Lady Devil

Lady Devil
Bab 18 LADY DEVIL



Pangeran Alvaro memutuskan untuk menginap di mansion milik Eric. Pangeran Eric pun mengijinkan sang kakak menginap dikediamannya, bukan tanpa sebab pangeran Eric mengijinkan Pangeran Alvaro menginap di mansion nya tetapi Pangeran Eric ingin melihat apakah pangeran Alvaro mempunyai tujuan tersendiri atau tidak.


Mereka sekarang tengah berada di meja makan untuk makan malam bersama.


“Er, aku lihat tidak ada daging. Apa kau tidak suka makan daging?” Pangeran Alvaro bertanya sembari melihat seisi meja makan.


“Tidak! Aku alergi makan daging,” sahut Pangeran Eric.


Pangeran Alvaro hanya mengangguk paham.


“Oh ya kakak ipar, kenapa Ayah mertua tidak ikut datang kemari?” Kayla berpura-pura tidak mengetahui masalah antara Pangeran Eric dan Raja Ahmad.


Pangeran Alvaro melirik ke arah Pangeran Eric yang hanya meneruskan makan malamnya. “Ayah sedang sibuk, dia tidak bisa ikut datang kesini”.


“Tidak perlu menyembunyikan hal apapun darinya.” Pangeran Eric menyela sambil mengunyah makanannya.


Kayla dan Pangeran Alvaro hanya diam saja.


“Tapi aku lihat, selama aku tinggal di mansion ini, Ayah mertua tidak pernah datang ke—“ ucapan Kayla terpotong.


Prang!!


Piring milik Pangeran Eric jatuh di atas lantai dan hal itu membuat Kayla juga Pangeran Alvaro terkejut.


“Apa kau tidak bisa diam!” bentak Pangeran pada Kayla.


Kayla hanya diam saja dengan tangan yang gemetaran. “M—maafkan aku Pangeran,” ucap Kayla terbata.


“Er sudahlah! Jangan diperpanjang, Leona hanya bertanya tentang Ayah.” Pangeran Alvaro mencoba menjadi penengah.


“Kau tau jika aku tidak suka mendengar tentang Raja itu bukan?”


Pangeran Alvaro hanya diam saja, dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana.


Pangeran Eric beranjak dari kursinya, tetapi suara Kayla berhasil menghentikan langkah Pangeran Eric.


“Dia itu Ayahmu, kau tidak boleh bicara seperti itu Pangeran Eric!” Kayla mencoba untuk membuat Pangeran agar tidak terlalu membenci Ayahnya.


“Kau tidak tau apapun, Putri Leona.” Pangeran melirik tajam ke arah Leona. Setelah itu Pangeran Eric langsung melangkahkan kaki pergi dari meja makan.


Sesaat kepergian Pangeran Eric, Alvaro menatap Kayla dengan tatapan iba. 'kau pasti sangat sering dibentak seperti itu, Leona.’


Kayla menatap Pangeran Alvaro sejenak, lalu dia beranjak dari duduknya. “Kakak ipar, aku permisi ke kamar.”


Pangeran Alvaro mengangguk dan Kayla langsung pergi ke kamarnya.





Sementara di tempat lain.


“Bu, Ibu harus bantu aku mencari cara agar bisa mendapatkan Pangeran Alvaro.” Aurora tengah berada di dalam sebuah kamar bersama dengan Ibunya.


“Bagaimana caranya, Putriku? Ibu tidak bisa memaksa Ayahmu agar menikahkanmu dengan Pangeran Alvaro. Kau juga tau ‘kan, kita harus segera menghabisi Raja Vincent,”


“Aku ingat itu,” Aurora menjawab pasti.


“Maka dari itu kau jangan dulu memikirkan tentang pernikahan. Kita harus melancarkan rencana kita terlebih dahulu, setelah Raja Vincent tiada maka kau boleh menikah dengan siapapun, Ibu akan mengaturnya.” bujuk Ratu Elisabeth.


“Benarkah?” seketika wajah Aurora berseri.


Ratu Elisabeth mengangguk.


“Baiklah, aku tidak akan memikirkan tentang bagaimana mendapatkan Pangeran Alvaro terlebih dahulu.’’


“Bagus, itu baru Putriku calon pewaris tunggal Kerajaan Timur.”


Ibu dan anak itu tertawa bersamaan.


“Bu, bukankah ini waktunya kita menemui tabib?”


“A, Ibu hampir lupa. Untung kau mengingatkan,”


“Apa kita pergi sekarang? Aku akan segera bersiap.”ucap Aurora.


“Tentu kita harus pergi sekarang, supaya rencana kita cepat selesai.”


Mereka berdua langsung segera bersiap untuk menemui tabib yang membuat ramuan agar Raja cepat tiada.


Beberapa menit kemudian, Ibu dan anak itu telah selesai lalu bersama-sama berjalan menuruni anak tangga.


“Pelayan!!!" Ratu Elisabeth memanggil maid kala dirinya telah sampai di lantai bawah.


