Lady Devil

Lady Devil
BAB 58 LADY DEVIL



*Suara ledakan Bom berhasil menghancurkan sesuatu yang berada disekitarnya termasuk Kayla yang juga terkena imbas.


"AAAAA!!!!" pekik Kayla ketika dinding kokoh yang ada di sampingnya roboh.


Kayla terdorong oleh seseorang dan akhirnya Kayla jatuh tersungkur sementara orang yang mungkin tidak sengaja mendorong Kayla tertimpa oleh bangunan kokoh itu.


DUGH!


"Aw.." Kayla memegangi perutnya yang terbentur oleh batu besar. "Argh, sakit...'' rintih Kayla dengan keringat yang membasahi dahinya.


Sementara Ghea, dia tadi permisi pada Kayla untuk pergi ke mengambil minum sejenak.


"TUAN PUTRI!!!" teriak Ghea khawatir kala melihat Kayla yang tergeletak di tanah.


Pangeran Eric dan Pangeran Alvaro terkejut akibat ledakan itu, mereka benar-benar tidak menduga jika akan terjadi sesuatu yang sangat membahayakan nyawa banyak orang.


Kedua Pangeran itu berlari ke tempat kejadian.


"Dari mana asalnya Bom itu meledak, kak?" Pangeran Eric bertanya dengan nafas yang memburu.


"Sepertinya dari arah sana," mereka kembali berlari ke tempat Bom meledak.


Pangeran melihat betapa banyaknya korban jiwa, ada yang luka ringan, luka berat bahkan meninggal dunia akibat tertimpa oleh bangunan.


Pangeran terus mengedarkan pandangan, hingga matanya terhenti pada seseorang yang sangat dia kenal.


"Putri Leona!!!" teriak Pangeran histeris sembari berlari menghampiri sang permaisuri.


setelah berada di samping sang istri, Pangeran langsung menatap Ghea tajam.


"Mengapa kau membawanya kemari, hah!!!''


Ghea terlonjak kaget. "S—saya.." Ghea menjadi gugup karena Pangeran menatapnya dengan sangat mengerikan.


"Pangeran, sudahlah.. Aku baik-baik saja," lirih Kayla dengan menahan rasa yang amat sakit di perutnya.


"Putri, bagaimana bisa kau mengatakan baik-baik saja.." mata Pangeran terhenti di kaki Kayla. "Darah!" ucap Pangeran kaget.


"Pangeran Eric, sebaiknya kau bawa istrimu pulang ke Istana. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan calon bayi kalian," ucap Pangeran Alvaro yang kala itu berjongkok di samping Pangeran Eric*.


*


Pangeran terus memandang ke depan dengan tatapan kosong.


"Adikku," Pangeran Alvaro yang melihat Pangeran Eric hanya diam saja langsung menepuk pundak sang Pangeran.


Pangeran Eric terkejut lalu tersadar dari lamunannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Pangeran Eric meraup wajahnya sembari menghela nafas lega. 'Ternyata itu semua hanya angan-angan,' batin Pangeran bersyukur karena kejadian yang membuat permaisuri nya terluka ternyata hanyalah bayangan.


"Aku membayangkan jika tadi aku mengajak Leona datang kesini lalu ada Bom yang membuat Leona terluka hingga keguguran.'' ucap Pangeran menceritakan hal yang membuatnya hampir terpuruk.


"Kau jangan berpikir terlalu jauh terlebih dahulu," Pangeran Alvaro men


"Suamiku!" teriak Kayla yang melihat sang suami ketika dirinya selesai bermain dengan anak-anak.


Sontak kedua kakak-beradik itu menoleh ke sumber suara.


"Leona? Kenapa dia berada disini?" gumam Pangeran sembari melirik sang kakak sejenak.


Kayla berjalan ke arah suaminya dengan senyum yang mengembang.


"Pangeran, kau juga berada disi—" ucapan Kayla terpotong karena sebuah suara ledakan Bom.


