
Di mansion.
Matahari mulai menyorot masuk ke dalam segala ruangan yang berada di dalam mansion milik Pangeran Eric. Kayla yang baru bangun tidur segera membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Kayla keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Senyumnya mengembang kala melihat kedua pangeran tampan tengah duduk di kursi meja makan.
“Salam, selamat pagi semuanya” sapa Kayla pada kedua Pangeran itu.
“Salam, Putri Leona” Pangeran Alvaro menjawab, sementara Pangeran Eric hanya diam saja sembari melirik Kayla sejenak.
Kayla tersenyum hambar sebab yang menjawab salamnya bukan sang suami melainkan kakak iparnya. Kayla duduk di kursi yang bersebrangan dengan Pangeran Eric.
Menu sarapan pagi datang dan mereka bertiga langsung menyantap sarapan bersama-sama.
“Hari ini aku akan pulang,” Pangeran Alvaro membuka suara.
Pangeran Eric hanya mengangguk dan terus
menyantap sarapannya.
“Kenapa cepat sekali? Apa kakak tidak betah berada di mansion ini?”
“Kau salah, adik ipar. Tentu saja aku sangat betah berada disini, udaranya segar, pemandangan asri, dan... Sekitarnya membuatku nyaman.” Pangeran berbicara yakin. ‘Dan tentunya karena ada dirimu,’ Pangeran melanjutkan ucapannya dalam hati.
“Lalu mengapa kakak ingin pulang cepat? Apa Pangeran Eric mengusir kakak?” Kayla melirik Pangeran sekilas. Tidak ada reaksi apapun, raut wajah Pangeran tetap datar.
“Jangan membuat masalah dengannya, adik ipar. Kau bisa merusak seleranya di pagi hari ini,” Pangeran Alvaro mencoba mencairkan suasana dengan sedikit gurauan.
“Aku sudah selesai, kalian teruskan saja mengobrolnya.” Pangeran Eric melajukan kursi rodanya pergi meninggalkan meja makan.
Kayla menatap kepergian Pangeran Eric dengan nanar, dan itu semua tidak luput dari pandangan Alvaro.
“Putri Leona, apa yang sedang kau pikirkan?”
Kayla tersadar dari lamunannya dan lansung menatap Alvaro. “Tidak ada kakak ipar, aku hanya sedikit sedih. Sedih mengapa Pangeran Eric tidak pernah melihat ataupun menganggap ku sebagai istrinya.” lirih Kayla pelan. Entah mengapa hati nya merasa sesak kala setiap hari Eric selalu cuek terhadapnya.
“Apa kau mencintainya?”
Bibir Kayla sukses terbuka, dia melongo mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu. “Apa yang kau katakan, kak? Mana mungkin aku mencintai pria misterius seperti dirinya,”
“Benarkah? Kau tidak perlu berbohong, Leona? Jangan membohongi hatimu, aku tau jika apa yang kau katakan sangat berbeda dengan apa yang kau pikirkan.” Alvaro terus memancing Kayla.
“Kak apa yang kau katakan? Pikiranmu salah, aku sama sekali tidak mencintainya. Aku hanya Ingin mengambil hatinya, lalu membantu dirinya untuk merubah kebiasaan buruk yang selalu suka menghukum dan menyiksa siapapun. Setelah itu aku akan meminta cerai dan kami berpisah,” hati Kayla merasa berat kala mengucapkan kata ‘pisah’.
‘Apa yang terjadi denganku? Mengapa hatiku jadi seperti ini,’ batin Kayla bingung.
“Ya ya, aku percaya padamu.” Alvaro tersenyum tipis, sebenarnya dia juga yakin jika Leona tidak mungkin mencintai Eric yang mempunyai banyak kekurangan dan mempunyai sifat temperamen.
Selesai berbicara, mereka langsung pergi ke tujuan masing-masing.
****
Siang harinya.
Pangeran Alvaro berjalan ke arah seorang prajurit.
