
Kayla berjalan masuk ke dalam Istana dengan Pangeran Eric yang menuntunnya dan Bibi Helen yang berjalan di belakang dirinya.
"Leona," seorang pria memanggil Kayla.
Kayla menghentikan langkahnya dan menatap seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan sang Ayah.
"Salam, Duke.." Bibi Helen mengatupkan kedua tangan di dada.
Duke itu membalas salam dari Bibi Helen.
"Leona, Paman harap kau bisa sabar menerima kenyataan ini. Paman juga tidak menyangka jika Ayahmu pergi meninggalkan kita secepat ini," ucap sang Duke yaitu Paman Putri Leona dengan lembut.
'Paman? Apa dia adalah adik atau kakak dari Ayah? Wajah nya sangat mirip dengan Ayah,' batin Kayla berpikir.
"Leona, apa kau baik-baik saja?"Paman menepuk pelan pundak Kayla.
Kayla terkejut dan tersadar dari lamunannya. "A—aku sedikit tidak baik, Paman."
"Apa kau masih ingat dengan Pamanmu?" ucap Paman itu dengan senyum di bibirnya.
'Bagaimana aku bisa mengingat, aku saja bukan Putri Leona.' batin Kayla kesal.
Paman yang mengerti akan kediaman Kayla hanya tersenyum. "Kita terakhir bertemu ketika kau berusia 5tahun, setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi karena setiap Ayahmu berkunjung ke Istana ku dia tidak pernah mengajak dirimu."
"Aku sedikit lupa denganmu, Paman." Kayla mencoba sopan.
"Aku adalah Paman Victor, dan ini—" Duke Victor menunjuk wanita muda di sampingnya.
Wanita muda yang usianya tak jauh dari Kayla langsung tersenyum ramah.
"Dia adalah Putri Paman, kakak sepupumu yaitu Santika." lanjut Paman Victor.
"Salam," Kayla mengatupkan tangan di dada dan tersenyum ramah kepada Santika.
"Senang bisa bertemu lagi denganmu, Leona. Kau semakin cantik saja," ucap Santika mencoba mengakrabkan diri pada Leona.
"Terimakasih, kau juga sangat cantik kakak."
"Paman dan Santika ingin berpamitan pulang, maaf jika Paman tidak bisa menginap di Istana ini."
"Tidak apa Paman, aku yakin jika Paman pasti memilik banyak urusan sebagai seorang pemimpin,"
"Kau benar sekali, Leona. Kalau begitu Paman dan Santika pamit pulang, jika ada waktu luang Santika dan Paman akan berkunjung ke Istana ini." Paman tersenyum tipis.
Kayla hanya mengangguk.
Paman Victor menatap Eric. "Apa dia suamimu?" Paman menunjuk Pangeran.
"Benar, Paman. Dia adalah Pangeran Eric Wicaksana,"
Pangeran memberikan salam kepada Paman dan Santika.
'Leona beruntung sekali mendapatkan suami yang sangat tampan seperti Pangeran Eric, meskipun wajahnya ditutupi oleh topeng tapi ketampanannya tidak berkurang. Apa tidak ada lagi pria yang seperti ini?' batin Santika memuji Pangeran Eric. Dari tatapan mata yang memiliki manik Abu itu saja sudah membuat Santika terpesona oleh Pangeran Eric.
"Ayo Santika kita pulang. Salam," ucap Victor berpamitan.
Kayla, Pangeran, dan Bibi Helen membalas salam dari Duke Victor dan Santika.
Setelah Duke dan Santika sudah menjauh. "Pangeran, aku ingin istirahat dikamar." pinta Kayla dengan suara parau.
Pangeran mengangguk dan membawa Kayla naik ke atas tangga menuju kamar, sementara Bibi Helen pergi ke dapur.
•
•
•
Dua hari kemudian.
Semenjak kematian sang Ayah Kayla menjadi pendiam dan pemurung, dia merasa telah gagal dalam segalanya.
"Aku bodoh, aku benar-benar lemah.. Aku sama sekali tidak bisa menyelamatkan Ayah dan membuka kedok jahat Ratu Elisabeth." Kayla menghela nafas kasar, air mata sudah tidak lagi menetes di pipi karena Kayla merasa air mata itu sudah kering setelah dua hari yang lalu dia terus-terusan menangis.
"Leona," Pangeran Eric memanggil dari belakang tubuh Kayla.
"Kau melamun lagi?" Pangeran memeluk tubuh Kayla dari belakang.
"Tidak, aku hanya sedikit rindu dengan Ayah." ucap Kayla jujur.