"AAAA!!!" Kayla memekik kuat ketika dirinya terpental.


Brugh!


"Aw.." Kayla tergeletak di tanah dengan tangan yang memegangi perutnya.


"LEONA!!!" teriak Pangeran Eric yang melihat sang Istri terpental tiba-tiba karena ledakan Bom yang juga muncul tanpa diduga.


Pangeran Eric dan Pangeran Alvaro berlari ke arah Kayla.


"Leona," Pangeran Eric menatap Kayla dari atas sampai bawah. "Leona, apa kau baik-baik saja?" lanjutnya dengan rasa khawatir.


Kayla mengangguk sembari duduk dengan dibantu oleh Pangeran.


"Apa perutmu terasa sakit?"


Kayla menggeleng. "Hanya sedikit kram. Untung saja tadi aku dengan cepat melindungi perutku, jika tidak entah apa yang akan terjadi."


"Mengapa kau berada disini?"


"Aku hanya ingin menyaksikan perayaan ulang tahun Kerajaan, apa itu salah?" Kayla menatap wajah tampan bertopeng milik Pangeran.


"Bangunlah," Pangeran dan Kayla berdiri.


Mereka melihat betapa banyaknya korban jiwa yang terkena ledakan Bom, bahkan sampai ada yang tertimpa bangunan.


"Lihatlah, ini adalah alasan ku mengapa aku tidak mengajakmu datang ketempat ini."


Kayla bersedih melihat keadaan rakyatnya, senyum dan canda tawa yang tadi terukir dibibir mereka, sekarang hanyalah rintihan, tangisan, serta rasa sakit yang melanda mereka.


"Pangeran, kau sudah mengetahui bahwa ini semua ini akan terjadi, tetapi mengapa kau tidak menghentikan perayaan ini?" ucap Kayla sendu.


"Putri Leona, sebenarnya aku sudah mendapatkan surat peringatan dari kerajaan Selatan, bahwa mereka akan datang ke perayaan dan menghancurkan kebahagiaan para rakyat. Aku sudah memberitahu rakyat agar tidak mengadakan perayaan ini, tetapi para rakyat memohon dan mereka mengatakan bahwa aku sebagai Raja baru mereka harus melihat kebahagiaan mereka dengan mengadakan perayaan ulang tahun Kerajaan. Aku pun datang kesini hanya untuk memastikan bahwa tidak ada kejadian buruk yang akan menimpa rakyat kita. Tetapi perkataan Paman Derrick benar, dia ingin membalaskan dendam Raja Glend yang telah aku bunuh." jelas Pangeran dengan panjang lebar.


"Aku tidak tega melihat mereka yang tidak bersalah tetapi terkena Imbasnya. Hiks.." Kayla menangis melihat para prajurit yang membantu mengeksekusi para korban karena takut akan ada Bom susulan.


"Sst.. Sudah tenanglah, kau jangan menangis. Aku akan memberikan perawatan gratis pada mereka yang mengalami luka ringan dan berat. Sementara untuk yang tiada, aku akan memberikan jaminan keuangan dan memastikan keluarga mereka agar selalu sejahtera," janji dari Pangeran Eric.


"Itu ide yang bagus, meskipun aku masih sedikit tidak tega melihat keadaan mereka semua,"


"ADIK!!" teriak Santika yang baru saja tiba di tempat diadakan ulang tahun Kerajaan.


Sontak Pangeran Eric, Kayla dan Pangeran Alvaro menoleh.


"Mau apa wanita itu datang ke tempat ini?" ucap Pangeran Alvaro dengan refleks.


"Kakak ipar, dia itu kakak sepupu ku. Mengapa kau tega berbicara seperti itu?" Kayla bersungut kesal.


Santika berjalan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"SANTIKA AWAS!!!" teriak Pangeran Alvaro hingga urat lehernya menegang.




**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART 🙏🏻


Jangan lupa tinggalkan dukungan dan komentar yang dapat membangun semangat Othor ❤**