Lady Devil

Lady Devil
Bab 22 LADY DEVIL



Dua minggu kemudian.


Kayla tengah berada di dalam kamar sang Ayah.


"Ayah, berhubung keadaan Ayah sudah membaik, hari ini aku pamit pulang ke mansion," ucap Kayla sambil memijat kaki Paduka Raja.


"Kenapa cepat sekali? Apa kau tidak betah berada di Istana mu sendiri?" Raja menjawab.


"Bukan begitu, Ayah. Ayah salah paham, tentu saja aku sangat betah berada di Istana ini tetapi saat ini aku juga sudah menikah dan mempunyai suami. Ayah tau itu kan?" Kayla masih memijat kaki sang Ayah.


"Bagaimana keadaan rumah tangga mu dan Pangeran Eric nak?"


Tangan Kayla sukses berhenti memijat kaki sang Ayah.


"Baiklah, tidak perlu menceritakan apapun pada Ayah," Raja yang mengetahui keterdiaman Kayla langsung buka suara.


Kayla hanya tersenyum dan melanjutkan pijatannya. "Rumah tangga ku dan Pangeran baik-baik saja, Ayah. Bahkan Pangeran sangat menyayangiku,"


"Benarkah?"


"Tentu saja," Kayla menjawab pasti.


Kayla menurunkan tangannya dan juga turun dari tepi ranjang. "Aku akan segera bersiap."


Raja mengangguk. "Ayah akan memerintahkan prajurit untuk mengantarmu,"


Kayla tersenyum dan langsung pergi dari kamar sang Ayah.


Setelah Kayla pergi, Ratu Elisabeth bergegas masuk ke dalam kamar Raja.


"Suamiku," Ratu memanggil dengan nada lembut.


Raja hanya tersenyum melihat sang istri yang berjalan mendekatinya.


Ratu Elisabeth duduk di tepi ranjang. "Suamiku, bagaimana keadaan mu saat ini?"


"Aku sangat baik," Raja tersenyum ke arah Ratu Elisabeth.


"Meskipun kau sudah membaik, tetapi kau masih tetap harus meminum vitamin agar tubuh mu bertambah segar. Kau tau 'kan suamiku, di usiamu yang sudah senja ini pasti kau sering merasa kelelahan,"


"Aku masih muda, Ratuku. Dan jika aku meminum Vitamin ini entah mengapa kepala ku menjadi pusing."


"Oh, itu semua adalah efek dari vitamin yang kau minum bereaksi dalam tubuh mu," Ratu memberikan vitamin kepada Raja dan Raja pun menerimanya.


Sesaat Raja ingin membuka mulut, tiba-tiba Kayla berteriak dari ambang pintu kamar.


"Berhenti Ayah!" pekikan Kayla mampu membuat Raja menghentikan aktivitasnya.


Ratu Elisabeth menatap kesal ke arah Kayla. 'sial! Kenapa anak itu harus datang sekarang sih.' batin sang Ratu.


Kayla dengan mata tajamnya berjalan ke arah ranjang, setelah sampai di ranjang dia segera mengambil pil buatan yang ada di tangan Raja.


"Sudah aku katakan bahwa Ayah tidak perlu meminum obat atau ramuan apapun itu!" teriak Kayla marah.


"Tapi itu hanya vitamin nak, memangnya kenapa?"ujar Ratu Elisabeth.


Kayla menatap ke arah Ratu Elisabeth. "Vitamin atau apapun tetap saja tidak boleh! Kenapa Ibu memaksa Ayah meminumnya?"


"Leona cukup! Kau tidak boleh membentak Ibumu seperti itu, apa kau lupa akan sopan santun kepada orang tua? Apa kau lupa bagaimana cara bicara kepada orang tua?" Raja tidak terima karena Kayla membentak Ratu Elisabeth.


Kayla menatap ke arah Ayahnya. "Aku sudah siap,"


"Baiklah, Ayah akan memerintahkan prajurit untuk mengantar mu." Raja bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.


