
Keesokan paginya mata Kayla berkedut dan perlahan mata itu terbuka sempurna, Kayla dapat merasakan sinar matahari menyorot masuk ke dalam kamar miliknya. Kayla terduduk di tepi ranjang, dia melihat ke sekeliling.
"Ternyata aku masih hidup. Aku pikir aku udah mati" Kayla ingin turun dari ranjang, tetapi dia sadar akan sesuatu.
Mata Kayla membulat dan dia segera berteriak. "RULY!!!"
Pintu kamar Kayla terbuka.
"Ruly, siapa ya—'' ucapan Kayla terpotong lala dia melihat ke arah pintu. Bukan Ruly yang datang melainkan Pangeran Eric.
"Kau! Kenapa kau ke kamarku?"
Pangeran masuk ke dalam kamar Kayla, tak lupa dia menutup pintu terlebih dahulu.
"Ini mansion milikku, jadi aku bebas ingin kemanapun atau berada dimana pun." Pangeran duduk di sofa kamar.
"Hei! Keluar sekarang. Aku memanggil Ruly, apa namamu sekarang sudah berubah menjadi Ruly!"
Pangeran melirik tajam ke arah Kayla, sementara Kayla langsung mengalihkan pandangan.
"Kau berkomentar? Baru kali ini ada seseorang yang berani membentak ku dan mengusirku." Pangeran berdiri dan mengambil buah apel yang berada dimeja. "Ada apa kau memanggil Ruly?"
"Aku.. Aku hanya ingin bertanya tadi malam siapa yang mengganti pakaianku." Kayla menunduk karena Pangeran terus menatapnya.
"Jika aku mengatakan bahwa akulah yang mengganti pakaianmu, bagaimana?" ucap Pangeran enteng sembari mengunyah buah apel dan berjalan ke arah ranjang.
"Kau—" Kayla langsung refleks berdiri dan menatap pangeran tajam.
"Kenapa? Apa kau marah? Bukankah kau ini Permaisuri ku?" Pangeran melemparkan buah apel yang tinggal sedikit ke arah ranjang.
Kayla meneguk Saliva kasar ketika Pangeran mendekatkan wajahnya pada wajah Kayla.
"Kau, kau mau apa? Jangan macam-macam." Kayla memundurkan wajahnya.
"Jadi orang jangan berlaku sok berani jika kau sebenarnya penakut. Aku tidak akan menyentuhmu!" Pangeran berbisik tajam ditelinga Kayla.
Mata Kayla melotot karena mendengar ucapan dari Pangeran. Kayla mengangkat tangan dan ingin memukul pangeran, tetapi sebelum itu Pangeran dengan cepat menangkap tangan Kayla.
"Jangan berani melawanku, Tuan Putri." Pangeran menghempaskan tangan Kayla kasar dan langsung pergi dari kamar itu.
Sebelum Pangeran membuka pintu, dia sempat berbicara. "Ruly lah yang menggantikan pakaianmu tadi malam, bukan aku." setelah itu pangeran langsung menutup pintu kamar.
Setelah Pangeran pergi, Kayla menghentakkan kakinya di atas lantai.
"A!!! Kenapa aku percaya diri sekali? Padahal pangeran tidak ingin menyentuhku, bahkan mungkin dia tidak akan sudi." Kayla langsung pergi ke kamar mandi.
•
•
•
Di Istana Hedder.
"Ayah, aku merasa bahwa Eric menyembunyikan sesuatu dari kita." ucap Alvaro yakin.
"Apa maksudmu Pangeran?"
"Ayah lihat kejadian tadi malam kan? Eric bisa berjalan dengan normal bahkan dia sama sekali tidak mengamuk."
Raja Ahmad terdiam sembari berpikir. "Ayah tidak tau, Pangeran. Kita akan cari tau tentang itu nanti''
"Aku ingin pergi ke mansion."
"Mansion? Untuk apa kau ke sana?"
"Mengapa kau harus repot-repot mengurusi kehidupan anak itu, Pangeran?" ucap Raja keberatan.
"Ayah, dia itu juga putra Ayah. Dia adalah adikku dan bagian dari keluarga Wicaksana"
"Ayah keberatan jika kau bertemu dengan Eric. Sebaiknya tidak perlu mementingkan ataupun mencari tau bagaimana kehidupan anak pembawa sial itu."
"Kenapa Ayah sangat kejam terhadap Eric? Dia cacat dan lahir ke dunia ini bukanlah keinginannya, itu semua adalah takdir, Ayah." Pangeran Alvaro mencoba membujuk Raja.
"Tapi dia sudah membunuh Ibumu! Dari kecil dia sudah membawa sial untuk keluarga Wicaksana dan kerajaan timur. Ayah juga malu karena mempunyai putra yang wajahnya sangat buruk seperti Eric, bahkan sifatnya yang temperamen membuat dirinya mirip seperti monster."
"Ayah cukup! Cukup hinaan yang Ayah lontarkan untuk Eric. Dia itu adikku, dan aku akan tetap pergi menemui Eric!" tekad Pangeran Alvaro.
"Pangeran! Pangeran Alvaro!!!" teriak Raja Ahmad kuat ketika Pangeran Alvaro pergi meninggalkan dirinya. "Anak itu benar-benar—" Raja menyandarkan tubuh di sofa sembari memijit pelipisnya.
"Permisi, Paduka Raja" seorang prajurit datang menemui Raja Ahmad.
"Ada apa?"
"Ada surat untuk Paduka'' Prajurit itu menyerahkan sebuah gulungan kertas.
"Ini saja? Kau bisa pergi!".
Prajurit langsung pergi dari hadapan Raja Ahmad.
Setelah kepergian prajurit, Raja langsung membuka surat tersebut. Ketika membaca surat itu, mata Paduka melotot.
"Siapa yang mengirim surat ini! Kurang ajar, dia ingin bermain-main denganku rupanya." Paduka tersenyum sinis.
"PRAJURIT! PRAJURIT!!!" teriak Raja
Prajurit yang tadi memberikan surat, kembali menghampiri Raja. "Maaf, Paduka Raja. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Siapa yang memberikan surat ini?" Paduka menatap Prajurit yang ada dihadapannya.
"Prajurit kerajaan Selatan yang mengirimnya."
Raja langsung mengangguk. "Kau bisa pergi!"
Prajurit mengangguk sopan dan pergi dari hadapan Raja Ahmad.
"Aku tau siapa yang sedang mencoba untuk memancingku." Paduka tersenyum sinis.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘
🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR**.