Lady Devil

Lady Devil
Bab 7. Lady devil (POV Kayla)



Seketika jantungku seperti berhenti berdetak, aku masih bingung dengan ucapan Raja Ahmad. 'Apa maksudnya temperamental? Tapi aku lihat pangeran itu seperti manusia biasa pada umumnya’


“Maaf Paduka Raja, apa pangeran yang disebelah anda mempunyai sifat temperamental?” ujar ku karena penasaran.


Mata semua keluargaku dan keluarga Wicaksana menatapku dengan tatapan kaget.


“Apa yang kau maksud Putri?” Ayahanda bertanya padaku.


“Bukankah pangeran itu yang akan menikah denganku, Ayah?”


Ayahanda terlihat syok, tetapi Ratu Elisabeth dan Aurora terlihat menerbitkan senyum mengejek.


“Bukan, Putri. Dia adalah Pangeran Alvaro, putra mahkota kerajaan Istand. Sementara yang akan kami jodohkan padamu, dia adalah putra bungsu keluarga Wicaksana”


JEDUAR!!!!


Aku terdiam seribu bahasa, mulutku seperti terkunci dan tidak dapat berbicara. Bahkan untuk mengatakan ‘apa’ saja sulit rasanya.


‘Apa maksudnya putra bungsu? Jadi siapa yang akan menikah denganku jika bukan pangeran tampan itu’ batinku bergemuruh.


“Putri, dia itu pangeran Alvaro. Sementara yang akan menikah denganmu adalah pangeran Eric.” jelas Ayah.


Aku menatap Ayahanda sejenak.


“A! Aku rasa putri Leona lupa dengan siapa dia akan di jodohkan” ucap Ratu Elisabeth.


“Baiklah, tidak masalah. Semuanya sudah jelaskan, bahwa Putri Leona menerima pinangan dari putra bungsuku. Kita akan menentukan tanggal pernikahan beberapa hari lagi, kalau begitu kami permisi Raja Vincent” Raja Ahmad berdiri dari duduknya diikuti oleh pangeran Alvaro.


Ayahanda pun ikut berdiri dari duduknya guna mengantarkan Raja Ahmad keluar Istana. Aku hanya diam saja sembari menatap kepergian Raja Ahmad dan Pangeran Alvaro. Sebelum pergi, Raja Ahmad mengelus kepalaku lembut dan mengucapkan banyak terimakasih.


Setelah kepergian Raja Ahmad. Aku menghampiri Ayah yang akan berjalan menaiki anak tangga.


“Ayah!” seru ku.


Ayah menghentikan langkahnya dan menoleh.


“Ayah, aku pikir pangeran Alvaro yang akan dijodohkan denganku”


Ayah terlihat heran dan menatapku seksama. “Apa kau lupa Putri? Bukankah kau harusnya sudah tau akan dijodohkan dengan siapa?’


Aku terdiam. Sementara Ayah, tanpa mendengarkan jawabanku dia langsung pergi meninggalkan ku sendirian yang berdiri mematung.


“Haha....”


Aku menoleh ke asal suara.


“Selamat ya Putri Leona, sebentar lagi kau akan masuk ke dalam neraka yang sesungguhnya” ucap Aurora tajam.


“Apa maksudmu?” aku menatap Aurora.


“Ya! Pangeran temperamental yang lumpuh dan buruk rupa akan menjadi suamimu. Kalian memang pantas bersama, karena sama-sama mempunyai kehidupan yang menyedihkan.” Aurora bersedekap.


“Aku tidak peduli!” jawabku masa bodoh.


“Benarkah? Oh oh... Kau tau, pasti setelah menikah dengan pangeran buruk rupa itu kau akan digunjing oleh rakyat dan disiksa habis-habisan oleh pangeran Eric” Aurora tertawa pelan. “Aku puas melihatmu menderita.”


Aku menatap tajam ke arah Aurora. “Kenapa harus aku yang dijodohkan? Bukankah kau lebih tua dariku?” jawaban yang ingin aku dapatkan dan membuat aku penasaran.


“Apa kau pikun? Kau benar-benar bodoh Putri Leona. Sebenarnya akulah yang akan dijodohkan, tetapi karena aku tau siapa yang akan menikah denganku maka aku menolaknya dengan berbagai alasan dan mengajukan dirimu sebagai pengganti.” Aurora menjeda ucapannya. “Apa kau juga tidak ingat mengapa aku menyekap mu di gudang?”


Aku menggeleng.