Maid tersebut berjalan menghampiri Ratu Elisabeth dan Aurora.


“Dimana Paduka Raja?”


“Jika Paduka pulang, katakan padanya aku dan Putriku sedang keluar sebentar.”


“Baik Yang Mulia,” maid menunduk hormat.


Ratu Elisabeth dan Aurora pergi meninggalkan maid itu. Mereka segera memanggil prajurit kepercayaan agar mengantarkan ke kediaman Tabib.


Setelah menempuh perjalanan selama 40menit, akhirnya kereta kencana milik Ratu Elisabeth sampai di tempat tujuan, Ratu Elisabeth dan Aurora turun dari kereta kencana itu.


“kau tunggulah disini, kami tidak akan lama!” perintah Ratu kepada prajurit.


“Siap Yang Mulia.” Sahut prajurit tegas.


Ratu dan Aurora melangkah masuk ke dalam rumah kecil milik tabib.


“Permisi!” teriak Ratu saat sudah berada di ambang pintu.


Tabib mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal dan langsung keluar dari kamar. Ketika berada di luar, tabib tersenyum kala melihat tamu istimewanya.


“Salam Yang Mulia,” tabib mengatupkan kedua tangan didepan dada sembari tersenyum.


“Salam.” Balas Ratu dan Aurora. “Tabib Khail, kau sudah tau tujuan ku datang kesini bukan?” lanjut sang Ratu.


“Tentu saja, Ratu. Saya sudah mempersiapkannya,” tabib berjalan mengambil sesuatu.


Tabib itu kembali dengan membawa botol kecil yang berjumlah dua botol. “ini,” tabib memberikan dua botol ramuan kepada Ratu Elisabeth. “Seperti biasanya, Yang Mulia hanya harus memberikan ramuan itu satu kali satu hari sebelum Paduka tidur.” lanjutnya.


“Ya, aku mengerti. Ini bayaran mu!” Ratu memberikan tabib itu sekantong koin emas.


Tabib menerima dengan hati bahagia dan senyum mengembang. “Apakah ramuan yang saya buat waktu itu berhasil?”


“Ya, sangat berhasil. Lelaki tua bangka itu mau menuruti setiap ucapan ku, bahkan dia rela memukul dan mengurung Putri kandungnya di dalam ruang bawah tanah. Karena itulah aku datang kesini lagi, aku percaya padamu Khailan, kau adalah tabib yang sangat hebat.” Ratu tersenyum smirk.


Tabib tersenyum puas, dia lega karena sang Ratu memuji hasil kerjanya. “saya juga sangat berterimakasih Yang Mulia, karena anda sudah memberikan saya imbalan yang begitu besar”


“Itu semua karena aku puas dengan hasil kerjamu, Khail. Baiklah, aku harus pulang karena takut jika Paduka Raja nanti akan mencurigai ku.”


“Silahkan Yang Mulia,” Tabib mengantarkan Ratu ke teras rumah.


“Senang bisa bekerja sama denganmu. Salam,” Ratu mengatupkan kedua tangan di dada.


“Salam,” Tabib mengatupkan tangan juga sembari menunduk hormat.


Ratu dan Aurora masuk ke dalam kereta kencana lalu kereta pergi dari kediaman tabib.


***


Malam harinya.


Paduka Raja telah berada di dalam kamar bersama dengan Ratu Elisabeth.


“Suamiku, sebelum tidur sebaiknya kau minum dulu vitamin ini. Di usia yang senja aku yakin kau pasti sering merasa lelah bukan?” Ratu memberikan satu butir pil buatan kepada Raja Vincent.


“Meskipun aku sudah lanjut usia tetapi tenaga ku masih kuat Ratu.” Raja tersenyum ke arah Ratu lalu mengambil pil tersebut dan menelannya.


Ratu memberikan gelas berisi air kepada Raja, air minum yang sudah dicampur ramuan serbuk dari tabib tadi.


“Kau benar suamiku, tapi setidaknya urus lah kesehatanmu daripada kau akan jatuh sakit nanti.” Ratu mulai naik ke atas ranjang.


“Ten—“ ucapan Raja terpotong karena dia merasa kepalanya sangat pusing.


“Suamiku, ada apa?” Ratu mulai memasang raut khawatir.


“Entahlah, Ratu. Kepala ku sangat terasa berat dan pusing,” Raja memegangi kepalanya, dunia ini serasa berputar dalam pandangan Raja.


“Mungkin kau kelelahan, suamiku. sebaiknya kau sekarang istirahat saja,” Ratu mulai membantu sang Raja merebahkan diri.


Raja merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata, dia tidak tahan karena kepalanya semakin terasa berat.


‘Aku berharap ramuan itu akan cepat bereaksi lalu kau segera tiada Paduka Raja. Dan dengan begitu aku juga Putriku bisa menguasai Istana serta kerajaan ini,’ batin Ratu jahat.'




**TBC


HAPPY READING


SEE YOU NEXT PART


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘


🍎🍎🍎🍎🍎


MAMPIR KE KARYA TEMEN OTHOR YUK ❤**