
Kayla mengambil sebuah tilam lantai, dia segera membentang nya dan menarik tubuh pangeran agar tidur di atas tilam itu.
"Astaga, berat sekali badannya. Aku rasa dia sekali makan." gumam Kayla dan meletakkan tubuh pangeran.
Kayla menghembuskan nafas pelan lalu dia mencari kamar mandi. Setelah menemukan kamar mandi, Kayla langsung mengambil air di ember untuk membersihkan tubuh pangeran.
Sesampainya disebelah pangeran, Kayla meneguk saliva nya kasar. 'Aku harus membuka pakaiannya? Oh god, bagaimana ini?? Bahkan aku belum pernah melakukan ini sebelumnya' batin Kayla.
Tangan Kayla mulai terulur untuk membuka kancing paling atas milik Pangeran, karena saat ini pangeran hanya memakai piyama tidur. Kayla menarik tangannya sebelum menyentuh bagian kancing baju pangeran. "Bagaimana jika dia nanti terbangun? Aku yakin pasti tanganku yang akan di potong karena sudah lancang menyentuhnya. Ya, meskipun aku istrinya, tapi dia tidak pernah melihat siapa yang sedang disiksa karena dia tidak punya mata hati." gumam Kayla kesal ketika mengingat pangeran memberikan dirinya hukuman.
Kayla terdiam sejenak sembari menatap tubuh pangeran yang tidak jelas, sebab lilin hanya satu dan juga berada jauh. Kayla telah berpikir dan dia mulai memberanikan diri untuk membuka pakaian suaminya.
"Aku tidak perduli jika nanti dia tiba-tiba bangun dan menghukum ku. Lebih baik aku segera menyelesaikan tugasku,"
Kayla menahan nafas, dengan tangan yang gemetaran dia membuka satu persatu kancing baju pangeran.
"Huft!" hembusan nafas lega keluar dari mulut Kayla. "Akhirnya terbuka juga".Kayla pun melanjutkan aktivitasnya.
Saat Kayla ingin melepaskan pakaian dari tubuh pangeran, Kayla memegang tangan pangeran yang dia duga ada sesuatu menancap di sana. Dengan cepat Kayla melepaskan tangan pangeran.
"Apa itu? Kenapa aku seperti memegang sesuatu yang sangat tajam?'' Kayla menelan saliva nya kasar. Dia memberanikan diri untuk kembali memegang tangan pangeran dan melihat apa yang ada di telapak tangan milik pangeran.
Mata Kayla membola kala dia sudah tau apa itu. "Pecahan kaca?" mata Kayla berembun, dia sangat kasihan dengan keadaan pangeran.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan pangeran? Kenapa kau melukai dirimu sendiri?" air mata menetes di pipi Kayla. Dengan sigap Kayla segera menghapus air matanya dan dia memberanikan diri untuk mencabut pecahan kaca itu dari tangan pangeran.
Setelah kerja kerasnya selesai, pecahan kaca pun sudah tidak ada lagi di telapak tangan pangeran.
"Aku harus segera membersihkan tubuh pangeran" ucap Kayla dan langsung bergegas mencelupkan kain di air lalu membasuh dengan perlahan tubuh telanjang dada milik pangeran menggunakan kain basah.
"Pangeran, aku akan merawat mu setulus hatiku. Aku yakin kau terpuruk karena suatu alasan, keluargamu jahat sekali, mereka bahkan tidak pernah melihatmu disini dan tidak mau tau bagaimana keadaanmu ditempat ini." Kayla berbicara sendiri sembari memakaikan pakaian baru di tubuh pangeran.
Mata Kayla tertuju ke arah wajah pangeran Eric yang tidak terlalu jelas. Intinya Kayla dapat melihat bahwa pangeran tidak memakai topeng dan Kayla melihat luka di pipi sebelah kiri milik pangeran. Kayla mengalihkan pandangan dan dia mulai ingat bahwa dirinya belum mengganti celana milik pangeran.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Apa aku juga yang mengganti celananya? Bagaimana jika besok dia —" ucapan Kayla terpotong karena memikirkan jika besok pangeran marah besar karena Kayla berani membuka celananya.
Kayla menggeleng cepat. "Baiklah, aku tidak akan mengganti celananya." keputusan Kayla dan dia mulai mengembalikan ember ke kamar mandi lalu meletakkan pakaian kotor milik pangeran ke keranjang.
Sebelum pergi, Kayla mencari kain terlebih dahulu untuk mengikat luka di telapak tangan pangeran agar darah tidak mengalir terus-menerus. Setelah selesai, Kayla mengambil selimut dan menyelimuti tubuh pangeran hingga batas dada.
"Selamat malam pangeran Eric. Maaf jika aku lancang membuka pakaian dan menyentuh tubuhmu" Kayla berbisik ditelinga pangeran dengan suara lembutnya.
