
Kayla telah sampai di Kerajaan Timur, dia segera bergegas masuk ke dalam Istana. Setelah berada di dalam, mata Kayla terbelalak melihat betapa banyaknya prajurit yang telah tergeletak tak bernyawa di atas lantai marmer.
"Ya Tuhan, sungguh ini benar-benar perang yang menyeramkan." Kayla membekap mulutnya sendiri.
Pendengaran Kayla menangkap suara perkelahian yang diyakini itu adalah suara Pangeran Eric dan Raja Ahmad serta rombongan prajurit lainnya.
Kayla bergegas berlari menuju ke tempat berasal nya suara itu dengan ditemani oleh beberapa prajurit kerajaan Barat Daya.
Sesampainya di tempat tersebut, Kayla melongo karena mendapati Raja Ahmad sudah tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari hidung serta seluruh wajah yang lebam.
Pangeran mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan ingin menusuk perut Raja, tetapi sebelum itu terwujud suara Kayla menghentikan laju pedang Pangeran Eric.
"JANGAN PANGERAN!!!" teriak Kayla dengan sekuat tenaga.
Pedang Pangeran mengambang di udara, dirinya menoleh menatap Kayla.
"Leona," gumam Pangeran pelan dengan menurunkan pedangnya.
Kayla berjalan cepat menghampiri Pangeran. "Pangeran apa yang kau lakukan?" Kayla memegang lengan Pangeran.
"Kau, mengapa kau berada disini?" dahi Pangeran mengerut.
"Aku datang untuk menghentikan segalanya, Pangeran. Aku tidak ingin kau menghukum Ayahmu sendiri dengan cara membunuh!"
"Leona, kau jangan ikut campur dengan urusanku!" bentak Pangeran kuat.
Kayla meneguk saliva nya kasar. "Pangeran, aku mohon dengarkan ucapan ku.." Kayla memegang pipi sebelah kanan milik Pangeran dengan wajah sendu.
Pangeran diam tak berkutik melihat ekspresi wajah Kayla yang terlihat sendu.
"Tapi dia pantas mendapatkan itu, Leona." Pangeran menunjuk Raja Ahmad yang kala itu telah berdiri dengan di pegang oleh kedua prajurit mansion.
"Ya, dia memang pantas mendapatkan hukuman.. Tapi tidak dengan menghabisinya, Pangeran. Kau bisa menjadi anak durhaka jika membunuh orang tuamu sendiri," Kayla berbicara lembut pada Pangeran.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Kayla menurunkan tangannya dari pipi Pangeran, dia menatap Raja Ahmad sekilas. "Kau bisa mengasingkannya di hutan lembah seperti yang dia lakukan padamu selama dua puluh tahun ini." saran yang Kayla berikan.
Pangeran terdiam sejenak. "Baiklah, aku akan ikuti saran darimu."
"Prajurit! Bawa Raja Ahmad ke hutan rimbun yang sangat jauh dari jangkauan siapapun, aku tidak ingin dia kabur atau ada yang berani menolongnya untuk kabur. Satu lagi, kawal dia seketat mungkin jangan sampai lolos!" perintah yang Pangeran berikan.
"Baik, Pangeran!" ucap seluruh prajurit tegas.
Mereka membawa Raja Ahmad menuju kereta kencana.
"Apa kau sudah lega?" Kayla melirik wajah tampan Pangeran sekilas.
"Sedikit, sebenarnya aku ragu jika harus membiarkannya hidup. Aku takut dia akan berbuat nekad dengan cara kabur lalu kemudian menghabisi diriku."
"Kau jangan berpikiran buruk terlebih dahulu, Pangeran. Hukuman ini hanya sementara, setelahnya aku menyerahkan padamu apa yang ingin kau lakukan asal jangan membunuh."
Pangeran mengangguk paham. 'Aku akan mengikuti cara permainanmu Raja Ahmad, Aku akan memberikan mu ramuan agar kau mati secara perlahan.'. tekad Pangeran Eric masih menyimpan dendam. Dia tidak peduli jika dinyatakan anak durhaka karena telah membunuh Ayahnya sendiri, yang penting hatinya lega sebab penjahat sudah dihukum dengan tuntas.
"Ayo kita pergi," ucap Kayla, tetapi suara seseorang menghentikan mereka.
"Tunggu!" teriak Pangeran Alvaro yang sudah berada di tangga.
Pangeran Eric dan Kayla menoleh. Sementara Pangeran Alvaro terus berjalan menuruni anak tangga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING.
SAMPAI JUMPA BESOK, JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN AGAR OTHOR SEMANGAT UP 😘😘
🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎
MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR YUK