Lady Devil

Lady Devil
Bab 6. Lady devil (POV KAYLA)



Sudah satu harian aku berada di dalam jeruji besi ini, rasanya ingin sekali aku berteriak tetapi setelah ku pikir juga percuma.


TAK


TAK


TAK


Suara hentakan sepatu berjalan menuruni tangga ruang bawah tanah. Aku berharap semoga itu adalah orang yang mau membebaskan ku dari jeruji ini. Aku terus tersenyum kala suara sepatu itu hampir mencapai tangga terakhir, dan ketika aku melihat siapa yang datang seketika senyum ku surut.


Ratu Elisabeth dan Putri Aurora berjalan dengan angkuh juga senyum mengejek ke arah ku.


“Haha... Kasihan sekali nasibmu anak tikus” ejek Aurora padaku.


Aku menatap kedua Ibu dan anak itu dengan tajam. “Puas kalian!” bentak ku kuat.


“Oho... Aku sangat bahagia dengan penderitaan yang kau alami ini” Aurora menatap ku remeh.


‘Baiklah mulut ular, aku saat ini tidak bisa membalas mu karena keadaanku yang berada di dalam jeruji besi. Tapi lihat saja! Lihat saja jika aku sudah keluar dari jeruji sialan ini, pasti aku akan membalas semua perbuatan kalian’ batinku bersumpah.


“Kenapa diam saja? Kemana kesombongan mu itu? Kau tidak berani melawanku?”


“Kami berdua malah ingin kau lebih lama di jeruji ini, bahkan kalau bisa sampai membusuk.” Ratu Elisabeth angkat suara.


Aku menggeleng tidak percaya. ‘Tega sekali kalian, dasar tidak punya hati!’ aku hanya bisa memaki dalam hati.


“Ayo Ibunda, kita pergi dari tempat menyeramkan ini”


Elisabeth dan Aurora membalikkan badan lalu pergi dari ruang bawah tanah.


Aku ingin membuka mulut, tetapi untuk saat ini sepertinya aku harus menahan setiap makian yang ingin aku lontarkan.


“Aku harus sedikit sabar, suatu hari nanti aku pasti bisa membongkar kedok dan kejahatan kalian berdua”.


Aku kembali duduk di kursi yang berada dalam jeruji besi.


Sementara di luar Istana.


Kereta kencana terdengar berhenti di halaman luas Istana Hedder.


Keluarga Wicaksana turun dari kereta kencana itu dan mereka masuk ke dalam Istana.


“Salam Paduka Raja” prajurit dan maid yang dilewati keluarga Wicaksana langsung menunduk hormat sembari menyilangkan sebelah tangan di dada.


Paduka Raja yang bernama Ahmad mengangkat sebelah tangannya dan para prajurit langsung menegakkan kembali tubuh mereka.


Raja Vincent menyambut tamu istimewanya dengan senyum ramah.


“Selamat datang Raja Ahmad, salam” Raja Vincent mengatupkan kedua tangan di dada dengan sopan.


Raja Ahmad pun membalas salam dari Raja Vincent.


Dari kejauhan terlihat Ratu Elisabeth dan Putri Aurora berjalan menghampiri Raja Vincent.


“Ibunda, lihatlah mereka sudah datang” ucap Aurora bahagia karena bisa melihat Prince Alvaro.


Setelah berada didekat Raja Vincent, Ratu Elisabeth dan Aurora memberi salam sopan kepada keluarga Wicaksana.


“Salam Pangeran Alvaro” Aurora berusaha bersikap manis.


“Salam Tuan Putri” Pangeran Alvaro membalas dengan sopan.


“Mari duduk” Raja Vincent mempersilakan.


Mereka semua duduk di sofa yang sangat besar.


“Bagaimana Raja Vincent? Apa Putri Leona sudah memikirkan tentang perjodohan itu?” Raja Ahmad mulai berbicara.


“Aku belum tau pastinya, lebih baik kau tanyakan saja pada Putriku langsung”


Raja Vincent berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh sedikit dari sofa, lalu memanggil tangan kanannya.


“Paman Sath!” teriak Raja Vincent.


Paman Sath datang menghampiri Raja nya. “Anda memanggil saya Paduka Raja? Apa ada yang bisa saya bantu?” Paman Sath berbicara sopan.


Paduka Raja Vincent membisikkan sesuatu pada paman Sath. Setelah itu paman Sath mengangguk paham dan pergi dengan sopan dari harapan Raja Vincent.