"Aku tau itu, ketika kita ditinggalkan oleh orang yang sangat berjasa dalam hidup kita, orang yang sangat menyayangi kita dengan tulus sedari kecil, maka pasti akan sulit untuk melepaskannya. Aku juga pernah merasakan hal yang sama sepertimu saat Ibuku meninggalkan aku sewaktu aku masih kecil yaitu berusia 5tahun."
"Tentu sangat sulit untuk merelakan kepergiannya Pangeran,"
"Kau benar sekali, sangat sangat sulit. Tapi aku mencoba bangkit dalam keterpurukan dan aku akan membalaskan semua kejahatan yang mereka lakukan pada Ibuku, baik itu sengaja ataupun tidak." Pangeran menatap lurus ke depan.
"Apa aku harus melakukan hal yang sama sepertimu?"
Pangeran mengerutkan dahinya. "Apa yang kau katakan?"
"Aku ingin membalaskan segala kesedihan dan keterpurukan yang aku rasakan ketika Ayah dan Ibuku tiada dalam genggaman satu orang."
"Bicaralah dengan jelas Leona, aku tidak mengerti maksudmu." Pangeran memutar balikkan tubuh Kayla menjadi saling berhadapan dengannya.
"Ya, Ratu Elisabeth berkata bahwa dialah yang sudah melenyapkan Ibuku dan juga akan melenyapkan Ayahku. Semua tujuannya sudah tercapai, dia tinggal menyingkirkan aku agar Putrinya bisa menjadi pewaris kerajaan satu-satunya. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku ingin membalas kejahatan Ratu Elisabeth dan memberikan keadilan untuk Ayah serta Ibuku." ucap Kayla bertekad.
"Jika itu bisa membuatmu lega maka lakukanlah dengan caramu, Leona. Aku tidak ingin mengekang mu, jika perlu aku akan membantumu untuk hal itu." Pangeran memberikan semangat kepada Kayla, dia tidak ingin Kayla berpikir bahwa dirinya tidak mendukung seseorang dalam melawan kejahatan dan memberikan keadilan.
"Tidak perlu, Pangeran. Aku bisa melakukannya sendirian, aku memang akan melakukan semua itu dengan caraku sendiri. Aku sudah memikirkannya, kau juga pasti banyak tugas yang harus diselesaikan bukan?"
Pangeran mengangguk. "Maka dari itu aku ingin berpamitan padamu untuk kembali ke mansion."
"Tapi aku tidak bisa ikut denganmu sekarang,"
"Aku mengerti, kau tidak perlu risau. Tinggallah disini selama yang kau inginkan, setelah urusanku selesai aku pasti akan datang ke Istana ini untuk menemui mu." Pangeran menangkup wajah Kayla dan mengecup dahi Kayla dengan lembut.
Mereka saling tatap dan melempar senyum.
"Baiklah, aku akan pergi. Kau jaga diri dan jangan berbuat hal yang bisa merugikan dirimu nantinya," nasehat yang Pangeran berikan.
Kayla mengangguk dan menatap manik mata abu milik Pangeran, dia tidak menyangka ternyata Pangeran mempunyai sifat yang baik dibalik kekejamannya itu.
*
Beberapa jam kemudian setelah Pangeran pergi.
"Permisi, Tuan Putri.." seorang prajurit menghampiri Kayla yang saat itu tengah berada di taman.
"Katakan kau datang membawa informasi apa saat ini?" ucap Kayla dingin sembari menatap lurus ke depan.
"Tabib itu sudah ditemukan dan sekarang berada di ruang bawah tanah bersama para prajurit lainnya, Tuan Putri.."
"Benarkah?" pekik Kayla tidak percaya sembari menoleh menatap prajurit.
"Benar, Tuan Putri. Anda bisa langsung menemuinya di ruang bawah tanah." prajurit itu berbicara sembari menunduk sopan.
"Baiklah, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya dan memberikan salam perkenalan. Ayo kita ke ruang bawah tanah!" Kayla berjalan terlebih dahulu di depan sang prajurit.
Prajurit pun mengikuti langkah Kayla dari belakang.
Sebenernya Kayla sangat risi memakai gaun panjang, riasan, serta dandanan seperti ini karena biasanya dia hanya memakai celana jeans, serta wajah yang natural tanpa polesan make-up.
Tetapi mau bagaimana lagi, setiap kerajaan pasti menginginkan Tuan Putri mereka tampil cantik, sopan serta mempesona.
•
•
•
TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART TOMORROW
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA DAN BERKOMENTAR LAH DENGAN BIJAk 🙏🏻🙏🏻
Terimakasih 💥