Lady Devil

Lady Devil
BAB 46 LADY DEVIL



Keesokan paginya.


Kayla tengah berada di halaman luas Istana dengan didampingi oleh para prajurit.


“Siapkan tong besi besar dan letakkan bara api di bawah tong itu. Aku ingin menghukum tabib yang telah membantu Ratu Elisabeth dalam misi menghabisi Ayahku.” teriak Kayla sembari duduk di kursi kebesarannya.


Beberapa prajurit membawa sebuah tong besi, ada juga yang meletakkan bara api di bawah tong tersebut.


Tong yang tadinya berwarna hitam kini telah berubah menjadi merah menyala karena sengatan bara api.


Kayla tersenyum sinis, hatinya sudah diselimuti oleh dendam dan amarah. “Bawa tabib itu kesini dan jangan lupa dengan Ratu Elisabeth juga Aurora! Aku ingin melihat mereka menyaksikan kematian orang hebat yang menjadi kepercayaan mereka.”


Empat prajurit pergi ke ruang bawah tanah untuk memanggil Tabib, Ratu, serta Aurora.


Beberapa menit kemudian.


“Lepas! Mau apa kalian!” teriak Ratu marah.


“Apa kabar Ratu Elisabeth?” Kayla berkata dengan nada dingin.


Ratu, Aurora dan tabib melihat ke arah sebuah tong besar dengan bahan alumunium yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Ibu, apa yang akan dilakukan oleh singa kejam itu?” Aurora berbisik pelan di telinga sang Ibu.


“Ibu juga tidak tahu, sepertinya riwayat kita akan tamat hari ini.”


“Hei hei!!! Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian bingung dengan tong besar itu?” Kayla berdiri sembari menunjuk tong besar yang muat untuk tubuh satu orang di dalamnya.


Ratu dan Aurora hanya diam saja, sementara tabib sedang gemetaran.


“Baiklah baik, aku akan memberitahu kalian apa kegunaan tong besar itu.” Kayla memberi kode kepada prajurit untuk membawa tabib agar mendekat ke tong besar.


“Prajurit! Masukkan tabib itu ke dalam tong.” perintah yang Kayla katakan.


Prajurit mengangguk dan langsung mendorong tubuh tabib sampai masuk ke dalam tong.


“Ayo cepat jalan!” bentak sang prajurit kepada tabib.


Tabib itu berjalan kaki di atas tong bara api, betapa sakitnya dia merasakan panas di kakinya.


“ARGH!!!” tabib mengerang kesakitan ketika dia berjalan masih setengah tong itu.


Beberapa saat kemudian.


“ARGH!!! ARGH!!! AMPUN!!!” tabib berlari kesana-kemari karena tubuhnya telah terbakar.


Kayla yang melihat itu tersenyum puas, meskipun dalam hati kecilnya dia merasa sedikit tidak tega. ’Ini adalah hukuman akibat kalian yang sudah bermain-main denganku. Kalian sudah mempermainkan kesabaran yang ada dalam diriku'. geram Kayla dalam hati.


Tubuh tabib telah hangus dan luruh ke tanah.


Glek!


Ratu dan Aurora menelan Saliva dengan kasar.


“Apa kalian sudah puas melihat kegunaan tong itu?”


Ratu masih menatap tong yang berukuran panjang 20meter tersebut.


*bisa kalian bayangkan tong besar dengan panjang 20meter dan lebar seperti tinggi tubuh orang dewasa jika berdiri.


“Apa kalian ingin mencobanya?” Kayla menatap sinis Ratu dan Aurora.


Ibu dan anak itu sukses menggeleng cepat.


“Haha.. Kalian berdua memang tidak punya nyali.” Ejek Kayla dengan senyum remeh. “Tapi baiklah, aku tidak akan memaksa kalian untuk masuk ke dalam tong itu, karena aku ingin membuat hidup kalian menderita terlebih dahulu barulah aku akan menghabisi kalian berdua.” gertak Kayla dengan berbicara santai.


Ratu dan Aurora saling tatap.


Kedua prajurit datang menghampiri Ratu dan Aurora, lalu mereka membawa Ibu dan anak itu masuk kembali ke dalam jeruji besi .