Kayla berdiri dan mulai keluar dari kamar kacau milik pangeran.
Jack yang melihat pintu kamar terbuka segera menghampiri Kayla. "Bagaimana Tuan Putri, apa sudah selesai?"
Kayla mengangguk. "Jack, ikutlah denganku. Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" perintah Kayla pada Jack.
Jack pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Kayla. Tak jauh dari kamar Eric, Kayla langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jack.
"Jack, apa yang terjadi dengan Pangeran?"
"Apa maksud anda Tuan Putri?" Jack tidak mengerti pertanyaan yang Kayla ajukan.
"Kenapa pangeran bisa senekat itu menyakiti dirinya sendiri? Kau tau, aku tadi membersihkan tangan pangeran yang tertancap pecahan kaca. Apa dia selalu seperti itu ketika mengamuk?"
Jack mengangguk.
Jack hanya terdiam.
"Katakan sesuatu Jack! Aku tidak sanggup melihat keadaan pangeran yang sering depresi seperti itu"
Jack menghirup nafas dan membuangnya perlahan. "Semua itu berawal dari kematian ibu pangeran, Tuan Putri." Jack mulai menceritakan.
"Ibu? Apa hubungannya?" Kayla menatap Jack dengan seksama, mencari kejujuran dimata Jack.
"Pangeran terlahir dalam keadaan cacat."
"Bukankah itu semua sudah takdir?" sela Kayla cepat.
"Benar, Tuan Putri. Itu semua memang takdir, tapi tidak dengan paduka Raja. Paduka Raja Ahmad berpikir bahwa pangeran adalah pembawa sial, terlahir dalam keadaan cacat dan selalu jadi bahan omongan para rakyat."
Kayla tercengang mendengar ucapan Jack. "Paduka Raja sekejam itu?"
Jack mengangguk. "Bahkan saat usia pangeran sudah menginjak tiga tahun, paduka Raja ingin membuangnya. Tetapi itu semua tidak terjadi karena Yang Mulai Ratu menghentikan keinginan gila paduka Raja. Paduka Raja sebenarnya ingin sekali mempunyai anak perempuan, karena anak beliau yang pertama laki-laki-laki dan yang kedua juga laki-laki."
"Lalu? Dimana Ibu pangeran Eric?"
"Apa anda tidak pernah mendengar cerita tentang kerajaan timur dan Istana Istand, Tuan Putri?"
Kayla menggeleng. "Mungkin aku melupakannya" sahut Kayla sekenanya.
"Baiklah, saya akan menceritakan semuanya. Waktu itu ada pertemuan pemimpin kerajaan di aula kerajaan Selatan. Paduka Raja, Yang Mulia ratu dan pangeran Eric berada di sana. Mereka datang karena sebuah undangan dari pemimpin kerajaan Selatan, sebenarnya paduka melarang Yang Mulia Ratu untuk membawa Pangeran Eric, karena menurut paduka pangeran hanya akan membuat malu dirinya. Yang Mulia Ratu tidak setuju dengan permintaan Paduka, hingga mereka pun memutuskan datang bersama ke aula dengan membawa pangeran Eric."
"Waktu itu usia pangeran berapa tahun?" Kayla memotong cerita Jack.
"Lima tahun." sahut Jack.
"Lanjutkan ceritanya Jack" pinta Kayla.
Jack mengangguk. "Kejadian tidak terduga terjadi di aula itu. Sebuah kebakaran besar menyambar dengan cepat hingga membuat seluruh penghuni aula kebingungan menyelamatkan diri masing-masing. Paduka Raja menarik cepat tangan Yang Mulia Ratu agar segera keluar dari aula tersebut, dan sampailah di luar aula, Yang Mulia Ratu mengingat bahwa Pangeran Eric tidak bersamanya. Yang Mulia memberontak dalam genggaman Paduka Raja, hingga akhirnya Yang Mulia Ratu bisa lepas dari cekalan Paduka Raja. Yang Mulia berlari kembali masuk ke dalam aula untuk menyelamatkan pangeran Eric, tetapi naas." Jack menunduk dan menghembuskan nafas berat.
"Ada apa Jack? Apa yang terjadi?"
"Yang Mulia terjebak di dalam aula, sementara pangeran selamat dari maut itu."
Kayla menganga terkejut. "Jadi apa itu sebabnya Paduka Raja mengasingkan pangeran Eric?"
Jack mengangguk. "Sejak kejadian itu, paduka tidak lagi ingin melihat wajah pangeran Eric, paduka berpikir bahwa pangeran lah yang sudah membuat Yang Mulia Ratu tiada. Karena itu paduka mengirim pangeran ke mansion tersembunyi ini, mulai dari usia lima tahun pangeran diasuh oleh Bibi Mida."
"Lalu dimana Bibi Mida sekarang?"
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT NANTI MALAM
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**