
Ratu mondar-mandir di dalam jeruji itu, sedari tadi kakinya tidak bisa diam.
"Bu, kita harus segera menemukan cara untuk melawan Leona atau tidak pergi dari Istana ini."
"Ck! Kau bodoh, jika kita pergi dari Istana ini maka semua kerja keras Ibu akan sia-sia." Ratu membentak Aurora.
"Bu, di saat-saat yang seperti ini Ibu malah memikirkan tentang tahta serta kekayaaan? Huft! Ibu tidak sayang dengan nyawa Ibu sendiri." Aurora menatap sang Ibu dengan heran.
"Ibu hanya tidak ingin semua kerja keras yang Ibu lakukan dari dua puluh tahun yang lalu sia-sia hanya karena anak kucing menyebalkan itu."
"Bu, sekarang dia bukan lagi anak kucing, tetapi anak singa. Apa Ibu lupa yang telah dia lakukan kepada Khailan dan kedua prajurit kita?"
Berbicara tentang Khailan, Ratu dan Aurora bersama-sama menatap ke arah bangku panjang yang ada di belakang mereka.
Mereka berdua berjalan mendekati Khailan.
"Apa yang telah dia lakukan padamu?" Ratu langsung bertanya ketika dirinya sudah duduk di samping Khailan.
"Dia telah menggores tanganku dan mencambuk ku. Aku tidak menyangka jika Putri Leona yang selalu diisukan pendiam, lemah lembut dan tidak berani melawan siapapun sekarang telah berubah menjadi macam betina yang tega melakukan apapun kepada lawannya." ucap Khailan lemah sembari menahan sakit di bagian badannya.
Ratu dan Aurora menatap Khailan dari atas hingga bawah, mereka tidak percaya jika Leona ternyata seorang wanita kejam.
Wajah Kahilan yang babak belur, tubuhnya yang banyak bekas cambukan serta telapak tangan yang tergores pisau.
Ratu dan Aurora meneguk kasar saliva mereka ketika membayangkan bagaimana jika Leona melakukan hal yang sama kepada mereka seperti apa yang dilakukan kepada Khailan.
•
•
•
Di dalam kamar.
Tok! Tok!
Pintu kamar Kayla di ketuk dari luar.
Kayla yang kala itu berdiri di atas balkon sembari melamun hanya diam saja.
Tok! Tok!
"Tuan Putri," terdengar suara Bibi Helen memanggil dari depan kamar Kayla.
Pintu kamar telah terbuka karena Bibi Helen mencoba membukanya dan ternyata tidak dikunci. Bibi Helen menatap kayla yang sedang berdiri di balkon sembari bersedekap dan menatap ke atas langit.
"Tuan Putri," Bibi Helen menepuk pelan pundak Kayla ketika dia sudah berada di samping Kayla.
Kayla kaget dan menoleh ke samping. Bibirnya tertarik membentuk senyum tipis ketika tau siapa yang ada di sebelahnya.
"Bibi, sejak kapan Bibi berada di kamarku?" Kayla bertanya dengan nada lembut.
"Bi, sudahlah. Kenapa Bibi harus berbicara seperti orang bersalah begini?" Kayla berjalan ke arah ranjang.
Bibi Helen mengikuti langkah Kayla dari belakang.
"Apa yang sedang anda pikirkan, Tuan Putri?" Bibi duduk di sebelah Kayla.
"Aku hanya berpikir apakah perbuatan balas dendam ku ini salah?"
"Jika menurut Tuan Putri benar, maka tidak ada yang salah sama sekali."
"Aku rasa aku keterlaluan sampai membunuh kedua prajurit itu, Bibi."
"Anda melakukan itu karena sedang diselimuti oleh kemarahan, Tuan Putri." balas Bibi Helen.
Kayla melirik Bibi Helen sejenak, entah mengapa Bibi Helen sudah seperti ibunya sendiri.
"Bi, apa aku harus melanjutkan hukuman untuk Tabib dan juga Bibi Elisabeth?"
"Menurut saya itu semua tergantung anda, Tuan Putri. Saya selalu mendukung keputusan yang Tuan Putri ambil. Tanyakan sekali lagi kepada hati anda, apakah harus melanjutkan atau tidak?" saran yang Bibi Helen berikan, dia tidak berani memberikan sebuah keputusan pada sang Tuan Putri.
"Aku akan memikirkannya lagi nanti, aku hanya takut jika mereka tidak aku hukum maka mereka akan kembali melancarkan misinya dengan cara membunuhku." ucap Kayla bingung.
"Tuan Putri, jika anda bingung maka lakukanlah seperti yang anda rencanakan dari awal."
Kayla menatap Bibi Helen dan kemudian mengangguk, dia sudah memutuskan untuk menghukum tabib dan sang Ratu.
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘
MON MAAF MOM OTHOR HANYA UP DUA BAB UNTUK HARI INI, BESOK MOM AKAN CRAZY UP..
PAPAY 🤗🤗🤗
🍎🍎🍎🍎🍎
MAMPIR KE KARYA TEMEN MOM OTHOR YUK 🌋🌋**