Lady Devil

Lady Devil
Bab 14. Lady devil



Malam pun tiba.


Saat ini Kayla dan juga pangeran tengah berada di meja makan. Mereka berdua makan malam dalam diam, tak ada yang ingin bicara satupun.


Beberapa saat kemudian setelah makan malam.


Seorang prajurit datang dan menghampiri Pangeran. "Permisi, Pangeran. Ada surat untuk anda" ucap prajurit itu sopan sembari memberikan sebuah kertas yang digulung kepada Pangeran.


"Kau bisa pergi." sahut Pangeran saat dia sudah menerima surat itu.


Prajurit pun pergi dari hadapan sang Pangeran. Setelah prajurit pergi, Pangeran langsung membuka surat itu dan membacanya. Sesudah membaca, Pangeran meremas kertas tersebut dan membuangnya ke lantai.


"Mereka pikir aku akan datang? Aku yakin pasti mereka hanya ingin mempermalukan aku." Pangeran kembali mendorong kursi rodanya menuju kamar.


Kayla yang tadi melihat Pangeran memegang sesuatu langsung segera berjalan cepat menuruni anak tangga. Kayla menoleh kesana-kemari guna memastikan tidak ada yang melihatnya.


"Apa yang Pangeran pegang tadi?" gumam Kayla pelan.


Dia celingukan dan menemukan sebuah kertas lusuh yang ada dilantai. Kayla mengambil kertas itu dan mulai membukanya.


"Undangan? Paduka Raja Ahmad mengundang putranya sendiri untuk datang ke sebuah acara keluarga?" ucap Kayla setelah membaca surat tersebut. "Apa Pangeran akan datang?" Kayla menatap ke arah lorong kamar Pangeran.


Ada senyum tipis di bibir Kayla kala mengingat kejadian pagi tadi. Wangi mint dari dalam tubuh dan nafas Pangeran, membuat Kayla selalu mengingatnya.


"Astaga, apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku malah memikirkan monster gila itu?" Kayla membalikkan badan dan mulai menaiki tangga untuk ke kamarnya.





Dengan cepat waktu berlalu.


Setelah mendapatkan surat, akhirnya Kayla membujuk Pangeran untuk datang ke acara penting itu. Kayla meyakinkan Pangeran bahwa dirinya akan baik-baik saja, dan karena usahanya, akhirnya Kayla berhasil membujuk sang Pangeran. Mereka telah bersiap untuk pergi ke kerajaan timur. Setelah menaiki kereta kencana, dapat Kayla lihat wajah murung milik Pangeran.


"Pangeran, apa yang kau pikirkan?" Kayla memandangi wajah pangeran dari samping.


Pangeran menoleh sejenak lalu kemudian menggeleng.


"Sudah aku katakan bahwa tidak akan terjadi apapun. Semuanya akan baik-baik saja, kau tenanglah," Kayla memberanikan diri untuk menggenggam telapak tangan Pangeran.


Tidak ada penolakan, Pangeran hanya terus menatap lurus ke depan. Semenjak kejadian ciuman di pagi hari itu, Pangeran tidak lagi sedingin es. Kayla berharap bahwa dirinya bisa mengambil hati Pangeran, agar sang Pangeran merubah keburukannya.


Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di kerjaan timur.


Jack bergegas menurunkan kursi roda milik Pangeran Eric.


"Sepertinya acara ini benar-benar meriah" gumam Kayla saat mereka memasuki Istana.


Kakak pertama Pangeran Eric datang menghampiri. "Halo adikku, selamat datang di Istana." ucapnya sembari tersenyum.


Pangeran hanya membuang muka, Kayla yang merasa bahwa pria didepannya itu adalah kakak Pangeran Eric langsung merasa tidak enak. "Terima kasih atas penyambutannya kakak ipar" Kayla menunduk hormat.


"Wah Eric, lihatlah istrimu. Dia sangat sopan dan ramah, tidak seperti kau yang hanya diam saja menyerupai patung."


Deg!


Jantung Kayla berdetak lemah.


'Tega sekali kakak pertama mengatakan hal itu pada pangeran.' Kayla menoleh sejenak ke arah Pangeran yang hanya diam saja.


Pangeran diam karena sudah terbiasa dihina diejek dan dipermalukan.


"Ayo, masuklah! Acara akan segera dimulai" kakak pertama mengajak rombongan Pangeran Eric masuk ke dalam istana.


Dengan mendorong kursi roda milik Pangeran, Kayla berjalan melangkah terus masuk ke dalam Istana. Kayla melihat ke sekeliling, tidak ada yang dia kenal sama sekali.