“Apa kau melihat Pangeran Eric?” Pangeran Alvaro bertanya kala sudah berada di dekat prajurit.
“Beliau sedang keluar, Pangeran”
Pangeran Alvaro hanya mengangguk dan langsung pergi dari hadapan prajurit.
Pangeran berinisiatif untuk menuju kamar Leona, dia heran mengapa tidak ada orang yang makan siang hari ini padahal jam sudah menunjukkan pukul 12.30, kebetulan Pangeran Alvaro juga ingin berpamitan pulang ke Istana.
Tok! Tok!
“Leona! Leona apa kau ada di dalam?” teriak Pangeran Alvaro sembari mengetuk pintu.
Maid lewat dari depan kamar Kayla dan Pangeran langsung menghentikan maid tersebut.
“Pelayan, apa kau melihat Leona?”
“Tuan Putri dari selesai sarapan tadi tidak ada keluar kamar, Pangeran.”
“Baiklah, kau bisa pergi!”
Maid itu pergi dari hadapan Pangeran Alvaro
sambil menunduk sopan.
“Ada apa dengan Leona? Apa dia sakit,” Pangeran Alvaro menjadi khawatir. Dia mendorong pintu kamar dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Pangeran langsung masuk ke dalam kamar kala pintu sudah terbuka.
“Le—“ ucapan Pangeran Alvaro terpotong kala melihat Kayla yang tengah berbaring di ranjang dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya hingga batas dada.
Pangeran segera berjalan ke arah ranjang. “Leona, apa kau sakit?” Pangeran bertanya ketika sudah sampai di tepi ranjang.
Kayla hanya diam saja dengan mata yang terpejam.
Pangeran menggoyangkan tubuh Kayla. “Leona, Leona bangun!”
Kayla membuka kelopak matanya perlahan. “Akh, kepalaku sakit sekali’' lirih Kayla.
“Apa yang terjadi?”
Kayla tidak menjawab kala manik matanya dan manik mata abu milik Pangeran Alvaro bersitubruk. Pangeran terpesona dengan manik mata biru bening milik Kayla. Tanpa sadar Pangeran Alvaro menundukkan kepala agar bisa menatap Kayla dari dekat, tetapi baru juga menunduk sedikit tiba-tiba pintu kamar terbuka keras.
Brak!
“Apa yang kalian lakukan!” teriak Pangeran Eric yang sudah berada di ambang pintu kamar.
“P—pangeran,” gumam Kayla pelan.
Pangeran Eric saat ini tidak memakai kursi roda, dia berjalan dengan tatapan tajam ke arah kakak serta istrinya.
Bugh!
Sesampainya di ranjang, Pangeran langsung memberikan bogeman kepada kakaknya.
“Eric, kau salah paham! Ini tidak seperti yang kau pikirkan,” Pangeran Alvaro ingin meluruskan kesalahpahaman.
“Diam kau! Ternyata kau datang ke mansion ini karena tujuan tertentu, kau ingin mendekati istriku!” teriak Pangeran marah.
“Tidak Eric, kau salah! Aku sama sekali tidak punya maksud apapun,” bantah Pangeran Alvaro.
“Bohong! Sudah jelas aku melihat kau ingin mencium Leona, apa kau sama sekali tidak menghargai adikmu? Beginikah aku harus percaya padamu? Hah!” Pangeran Eric menarik kerah jubah milik kakaknya, dia mendorong sang kakak hingga terjatuh dilantai.
“PERGI DARI MANSION KU!” Pangeran menunjuk pintu keluar.
Pangeran Alvaro berdiri dari duduknya, dia tidak ingin membuat suasana makin panas. ‘lebih baik aku mengalah, daripada masalah semakin panjang. Semoga Leona tidak kena hukuman, maafkan aku Leona..’ batin Pangeran Alvaro bersedih.
“PERGI!” Pangeran Eric berteriak kembali.
