
Kayla kembali dilanda oleh rasa sakit di bagian punggung serta seluruh tubuhnya, senyumnya seraya surut dan berganti dengan rintihan.
"Ssh.. Aw," Kayla memegangi pinggangnya.
"Putri, Putri Leona ada apa?" Pangeran menjadi khawatir ketika Kayla mengigit bibir bawahnya. "Bibi, Bibi Misha!" teriak Pangeran dengan suara meninggi.
Bibi Misha sudah selesai membersihkan bayi Pangeran dan Kayla, dia segera berjalan ke ranjang ketika mendengar Pangeran yang memanggilnya.
"Bi, coba kau lihat kenapa istriku merintih seperti itu?"
Kayla memejamkan mata dengan menghembuskan nafas pelan.
Bibi Misha menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan Pangeran dan Bibi mulai memeriksa Kayla.
"Sepertinya Yang Mulia ingin melahirkan lagi, Pangeran." ujar Bibi
Pangeran dan Kayla terkejut dengan apa yang Bibi Misha ucapkan.
"M—melahirkan? Bukankah bayi ku sudah keluar?" ucap Kayla karena terkejut.
"Mungkin Yang Mulia hamil anak kembar, jadi sekarang Yang Mulia harus melakukan seperti tadi." jelas Bibi Misha. "Jika saya katakan dorong maka Yang Mulia harus mendorongnya," lanjut Bibi.
Kayla mengangguk paham karena sakit di seluruh tubuhnya semakin menjadi. Kayla mulai mengejan sesuai aba-aba dari Bibi Misha hingga beberapa saat kemudian..
"Oek.. Oek.." bayi itu menangis dengan sangat kencang disambut dengan kicauan burung-burung yang seakan gembira melihat kelahiran bayi-bayi mungil itu.
Nafas Kayla sangat tidak beraturan, matanya ingin terpejam tetapi telinga menangkap suara tangisan bayi dan mata Kayla kembali terbuka. Senyumnya mengembang kala melihat bayi yang berada di dalam gendongan Pangeran Eric dan bayi yang baru akan dibersihkan.
"Pangeran," lirih Kayla memanggil Pangeran.
Pangeran mendekat ke arah Kayla dan tersenyum bahagia. "Lihatlah, Putra kita sangat imut dan lucu sekali. Dia mirip sekali denganmu," ujar Pangeran Eric memberikan bayinya kepada Kayla.
"Aku sangat bahagia, Pangeran.." Kayla tersenyum tipis.
"Aku juga, tapi ada yang ingin aku katakan padamu." Pangeran menatap Kayla dengan serius.
"Ada apa?" Kayla jadi penasaran karena melihat raut wajah Pangeran Eric.
"Mulai sekarang kau tidak boleh memanggilku Pangeran."
"Ya! Kau harus memanggilku dengan sebutan Raja, karena Pangeran hanya untuk panggilan anak-anak kita." Pangeran tersenyum manis.
Mereka saling melempar senyum hingga akhirnya atensi mata mereka berdua beralih ketika Bibi Misha berjalan ke arah ranjang dengan menggendong bayi kedua Kayla.
Bibi Misha membantu Kayla membersihkan diri lalu mengganti pakaian.
"Semuanya sudah selesai, Paduka. Selamat atas kelahiran kedua Putra Paduka dan Yang Mulia, saya izin pamit pulang," ucap Bibi Misha dengan sopan dan menunduk hormat.
"Baiklah, prajurit akan mengantarkan Bibi pulang." Pangeran beranjak dari ranjang dan berjalan ke lemari pakaian. "Ini bayaran untuk Bibi karena sudah menolong istriku," Pangeran memberikan sekantong emas murni dan uang logam emas kepala Bibi Misha.
"Terima kasih banyak, Paduka." Bibi memeluk bayarannya. "Saya sarankan agar Yang Mulia memberikan pengenalan dengan cara menyusui terlebih dahulu. Saya permisi," Bibi Misha pamit pulang sekali lagi.
Setelah mendapatkan anggukan, Bibi langsung pergi dari kamar Pangeran.
"Lihatlah Ratu ku, kedua Putra kita sangat mirip denganmu. Aku sebenarnya sangat iri, mengapa salah satu dari mereka tidak ada yang mirip dengan wajahku?"
"Kau salah, Raja. Lihatlah warna matanya, hidungnya, sangat mirip denganmu." ujar Kayla agar sang suami tidak lagi merajuk.
Pangeran menatap dengan seksama mata kedua Putranya. "Kau benar, Ratu. Manik mata mereka berwarna abu-abu dan itu sama sepertiku," Pangeran tersenyum bahagia.
"Apa kau sudah memikirkan nama untuk mereka berdua, Raja?" Kayla menatap wajah sang suami.
Pangeran Eric hanya diam saja sembari berpikir.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH BANYAK 😘🙏🏻**