Raja Vincent pun kembali bergabung dengan tamunya.


“Maaf telah membuat kalian menunggu. Putriku akan segera datang, kalian bisa tanyakan padanya nanti”


Raja Ahmad hanya mengangguk dan mereka mengobrol lagi.


Di ruang bawah tanah.


Jeruji besi telah dibuka oleh prajurit.


Aku dengan cepat keluar dari kurungan itu dengan hati lega.


“Permisi Tuan Putri” seorang maid menghampiri aku.


Aku hanya mengangguk sembari menatap maid itu.


“Kemana?”


“Saya akan merias Tuan Putri karena keluarga Wicaksana datang berkunjung untuk menemui Tuan Putri”


Aku hanya diam saja sembari berpikir dan berjalan menaiki anak tangga. ‘Apa mereka ingin bertanya soal perjodohan itu?’ batinku.


Sesampainya dikamar dan telah membersihkan diri, aku dirias dengan begitu cantik juga sopan. Aku diam saja sembari menatap wajahku dari pantulan cermin. ‘Cantik' hanya itulah yang mampu aku ungkapkan tentang wajah Putri Leona.


“Sudah selesai Putri” maid itu melangkah mundur.


Aku berdiri dan menatap seluruh tubuhku yang sudah terbalut gaun indah berwarna gold dengan bawahan yang mekar.


“Mari Tuan Putri, mereka pasti menunggu anda”


Aku berjalan mendahului maid tersebut. Dengan anggun dan penuh kewibawaan aku berjalan menuruni anak tangga yang sudah terbentang karpet merah. Terlihat semua mata keluarga Wicaksana tertuju padaku dan itu membuatku gugup, belum lagi saat aku menoleh ada pangeran tampan yang juga menatapku tanpa berkedip.


Sesampainya di sofa, aku menunduk hormat sembari memberi salam. Untung saja aku sudah tau tata cara ini karena sering membaca novel.


“Salam” aku membungkukkan setengah badan.


“Salam Putri” sahut seorang pria paruh baya yang aku yakini adalah Paduka Raja.


Aku duduk disebelah Ayahanda.


“Bagaimana kabarmu Putri Leona?” Raja Ahmad bertanya padaku.


“Aku baik, Paduka Raja” sahutku sopan.


“Dari dulu memang kesopananmu tidak pernah berubah, Putri” ucap Raja Ahmad.


“Terimakasih Paduka” jawabku singkat.


Sekali-sekali aku mencuri pandang ke arah Pangeran tampan yang kala itu duduk disebelah sang Paduka Raja Ahmad.


“Langsung saja, bagaimana keputusanmu tentang perjodohan itu, Putri Leona?”


Aku terdiam, entah kenapa perasaanku tidak enak dan jantungku berdebar kencang.


“Ayolah Putriku, jawab pertanyaan Raja Ahmad” Raja Vincent memegang pundak ku.


“A—Aku menerimanya” jawabku pasti dan yakin.


“Benarkah?” Raja Ahmad dan Ayahanda tidak percaya dengan jawaban enteng dari mulut ku.


Aku hanya mengangguk. “Aku yakin dengan jawabanku”


Raja Ahmad tersenyum bahagia begitupun dengan keluarga ku.


“Tapi Putri....” Raja Ahmad tidak meneruskan ucapannya. Dia menatap Ayahanda dan Ratu Elisabeth bergantian. “Kau sudah tau tentang keadaan putraku itu bukan?”


DEG!


Seketika jantungku seperti berhenti berdetak.


‘Dia bilang apa? Keadaan, maksudnya?’ batinku bingung.


Saat melihat keterdiaman ku, Raja Ahmad menjelaskan ulang.


“Putraku mempunyai sifat yang temperamental, bahkan tak sekali dia berbuat sadis seperti membunuh atau yang lainnya. Dia juga tidak suka diatur atau dilarang, maka dari itu aku minta kau ubahlah sifat putraku itu”


Ucapan Raja Ahmad membuat aku semakin bingung. 'Apa pangeran tampan ini mempunyai sifat temperamental?’ aku masih memikirkan tentang pangeran di hadapanku itu.


“Apa pangeran mempunyai sifat yang seperti itu?” perkataan ku tertuju pada pangeran tampan tersebut.


Mereka semua menatapku heran kala aku menatap pangeran yang duduk disebelah Raja Ahmad.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART TOMORROW


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 💋**



***Pangeran Alvaro




MAMPIR JUGA KE KARYA TEMEN OTHOR YUK***.