Pangeran Alvaro langsung keluar dari kamar Leona.
Setelah sang kakak pergi, Pangeran Eric langsung mengalihkan pandangan ke arah Leona.
Plak!
Satu tamparan mendarat dipipi Kayla, Kayla merintih sembari memegangi pipinya yang terasa kebas.
“Dasar murahan!” bentak Pangeran.
Kayla meneteskan air mata. “Apa yang kau katakan Pangeran? Aku dan kakak ipar tidak melakukan apapun,” lirih Kayla berbicara.
“Cih! Perempuan seperti mu harus mendapatkan hukuman,” Pangeran menarik tangan Kayla keluar dari kamar.
Kayla hanya bisa pasrah mengikuti langkah Pangeran Eric dengan terseok-seok, Kayla merasa tubuhnya sangat lemas.
Pangeran Eric menghentikan langkahnya ketika sudah sampai dihalaman rumah. "JACK!!!" teriak Pangeran memanggil sang tangan kanan.
"Ada apa Pangeran?'" Jack berlari menghampiri Pangeran, lalu kemudian berdiri di depan sang Pangeran.
"Panggil beberapa prajurit dan perintahkan mereka untuk menggali lubang setinggi dada orang dewasa!" perintah Pangeran pada Jack.
"Siap, laksanakan Pangeran." Jack langsung pergi dari hadapan Pangeran Eric.
Beberapa menit kemudian, lubang yang diminta Pangeran Eric telah selesai.
"Pangeran, lubang yang anda minta telah selesai." ucap Jack menyampaikan.
Pangeran segera menarik tangan Kayla kembali.
"Pangeran, apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak berbuat salah dan kau menghukum ku, kau tidak adil! Lepaskan aku!!" berontak Kayla didalam genggaman Pangeran.
Pangeran seakan-akan tuli dan setelah sampai di lubang itu, Pangeran langsung mendorong tubuh Kayla masuk ke dalam lubang tersebut.
"Kubur dia di dalam lubang ini! Jangan ada yang berani membebaskannya, sebelum aku yang memerintah. Apa kalian paham!" Pangeran menatap prajuritnya satu persatu.
Ruly hanya bisa menatap sang Putri dengan tatapan kasihan, dia juga tidak bisa melakukan apapun.
Semua prajurit mengangguk paham dan beberapa prajurit lainnya langsung memasukkan tanah ke dalam lubang itu.
"PANGERAN APA KAU SUDAH GILA? KELUARKAN AKU DARI SINI!" teriak Kayla ketakutan.
"Ini adalah hukuman untuk perempuan yang sudah berani berbuat kotor di mansion ku! Masih untung aku tidak langsung membunuhmu!" Pangeran bersidekap sambil menatap Kayla dari atas.
"Hiks.. KELUARKAN AKU! JACK, TOLONG KATAKAN PADA PANGERAN MU AGAR SEGERA MENGELUARKAN KU DARI SINI! AKU TAKUT," Kayla terisak.
Tanah sudah menutupi tubuh Kayla hingga sebatas leher, hanya kepala Kayla saja yang kelihatan. Kayla terus menangis ketakutan, ditambah semua orang satu persatu pergi meninggalkannya.
Ruly berjalan ke arah Kayla. "Maafkan saya, Tuan Putri. Saya tidak bisa menjaga anda dengan baik," air mata menetes di pipi Ruly.
Kayla hanya menggeleng dan menangis.
"RULY!" Jack memberi kode agar Ruly meninggalkan Kayla.
Ruly berdiri dari jongkoknya dan meninggalkan Kayla.
"Hiks.. Kenapa cobaan Putri Leona sangat berat sekali? Aku harus mampu mengubah alur ini," Kayla bertekad.
Kayla hanya bisa meratapi nasibnya yang terkurung di dalam tanah, suara jangkrik dan burung lah yang saat ini menemani dirinya.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMAKASIH 😘**