“Dasar bodoh! Baiklah, biar aku ingatkan. Kau sangat sulit dibujuk agar mau menikah dengan Pangeran Eric, maka dari itu aku dan Ibu mengurung mu di dalam gudang agar kau berubah pikiran. Ya, beberapa hari kami mengurung mu dan akhirnya kau sekarang menyerah dengan sendiri mu lalu memutuskan untuk menikah. Aku sangat salut sekali padamu Putri, sangat salut!” Aurora tersenyum remeh dan langsung pergi dari hadapanku.


Aku masih terdiam mencerna ucapan Iblis wanita itu. “Jadi dia menjadikan putri Leona sebagai pengganti karena pria yang akan dinikahi mempunyai sifat aneh.” Gumam ku pelan. ‘Maafkan aku Putri Leona, aku pikir pangeran Alvaro yang akan menikah denganmu. Tapi tidak apa, aku harus semangat untuk merubah kebiasaan pangeran Eric yang temperamental ‘ batin ku bermonolog.


Aku berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar.


Satu bulan kemudian.


Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, dan aku akan menikah satu minggu lagi. Aku masih tidak percaya dengan ini, bahkan aku masih penasaran bagaimana wajah buruk dari seorang Pangeran Eric.


“Putri” suara seseorang membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang masuk ke dalam kamarku. “Bibi” ucapku lirih .


Bibi Helen langsung memelukku dari samping.


“Kenapa anda melamun, hm?” bibi Heren melepaskan pelukannya.


“Aku masih memikirkan tentang pernikahan ini, Bi. Aku bingung harus meneruskan atau meninggalkan perjodohan ini” ucapku sembari menatap diri dari pantulan cermin karena aku saat ini sedang duduk di depan meja rias.


“Tuan Putri, anda sudah tidak bisa lagi menolak. Jika anda berani membatalkan pernikahan ini, maka paduka Raja pasti akan sangat marah besar. Semuanya sudah terjadi, ikuti saja alurnya dan Bibi selalu bersamamu.” ucap Bi Helen tulus.


“Aku akan berdoa kepada yang maha kuasa agar semua perjalananku berjalan mulus dan lancar. Terimakasih karena Bibi sudah mau menjadi tameng untukku” ucapku tulus.


“Itu memang sudah kewajiban Bibi, Tuan Putri. Dari dulu saat mendiang Ratu Jihan masih hidup bibi selalu jadi tameng. Bibi rela melakukan itu semua karena Bibi gak rela jika Ibunda Ratu dan Tuan putri kenapa-kenapa.”


Aku tersenyum tipis dan mengelus punggung belakang milik Bi Herna.


“Apa diluar mereka sedang menghias aula pernikahan istana?”


Bibi Herna mengangguk. “Apa anda ingin melihat? Ayo, akan bibi temani” .


Kami berdua berjalan keluar dari kamar. Dengan langkah anggun aku menuruni anak tangga sembari melihat sekeliling istana yang sudah dihias.


Aku menghentikan langkahku ketika mengingat sesuatu. ‘Mengapa hiasan ini hanya sedikit? Bukankah jika pernikahan itu akan mewah?’ batinku berpikir.


Bibi Helen yang mengetahui kebisuan ku langsung menegur. “Tuan Putri, apa yang sedang anda pikirkan?”


“A—Aku heran, Bi. Kenapa Hiasan ini hanya sedikit? Bukankah harusnya dibuat semeriah mungkin, karena akan ada pernikahan sesama keluarga bangsawan?” aku akhirnya bertanya, daripada jadi beban pikiran.


Ya, aku mengetahui bahwa jika pernikahan di kerajaan pasti akan sangat meriah. Begitulah yang aku baca dari novel lain.


“Itu karena yang akan menikah dengan Tuan Putri adalah pangeran Eric. Pangeran yang sangat dianggap buruk dan membuat aib bagi keluarga Wicaksana, keluarganya sendiri. Maka keluarga Raja Ahmad tidak ingin mengadakan pernikahan yang meriah ataupun mewah. Mereka juga hanya mengundang sedikit tamu, karena takut saat pernikahan nanti kondisi Pangeran Eric kambuh. Itu pasti akan membuat malu keluarganya.”


Aku hanya terdiam dan bersedih dalam hati. ‘Ya tuhan, seberapa buruknya pangeran itu hingga keluarganya sendiri menganggap dirinya sebagai aib'



**Putri Leona


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN DAN TINGGALKAN JEJAKNYA


TERIMAKASIH 😘**