Lady Devil

Lady Devil
Bab 69 LADY DEVIL



------Dua bulan------


Kayla tengah berada di halaman samping Istana sedang bersenda gurau dengan kedua Putranya.


"Uh, anak Ibu.." Kayla mencubit pelan pipi Abiyaksa dan Abiandra.


Pangeran Eric berjalan menuju kereta dengan tergesa-gesa.


"Raja!" teriak Kayla yang kala itu melihat Pangeran.


Pangeran menghentikan langkahnya dan menghampiri sang permaisuri serta kedua anaknya.


"Selamat pagi, jagoan Ayah.." Pangeran mengecup pipi Aksa dan Andra.


"Raja, kau mau kemana? Mengapa aku lihat kau terburu-buru sekali?"


"Aku ingin melihat keadaan Ayah," sahut Pangeran Eric.


"Ayah, apa yang terjadi?" Kayla pun penasaran.


"Ayah sedang sakit parah, dan prajurit mengatakan bahwa Ayah terus memanggil namaku." Pangeran menggenggam jemari Andra.


"Raja, aku ingin ikut melihat keadaan Ayah,"


"Tapi Ratu—" ucapan Pangeran terpotong karena Kayla dengan cepat menyelanya.


"Tidak ada tapi-tapi, Raja. Aku memaksa!" keputusan Kayla sangat sulit untuk Pangeran tolak.


"Baiklah, jika kau memaksa maka kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menitipkan Pangeran Aksa dan Pangeran Andra kepada Nanny nya,"


"Tidak! Aku akan membawa kedua Putra kita untuk pergi menemui Ayah, sudah dua bulan mereka lahir tetapi Ayah sama sekali belum pernah melihat kedua cucunya, Raja." ucap Kayla.


Pangeran Eric menghembuskan nafas pelan. "Ya sudah jika itu mau mu, bersiaplah aku akan menunggu kalian di kereta." Pangeran beranjak dan pergi ke kereta kencana, sementara Kayla membawa kedua putranya masuk ke dalam Istana untuk bersiap.


^


^


^


Pangeran dan Kayla telah sampai di mansion.


"Ayo," Pangeran menggendong Andra.


Mereka bersama-sama masuk ke dalam mansion. Ketika Pangeran dan Kayla sudah berada di dalam mansion, para prajurit serta maid menunduk hormat dan memberikan salam.


"Pangeran, Raja sudah menunggu anda sedari tadi. Beliau juga terus memanggil-manggil nama anda," ucap prajurit itu kepada Pangeran.


"Aku akan menemuinya," Pangeran menggenggam jemari Kayla dan mereka menuju kamar Raja Ahmad.


Cklek!


Pintu kamar terbuka.


Pangeran serta Kayla berjalan dengan perlahan ke arah ranjang, dimana Raja tengah terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Putraku.." ucap Raja dengan suara lirih dan serak.


Tanpa raut wajah sedih atau apapun, Pangeran berjalan menghampiri Raja.


"Pangeran Eric," Raja meraba wajah Pangeran Eric yang tanpa topeng dengan raut wajah terharu.


"Bagaimana keadaanmu, Raja?" ucap Pangeran dengan datar.


''Orang tua?" Pangeran tersenyum hambar. "Orang tua mana yang tega ingin membunuh anaknya sendiri, orang tua mana yang tega mengasingkan anaknya sendiri, orang tua mana juga yang dengan sengaja tega membuat anaknya cacat seumur hidup?"


Raja menitikkan air mata, perkataan Pangeran sangat menampar hatinya yang terdalam. "Maafkan Ayah, nak.. Maafkan Ayah," Raja menangis.


Kayla yang melihat itu juga ikut menitikkan air mata. "Raja, sudah lupakan masa lalu. Aku mohon berikan Ayah kesempatan untuk menerima maaf darimu," Kayla mengelus lembut pundak Pangeran Eric.


Pangeran tidak goyah sama sekali, dia hanya diam dan menatap Raja dengan tatapan biasa. Dulu memang Pangeran mencampurkan sesuatu ke dalam setiap makanan yang Raja konsumsi, tetapi itu hanya beberapa kali karena Pangeran tidak ingin menjadi seperti Ayahnya.


"Uhuk.. Uhuk.." Raja terbatuk dan dari mulut Raja mengeluarkan darah. "Lihatlah, Putraku. Aku sudah hampir sekarat dan kau sama sekali tidak kasihan padaku? Aku hanya butuh maaf darimu agar jika aku pergi menyusul Ibumu nanti tidak ada lagi yang ku pikirkan, aku akan pergi dengan tenang tanpa beban apapun." ujar Raja memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Apa kakak sudah diberi kabar tentang keadaan Ayah?"


Raja tersenyum ketika Pangeran mengatakannya 'Ayah'.


"Katakan sekali lagi, Pangeran. Kau memanggilku dengan sebutan apa?" Raja tersenyum penuh harap.


"Ayah," ucap Pangeran mengulangi panggilannya.


Raja tersenyum dan berusaha duduk.


"Hati-hati," Pangeran membantu Raja duduk dengan sebelah tangannya.


"Ayah sudah memerintahkan kepada prajurit agar memanggil Pangeran Alvaro untuk datang ke mansion, mungkin sebentar lagi dia akan sampai." mata Raja terhenti di bayi yang ada dalam gendongan Pangeran.


"Pangeran, apa dia..?" Raja menunjuk bayi yang Pangeran gendong.


Pangeran mengangguk seakan tau apa yang ingin Ayahnya katakan. "Dia Putra keduaku dan yang berada dalam gendongan Ratu Leona, dia adalah Putra pertamaku."


Raja menatap kedua cucunya secara bergantian. "Boleh Ayah menggendongnya?"


Pangeran mengangguk dan memberikan putranya kepada Raja.


"Lucu sekali.. Ayah ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua, selamat karena kalian sudah resmi menjadi orang tua." Raja menatap wajah Pangeran Andra yang manik matanya sangat mirip dengan Pangeran Eric. "Siapa nama kedua cucu Ayah?"


"Abiyaksa dan Abiandra." sahut Kayla cepat.


Raja tersenyum ke arah Kayla. "Kemari lah, nak." Raja menepuk tepi ranjang


Kayla berjalan duduk di samping Pangeran.


"Terima kasih karena kau sudah mampu mengubah cara berpikir Pangeran Eric, kau sudah menghilangkan sifat emosional yang selama ini bersarang di dalam dirinya." Raja tersenyum tipis.


"Tuhan sudah mengatur segalanya, Ayah. Ayah tidak perlu berterima kasih atau apapun itu, sebagai seorang istri yang baik aku memang harus membantu suamiku jika dia salah jalan," Kayla tersenyum manis .


"Tuhan selalu memberkati mu dan memberikan kebahagiaan untuk keluarga kalian berdua." Raja mengelus pucuk kepala Kayla.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka lalu masuklah Pangeran Alvaro dan Santika.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 🙏🏻❤**