Lady Devil

Lady Devil
Bab. 10 Lady devil (POV KAYLA)



Tak terasa bulan telah berganti dengan matahari, mata ku yang kala itu terpejam perlahan berkedut dan terbuka sempurna kala sinar matahari menyorot masuk ke dalam kamar ku dari celah tirai.


"Hoam... Sudah pagi aja" aku pun segera berjalan ke arah tirai balkon kamar.


Sesampainya di depan pintu balkon, aku membukanya dengan pelan. Aku memejamkan mata seraya mendongakkan kepala dan menghirup udara pagi ini.


"Udara pagi benar-benar segar," gumam ku sembari membuka mata.


Setelah mataku terbuka, aku tidak sengaja melihat ke bawah yang lebih tepatnya kolam renang. Dahi ku mengerut kala seorang pria dengan bertelanjang dada berenang di kolam itu.


"Itu siapa?" aku terus menatap pria yang berenang kesana-kemari dengan seksama.


Seketika aku langsung terkejut dan bersembunyi di balik tirai karena pria itu menatap ke arah kamar ku.


"Apa pria itu melihatku?" aku memegangi dadaku yang berdetak kencang.


Beberapa menit kemudian aku menatap ke bawah lagi. "Loh, kok udah gak ada?" pria itu tidak ada di kolam renang.


PRANG!


Suara piring terdengar menggelegar di lantai bawah. Aku segera keluar kamar dan turun ke bawah untuk memastikan bunyi suara apa itu. Sesampainya di bawah, aku terkejut karena ternyata Ruly sudah bersimpuh di bawah kaki Pangeran Eric.


"Apa kau tidak becus menjalankan tugasmu? Sudah aku katakan jangan pernah membiarkan Putri itu melakukan hal seenaknya. Dia harus menuruti setiap peraturan yang ada di mansion ini!" bentak Pangeran Eric kepada Ruly.


Aku terdiam di tangga terakhir sembari menatap Pangeran Eric yang memberikan hukuman pada Ruly.


"M—maafkan saya, Pangeran. Saya berjanji bahwa Tuan Putri tidak akan ikut campur lagi dengan urusan anda" ucap Ruly terbata.


"Kau harus mendapatkan hukuman untuk kelalaian mu itu!" ujar Pangeran Eric dengan suara khas baritonnya.


Jantungku berdetak tidak karuan kala aku melihat Jack mengambil sebuah cambuk.


"Apa Pangeran terus memberikan hukuman cambuk pada setiap pelayan yang menurutnya bersalah?" gumam ku pelan sambil melihat kejadian selanjutnya.


Pangeran Eric mulai mengambil ancang-ancang, dan saat dirinya ingin melayangkan cambukan pada Ruly tiba-tiba.


Aku dengan cepat mencekal tangan pangeran Eric, terlihat pangeran Eric menoleh ke arahku dan menatapku tajam.


"Aku yang bersalah, Pangeran. Bukan dia!" aku menunjuk Ruly yang sudah meneteskan air mata.


Pangeran Eric menghempaskan kasar tanganku. "PERGI!" bentaknya tepat di depan wajahku.


Aku hanya terdiam dan menatap manik mata abu pangeran Eric. Aku mencoba memberanikan diri agar tidak terlihat lemah, padahal dengar suaranya dan menatap matanya membuatku merasa takut.


"Mengapa kau menghukumnya?" tanyaku berani.


"Tuan Putri sudahlah. Sebaiknya Tuan Putri pergi ke kamar dan jangan membela saya" Ruly takut jika Tuan Putrinya terkena imbas juga.


"Ruly, kau tidak bersalah. Akulah yang bersalah karena aku yang sudah melanggar peraturan di mansion ini." aku menatap pangeran Eric sekilas.


"Jack! Jika wanita ini tidak bisa diajarkan sopan santun, sebaiknya kau bawa dia pergi ke Istana orang tuanya!" Pangeran tidak menatapku.


