayla menatap heran ke arah Santika. "Memangnya ada apa, kak? Apa ada masalah?"


Santika menghembuskan nafas pelan lalu sejenak kemudian mengangguk.


"Katakan, barangkali aku bisa membantu." ujar Kayla mencoba mengakrabkan diri.


"Aku ingin dijodohkan," Santika berkata dengan lesu.


"Dijodohkan? Benarkah? Lalu dengan siapa?"


"Aku dijodohkan dengan pria pilihan Ayah. Pria itu adalah Raja dan usianya sudah menginjak tiga puluh dua tahun." jawab Santika dengan lemas.


"Kak, bukannya itu bagus? Pria itu adalah Raja dan kau pasti juga akan mendapatkan bimbingan dewasa darinya karena dia sudah berumur. Lalu kenapa kakak tidak mau menikah dengannya?"


"Pria itu sangat jelek, Leona.." Santika menutup wajah menggunakan telapak tangannya.


"Oh ya? Jika sudah begitu maka aku tidak bisa berkata apapun lagi, memang ciri-ciri calon suamimu itu seperti apa?"


"Seperti suamimu." Santika membekap mulutnya karena sudah keceplosan dalam berbicara.


Kayla menggeleng. "Kau ingin merebut suamiku ya?"


"Tβ€”tidak! Maksud ku, aku ingin mencari pria yang seperti suamimu bukannya aku ingin merebut suamimu." kilah Santika.


"Memang apa yang kau lihat dari suamiku sehingga kau ingin mencari pasangan hidup yang seperti dirinya?" Kayla melipat kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan tubuh di sofa.


"Suamimu itu tampan, kekar, tatapan matanya juga.. Sangat menghipnotis," Santika tersenyum sendiri.


Bugh!


Kayla melemparkan bantal sofa tepat di wajah Santika. "Berhenti mengagumi suamiku atau aku akan mencongkel bola matamu." gertak Kayla dengan tatapan tajam bak serigala.


Santika hanya mengelus wajahnya lalu kenapa Kayla. "Adik, sudah ku katakan tidak mungkin aku merebut suamimu. Aku hanya mengaguminya, apa itu salah?"


"Tentu saja salah! Kau bahkan tidak berpikir sedang mengatakan hal itu kepada siapa." Kayla beranjak dari duduknya, dia benar-benar kesal dengan kakak sepupu Putri Leona.


"Kau mau kemana?" Santika mendongak guna menatap Kayla.


"Aku ingin pergi, aku tidak suka jika kau mengagumi suamiku seperti itu!" Kayla melangkah pergi meninggalkan Santika yang diam sendirian.


"Ada apa dengannya? Aku hanya mengagumi saja, tidak lebih. Lagipula mana mungkin aku menyukai atau berniat merebut suaminya, dia itu sangat berlebihan." Santika beranjak dan pergi menuju kamar tamu.


"Tunggu!" suara seseorang berhasil menghentikan langkah Santika.


Santika menoleh dan melihat ke sumber suara. 'Ya Tuhan, dia siapa lagi? Tampan nya..' batin Santika sembari menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Apa Putri Leona ada di dalam?" ucap Pangeran Alvaro yang baru saja datang.


Santika terus tersenyum hingga tak memperdulikan pertanyaan Alvaro.


"Maaf, apa Putri Leona ada di dalam?" pertanyaan yang sama berhasil lolos dari bibir Alvaro.


"Mengapa dia hanya tersenyum saja?" Pangeran heran dan menatap Santika dari atas sampai bawah. "Dia sepertinya juga Putri kerajaan, tetapi kenapa sikapnya seperti orang tidak waras yang terus tersenyum?" Pangeran mengedikkan bahu lalu pergi meninggalkan Santika yang terus tersenyum.


Setelah beberapa saat kemudian.


"Tuan Putri," Bibi Helen menepuk pundak Santika dengan pelan karena Santika terus tersenyum sembari menatap ke arah tangga.