Setelah Raja keluar, Kayla langsung menatap Ratu Elisabeth dengan tajam. "Dengar ya Bibi, aku tidak akan membiarkan rencana mu berjalan lancar. Meskipun aku tidak berada di Istana ini tetapi mataku selalu mengawasi mu!" sesudah mengatakan itu Kayla langsung keluar dari kamar meninggalkan Ratu Elisabeth.


"Oho.. Dia mengancam ku? Aku sangat takut sekali," Ratu tertawa jahat.


Kayla terus berjalan menuju dapur, dia melihat ke sekeliling terlebih dahulu baru lah masuk ke dalam dapur.


"Tuan Putri," sahut Bibi Helen.


"Bagaimana, apa Bibi sudah mencari pelayan baru serta prajurit untuk bekerja disini?"


Bibi Helen mengangguk. "Semuanya sudah Bibi lakukan, Tuan Putri."


"Apa mereka benar-benar dapat di percaya?"


"Tentu, Bibi yakin mereka sangat bisa dipercaya. Pilihan Bibi tidak pernah salah,"


"Baiklah, dalam menjalankan rencana kita harus berhati-hati. Bibi tau 'kan bahwa musuh kita sekarang sangat berbahaya dan licik, dia bisa tau kapanpun kita lengah dalam bekerja," jelas Kayla.


"Bibi tau, Tuan Putri. Bibi sudah mencari pelayan dan prajurit yang bener-bener bisa diajak kerja sama, dan bibi juga tau kualitas mereka seperti apa"


"Bagus Bibi, aku percaya padamu." Kayla mengedarkan pandangan. "Aku pergi dulu, bulan depan aku akan datang lagi ke Istana untuk melihat kondisi Ayah, aku masih takut jika Ratu Elisabeth kembali memberikan ramuan itu kepada Ayah.''


"Tuan Putri tidak perlu terlalu khawatir, Bibi dan pada mata -mata akan mengawasi Raja."


"Baiklah, semoga rencana kita berjalan dengan lancar."


Bibi Helen mengangguk. "Bibi bangga dengan anda, Tuan Putri. Anda sangat cerdik, Bibi tidak menyangka dibalik sifat anda yang suka menangis, pasrah dan tidak berani melawan ternyata Tuan Putri memiliki sifat yang licik juga."


Kayla tersenyum tipis. 'Tentu saja Bibi, **k**arena aku bukan Leona. Aku adalah Kayla, gadis yang tidak akan menyerah sebelum memenangkan keadilan dan melawan kejahatan,' batin Kayla.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Bi. Aku tidak ingin ada yang curiga dengan kita. Jaga diri bibi baik-baik," Kayla mengelus pundak Bibi Helen.


Bibi Helen tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati Tuan Putri."


Kayla langsung pergi daru dapur, untung saja kondisi aman tidak ada yang melihat Kayla berada di dapur.


Raja Vincent dan Kayla sekarang berada di teras Istana.


"Ayah, jaga kesehatan Ayah. Ingat pesan ku, jangan meminum ramuan atau obat apapun,''


'' Baiklah, Ayah mengerti" Raja Vincent mengelus pucuk kepala Kayla. "Kau hati-hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan. Sampaikan kembali salam Ayah pada suamimu,"


Kayla mengangguk, Ayah dan anak itu berpelukan sejenak lalu setelah pelukan terlepas Kayla berjalan ke arah kereta.


Kayla melambaikan tangan ketika kereta sudah melaju meninggalkan Istana.


"Semoga kau bahagia selalu, nak. Maafkan Ayahmu ini jika selalu membentak mu, Ayah hanya tidak ingin kau menjadi Putri yang tidak tau sopan santun ketika berbicara kepada orang yang lebih tua ." Raja Vincent langsung masuk ke dalam Istana.


Sementara di perjalanan.


Kereta kencana milik Kayla berhenti mendadak.


"Prajurit, ada apa? Apa kau tidak bisa membawa kereta!" bentak Kayla marah karena kepalanya terbentur tiang kereta.


"M—maaf, Tuan Putri. I—itu," prajurit menunjuk ke suatu arah dan Kayla mengikuti jari sang prajurit.


Mata Kayla terbelalak kala melihat siapa yang ada di depan kereta kencana nya.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**