"Halo! Kau tau, kau pikir aku mau berada di mansion ini dengan seorang pemimpin yang tidak punya mata hati sepertimu?" bentak ku marah. Aku benar-benar emosi dengan kelakuan Pangeran Eric.


Pangeran Eric terdiam dan kemudian menarik tanganku ke arah tangga. Aku terkejut karena baru menyadari bahwa Pangeran Eric bisa berjalan.


'Apa selama ini dia hanya berpura-pura lumpuh? Buktinya sekarang dia bisa berjalan dengan normal.' batinku menduga.


Sesampainya di dalam kamar, pangeran Eric terus menyeret aku dengan kasar. Aku yang merasakan sakit ditangan ku langsung berontak.


"Pangeran! Lepaskan tanganku! Kau menyakitiku, aku ini istrimu." aku mencoba melepaskan cekalan Pangeran yang semakin kuat.


Pangeran Eric membuka pintu kamar mandi. Jantung ku berdetak dengan kencang, pikiranku kacau dan buruk.


'Apa yang ingin dia lakukan!' batinku.


Pangeran menghempaskan kasar tubuhku hingga terbentur bathub. "Argh" aku meringis sembari memegangi punggungku.


Pangeran mengambil shower dan mulai mengarahkan pancuran air dari shower ke arahku.


Aku gelagapan karena air itu sangat dingin seperti es, entah berapa derajat pangeran mengatur suhunya.


"Hentikan! Ini sangat dingin, aku tidak tahan'' pintaku memohon dengan suara yang gemetaran.


Pangeran Eric seakan tuli, dia terus mengguyur ku menggunakan air shower yang sangat dingin itu.


"Pangeran! Saya mohon jangan lakukan itu kepada Tuan Putri, biar saya saja yang dihukum Pangeran..." ucap Ruly. Entah kapan dia masuk ke dalam kamar.


Dapat ku dengar ada juga suara Jack di dalam kamar mandi dan meminta kepada pangeran agar menghentikan hukumannya.


"Pangeran, tolong hentikan. Dia istri anda, dia bisa mati karena kedinginan jika anda terus menyiksanya seperti ini" Jack memohon.


Pangeran Eric mematikan shower, dia terdiam kala mendengar kata 'Istri'. Pangeran melempar shower itu dan langsung pergi dari kamar mandi. Sementara Ruly, dia menghampiri aku yang terduduk meringkuk di dekat bathub.


"Tuan Putri, ayo bangun" Ruly membantuku berdiri.


Dengan perlahan aku berdiri, tubuhku gemetaran dan kepalaku sangat pusing.


"Ruly, bawa Tuan putri ke ranjang. Aku akan memerintahkan kepada pelayan untuk membuatkan sesuatu agar badan Tuan Putri hangat." ucap Jack pada Ruly.


Ruly membantuku berjalan dengan memapah, tetapi belum sampai di ranjang, kepalaku semakin pusing dan pandangan terasa gelap lalu setelah itu.


BRUK!


Tubuhku langsung ambruk di papahan Ruly. Ruly yang tidak tahan meletakkan tubuhku di atas lantai.


"TUAN PUTRI!" teriak Ruly khawatir.


Jack yang baru ingin keluar dan sampai di ambang pintu kamar langsung berlari menghampiri aku. "Ruly apa yang terjadi?" tanya Jack.


"Entahlah, Tuan Putri tiba-tiba pingsan" ucap Ruly takut.


Jack membantu memapah tubuhku ke atas ranjang.


"Segera buka pakaian Tuan Putri dan ganti dengan yang kering. Aku akan keluar mengambil sesuatu agar Tuan Putri segera sadar."


Ruly mengangguk patuh dan langsung berjalan ke arah lemari, sementara Jack keluar mengambil bahan serta teh untuk menyegarkan dan menghangatkan tubuhku.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**