‘Ayah, Ibu, maafkan aku jika aku sekarang telah menjadi monster. Aku seperti ini karena kesabaran ku sudah habis, aku benar-benar tidak bisaa mengampuni mereka yang telah berbuat jahat kepada kalian berdua,’ Kayla menatap ke atas langit lalu dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan halaman luas Istana.





Sementara di mansion.


"Apa semua sudah siap?" teriak Pangeran menatap satu persatu prajuritnya.


"Siap, Pangeran!" teriak mereka semua bersamaan.


"Baiklah, ayo kita pergi menuju ke kerajaan Selatan dan aku sudah tidak sabar untuk membalaskan segala kejahatan yang Raja Ahmad lakukan." Pangeran tersenyum sinis.


Jack berjalan menghampiri Pangeran. "Pangeran, apa yang akan anda lakukan jika bertemu dengan Raja Ahmad?"


"Tentu aku akan menghabisi Raja itu. Dia sudah menghabisi Ibuku dan dia juga sudah memfitnah aku serta mengasingkan aku ke hutan belantara ini." ucap Pangeran penuh emosi.


"Tapi, Pangeran. Raja Ahmad adalah Ayah kandung anda," Jack mengingatkan.


"Aku tidak peduli, Jack. intinya aku akan segera mengeluarkan segala amarah yang aku pendam selama dua puluh tahun ini kepada pria yang telah menghancurkan kehidupanku." geram Pangeran.


"Pangeran, semuanya telah siap. Kita bisa berangkat sekarang menuju Kerajaan Selatan." ucap salah satu prajurit kepada Pangeran.


"Baiklah, Jack. Ayo kita lakukan pertumpahan darah di Kerajaan Selatan, hari ini adalah hari penentuan untukku atau Raja Ahmad yang akan mati!" Pangeran berjalan meninggalkan Jack.


Jack hanya menggeleng dan berdoa dalam hati agar Pangeran tidak menghabisi Ayah kandungnya sendiri.


Beberapa kereta kencana mulai melaju meninggalkan mansion.


'Ibu, aku akan segera membalas dendam atas kematian mu.' batin Pangeran.


*


Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di Kerajaan Selatan.


"Mau apa kalian datang ke Istana ini?" bentak salah satu prajurit penjaga gerbang kepada Jack.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau hanyalah seorang prajurit dan kami datang bersama dengan Pangeran Wicaksana." sahut Jack santai.


"Tapi Paduka Raja tidak memperbolehkan Pangeran atau antek-antek nya masuk ke dalam Istana!" teriak prajurit tegas.


"Lalu jika kami memaksa untuk masuk, apa yang ingin kalian lakukan?" Jack bertanya dengan menatap kedua prajurit penjaga gerbang.


"Kalian harus melewati mayat kami terlebih dahulu." balas prajurit Kerajaan tanpa rasa takut.


SERANG!!!


Para prajurit Kerajaan berlari dari dalam Istana keluar menuju gerbang karena mendengar ramai-ramai di luar Istana.


Terjadilah pertumpahan darah antara prajurit mansion dan prajurit Kerajaan.


Beberapa prajurit mansion ada yang terkalahkan, tetapi lebih banyak prajurit Kerajaan yang terjatuh bersimbah darah.


Setelah beberapa menit melakukan perkelahian yang tidak sepadan, akhirnya seluruh prajurit kerajaan kalah oleh para prajurit mansion.


Pangeran yang berada di dalam kereta kencana hanya tersenyum tipis. "Kalian pikir para prajurit ku tidak hebat dalam peperangan? Kita lihat saja nanti selanjutnya." gumam Pangeran lalu dia turun dari kereta ketika pintu gerbang berhasil terbuka lebar.


Pangeran berdiri di depan para rombongannya.


"Ayo masuk!" Pangeran masuk terlebih dahulu diikuti oleh para bawahannya.


Sesampainya di dalam Istana.


Pangeran Alvaro terkejut melihat sang adik yang sudah berada di Istana.


"Eric, mau apa kau datang ke Istana ini?" bentak Pangeran Alvaro dengan suara beratnya.


Pangeran Eric menatap sang kakak dengan datar. "Apa aku butuh izin untuk datang ke Istana orang tua ku?"


"Sejak kapan kau mengakui bahwa Ayah adalah orang tuamu?" teriak Pangeran Alvaro marah, dia masih kesal jika mengingat kejadian yang dilakukan oleh Pangeran Eric dan Putri Leona.





**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**