"Lihatlah, bukankah itu putra bungsu keluarga Wicaksana?" ucap salah satu tamu yang berbisik dengan temannya.


"Iya, dia benar-benar seperti monster" sahut sang teman.


Kayla semakin masuk ke dalam istana, dan dia juga semakin mendengar kasak-kusuk jelek tentang keadaan Pangeran Eric. Kayla menatap Pangeran Eric dari atas, dia mengelus pelan pundak Pangeran.


"Pangeran, ada aku disini. Kau tidak perlu marah dengan ucapan mereka, mereka tidak menjalani hal seperti dirimu maka dari itu bisa seenaknya berbicara buruk." Kayla mencoba memberikan pikiran positif kepada Pangeran.


Kayla terus mendorong kursi roda hingga suara seseorang menghentikannya.


"Putri Leona!"


Pangeran Alvaro berjalan dengan gagahnya ke arah Kayla dan Eric. Pangeran Alvaro malam ini benar-benar gagah dan berwibawa,Kayla yakin pasti banyak wanita yang sangat ingin sekali menjadi istri Pangeran. Wajah tampan, tatapan mata yang menghunus ke jantung, dan juga suara yang berat.


"Selamat malam Pangeran Alvaro, salam" Kayla mengatupkan kedua tangan didepan dada sembari menunduk sopan.


"Salam Putri Leona." mata Pangeran melirik ke arah Pangeran Eric. "Halo adikku, bagaimana keadaanmu?" tanya Pangeran Alvaro sopan.


Eric melirik Alvaro tajam. "Tidak perlu sok baik didepan ku." sahut Eric kasar.


Pangeran Alvaro hanya diam saja dan kemudian tersenyum tipis.


"Apa acara ini sudah mulai?" Kayla mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebentar lagi. Ayo kita ke samping, Ayahanda, Paduka Raja Vincent, Putri Aurora dan Ratu Elisabeth berada di sana."


"Ayah ku datang kesini?"


Pangeran Alvaro mengangguk. "Mari"


Kayla tersenyum ke arah Pangeran Alvaro, senyum yang menurut Pangeran sangat manis dan juga bisa membuatnya terus ingin melihat itu. Mereka bersama-sama berjalan ke samping halaman istana.


Pangeran Alvaro dari dulu kecil sangat menyayangi Pangeran, dia tidak peduli jika harus mendapatkan perlakuan kasar dari sang Ayah karena selalu dekat dengan Pangeran Eric. Bagi Pangeran Alvaro, Pangeran Eric itu adalah adik kandungnya meskipun mempunyai kekurangan.


"Ayah!" seru Kayla ketika berada di dekat sang Ayah.


Paduka Raja Vincent menoleh, begitupun dengan Putri Aurora dan Ratu Elisabeth. Paduka Raja tersenyum karena melihat sang Putri, tetapi tidak dengan Aurora dan Ratu Elisabeth.


"Ibu, kenapa si tikus itu harus datang kesini?" ucap Aurora berbisik.


"Entahlah, Ibu juga tidak tahu. Dia sama sekali tidak punya malu mengajak suaminya yang lumpuh dan buruk rupa datang ke acara besar ini." sahut Ratu juga berbisik.


Raja Vincent menghampiri Kayla dan kemudian memeluknya.


"Aku sangat merindukan Ayah"


"Ayah juga merindukanmu, Putriku. Baru dua minggu kau pergi dari Istana, dan rasanya Istana itu sepi sekali tidak ada kau."


Pelukan terlepas.


"Ayah, apa Ayah tidak ingin menanyakan kabar suamiku?"


Raja Vincent menoleh ke arah Pangeran Eric. "Bagaimana kabarmu, Pangeran?"


"Aku baik." sahut Pangeran dengan suara yang sangat baritonnya.


Aurora yang mendengar suara Pangeran langsung meneguk saliva kasar. 'Astaga, kenapa suaranya gagah sekali?'


Raja Ahmad menatap tidak suka ke arah Pangeran Eric, dia berjalan menghampiri Pangeran.


"Siapa yang mengundangmu datang kemari?" ucap Raja Ahmad dingin.


Kayla menatap tidak percaya ke arah Raja. 'Bukannya bertanya kabar, malah dia bertanya tentang siapa yang mengundang. Sepertinya kedatangan pangeran Eric sangat tidak diinginkan.' batin Kayla bersedih dengan menatap Pangeran Eric yang berada di kursi roda. Kayla mengeratkan pegangan tangannya di kursi roda yang kala itu dia pegang.





**Tatapan mata Pangeran Eric.




TBC


HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPAKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘


🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎


SAMBIL MENUNGGU UP, MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR Yuk ❤**