
Keesokan paginya.
Pangeran Eric tengah bersiap untuk pulang ke mansion karena dia tidak ingin berlama-lama berada di Istana.
"Leona, kau segeralah bersiap. Kita hari ini akan pulang ke mansion," ucap Eric yang berada di kamar Leona.
"Baiklah Pangeran, aku akan segera bersiap. Apa kau tidak berpamitan pada Ayah?" Kayla mengerlingkan mata ke arah Pangeran.
"Tidak! Jika ingin berpamitan maka kau saja, aku tidak perlu." Pangeran langsung mendorong kursi rodanya pergi dari kamar itu, dia turun ke lantai bawah melalui jalan darurat yang pasti tidak ada tangga.
"Hm, dasar pendendam." Kayla tersenyum tipis. Dia segera bersiap untuk kembali ke mansion.
Beberapa saat kemudian, Kayla keluar dari kamar dengan menenteng gaun panjangnya yang menyapu lantai.
"Kenapa gaun ini panjang sekali? Merepotkan!" gerutu Kayla kesal dan dia terus berjalan untuk menuruni anak tangga.
Sesaat Kayla melewati sebuah ruangan, langkahnya terhenti sebab mendengar syara sang Ayah mertua yang sedang memarahi seseorang. Kayla menoleh kesana-kemari untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya menguping pembicaraan sang Raja.
"Kau jangan lalai dalam bekerja! Bagaimana jika Pangeran mengetahui semuanya? Dasar bodoh!" maki Raja pada orang itu.
"Maafkan saya, Paduka. Saya berjanji tidak akan lalai lagi dalam menjalankan tugas,"
"Bagus, aku akan memegang ucapan mu. Aku tidak tau apa yang akan anak cacat itu lakukan jika dia mengetahui bahwa akulah yang sudah menyebabkan Ibunya meninggal."
Deg!
Jantung Kayla serasa berhenti saat mendengarkan ucapan sang Raya. Kayla membekap mulutnya sendiri karena terkejut dengan apa yang Raja katakan.
"Apa? Raja.. Raja yang sudah membunuh Ibunda Ratu?" Kayla menggeleng dan lalu dia memaksimalkan detak jantungnya agar teratur.
Kayla menarik dan menghembus nafas pelan, lalu dengan santai di berjalan melewati ruangan itu.
Raja Ahmad yang melihat Kayla langsung menegur. "Leona!" seru Raja Ahmad dari dalam ruangan.
Kayla berhenti dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam lalu membuangnya pelan agar lebih rileks.
"Ayolah Kayla, kau pasti bisa melawan kegugupan mu ini. Jangan perlihatkan pada Raja jika kau mendengar semuanya atau dia pasti akan curiga padamu," Kayla menyemangati dirinya sendiri dan langsung membalikkan tubuh menghadap ruangan.
"Ayah?" ucap Kayla berpura-pura tidak tau jika Raja berada di dalam.
Raja berjalan menghampiri Kayla yang berada di depan pintu.
Kayla menelan Saliva nya kasar. "Baru saja, Ayah. Aku ingin mencari Ayah untuk berpamitan pulang ke mansion," Kayla berusaha bicara tenang.
Raja menatap pria yang tadi dia marah, pria itu tau maksud Raja dan langsung pergi dari ruangan dengan menunduk hormat. Kayla melirik sang pria dengan seksama.
"Leona," seru Raja pelan.
"Ya Ayah?"
"Kenapa pulangnya cepat sekali? Apa kau tidak betah berada disini?"
"Bukan begitu, Ayah mertua. Aku sangat betah berada di Istana ini, tetapi mau bagaimana lagi, suamiku mengajak pulang dan aku harus mengikuti kemauannya."
Raja Ahmad mengangguk. "Kau benar-benar anak yang baik dan menurut pada suamimu,"
"Tentu Ayah, suamiku adalah segalanya sesudah Ayahku." jawab Kayla pasti.
Raja tersenyum sembari mengelus pucuk kepala Kayla. "Hati-hati dijalan ya, nak?"
Kayla mengangguk. "Baiklah, Ayah. Aku akan pergi, salam." Kayla mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Salam," Raja pun membalas salam dari Kayla dengan mengatupkan kedua tangan juga.
Kayla langsung pergi dari hadapan Raja.
"Jika Pangeran sampai tau bahwa pembunuh Ibunda Ratu adalah Ayahnya sendiri, bagaimana? Apa yang akan dia lakukan? Kenapa semakin lama semuanya semakin membingungkan," gerutu Kayla sembari berjalan turun dari tangga.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA. TERIMAKASIH 😘😘**