Santika terkejut lalu menoleh. "Bibi, mengapa kau mengagetkanku?" Santika mengelus dadanya.


"Mohon maaf, Tuan Putri. Saya hanya heran karena melihat anda yang sedari tadi hanya tersenyum sendirian," Bibi Helen menunduk sopan.


"Bi, aku ingin bertanya. Siapa pria yang baru saja naik ke lantai atas?" Santika menatap Bibi Helen dengan serius.


"Dia itu adalah Raja Alvaro."


Mata Santika membulat. 'Raja? Oh Tuhan, doa adalah Raja dan masih sangat muda..' batin Santika.


"Apa dia sudah mempunyai istri? Lalu mengapa dia datang ke Istana dan mencari Leona? Apa dia ada urusan dengan Leona?" pertanyaan beruntun yang Santika lontarkan.


"Seharusnya Tuan Putri bisa bertanya satu+satu terlebih dahulu, saya menjadi bingung harus menjawab yang mana."


"Bibi harus menjawab semuanya, tetapi yang paling dulu apa dia sudah mempunyai Istri?"


"Raja Alvaro belum mempunyai Istri, Tuan Putri. Beliau adalah kakak kandung pangeran Eric, suami Tuan Putri Leona." ucap Bibi Helen.


Wajah Santika berbinar. "Jadi dia masih sendiri?"


Bibi Helen mengangguk.


'Oh, ternyata ini adalah sinyal untukku. Sepertinya aku akan segera menemukan cinta sejati ku,' batin Santika berharap.


"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar Leona dulu. Terima kasih sudah menjawab pertanyaan ku ya, Bibi.." Santika langsung pergi meninggalkan Bibi Helen yang mengangguk.


Bibi Helen hanya menggeleng melihat kelakuan Santika, memang dari dulu Santika tidak pernah berubah, dia tetaplah wanita dengan penuh keceriaan dan humoris.


Santika terus menaiki anak tangga dengan senyum yang tak kunjung luntur. "Astaga, akhirnya aku menemukan pria yang masuk ke dalam seleksi calon suami idaman ku. Dia itu sangat tampan, ya meskipun masih lebih tampan suami Leona. Tapi aku tidak perduli, daripada aku harus menikah degan Raja Glord lebih baik aku menikah dengan pria tampan yang menjadi kakak ipar Leona." Santika sangat gembira, dia tidak memikirkan apakah Alvaro mau menikah dengannya atau tidak, apakah Alvaro tertarik padanya atau tidak.


Santika mulai merapikan pakaian dan rambutnya ketika dia sudah selesai menaiki anak tangga, dengan penuh keanggunan Santika berjalan menuju kamar Leona dan dia berharap jika di sana ada Raja Alvaro.


Tok! Tok!


"Mengapa pintunya dikunci ya? Aku jadi curiga..'' gumam Santika sembari menempelkan telinganya di daun pintu.


"Tidak ada suara apapun." Santika kembali menempelkan telinga di daun pintu.


Seseorang menepuk pundak Santika dari belakang.


"Hei, jangan menggangguku." Santika menyingkirkan tangan seseorang yang berada di pundaknya.


Tepukan kembali di alami Santika.


"Sudah aku katakan jangan mengangguk ku, aku sedang mendengarkan suara Leona dan kakak iparnya yang berada dalam satu kamar." ucap Santika tanpa menoleh kebelakang karena dia yakin bahwa yang menepuk pundaknya adalah maid.


Kayla dan Alvaro kaget mendengar apa yang Santika katakan, Kayla kembali menepuk pundak Santika tetapi sekarang lebih kencang.


β€’


β€’


β€’


**TBC


SELAMAT PAGI πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Happy reading dan sampai jumpa di part selanjutnya..


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak serta dukungan, terimakasih ❀


🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎


SEMBARI MENUNGGU UP, SILAHKAN MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR πŸ“’**