
"Penolakanmu sungguh membuatnya tak berdaya, Arga"
Arga menoleh ke asal suara yang memasuki ruang kerjanya. Ketika tahu siapa yang datang, pria itu lantas berdiri menyambut tamu terhormat nya. "Selamat datang tuan" ucap Arga sopan sambil membungkuk sedikit.
"Tidak perlu sungkan seperti itu. Kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku. Sebentar lagi kamu akan menjadi yang tertua dari Anak-anakku" ucap Kenzie menepuk pundak Arga pelan.
"Silahkan duduk tuan" kata Arga mempersilahkan Kenzie duduk disofa yang tersedia diruang kerjanya.
Kenzie tersenyum kecil. "Terimakasih. Panggil aku ayah sama seperti Sean dan Leyna. Kamu sudah kuanggap seperti anakku sendiri" Kenzie duduk dengan nyaman.
Arga menghidangkan teh dan kue kering dalam toples yang disimpan di rak khusus makanan.
"Silahkan teh dan kuenya... A-ayah" ucap Arga ikut duduk didepan Kenzie.
"Sebenarnya saya sedikit berat untuk melepaskan adik saya. Namun, saya juga tidak tega melihat kaisar menderita lebih lama lagi." ucap Arga menundukkan kepalanya.
"Leyna juga sudah bisa mengendalikan kekuatannya" sambung Arga.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku sudah mengalami dua kali. Melepaskan kedua putriku untuk pria lain yang akan menikahi mereka" kata Kenzie lalu menyeruput sedikit teh nya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Arga menatap Kenzie bingung.
"Aku tidak akan ikut campur mengenai keputusanmu Arga. Kamu kakaknya Leyna. Kamu yang lebih berhak untuk memutuskan" ucap Kenzie bijaksana. Memaksakan kehendak akan berakhir buruk. Kenzie tidak ingin pernikahan putranya memiliki drama orang ketiga.
Arga mengusap wajahnya kasar karena saking frustasi nya. Menjadi kepala keluarga sangat sulit, apa lagi jika harus melepas putri dari keluarga itu
"Saya akan pikirkan dengan baik." putus Arga.
Mendengar hal itu Kenzie lantas tersenyum tipis. "Sekarang kesampingkan masalah putraku dan adikmu"
"Aku ingin tahu ada hubungan apa kamu dengan Richard? Maaf jika keingintahuanku terdengar lancang" sambung Kenzie.
Arga menatap Kenzie dingin. Kali ini yang dihadapan Kenzie bukan lagi seorang Arga, melainkan seorang Derick mantan calon pewaris kerajaan Lucifer.
"Richard Alcander Lucifer. Dia adalah adikku satu-satunya selain adikku yang lain, yang hanya anak angkat" ucap Arga mengawali cerita kelamnya dikehidupan sebelumnya.
Ingatannya kembali ada kehidupan sebelumnya hingga ia mati terbunuh karena adik kandungnya.
Sebelum melanjutkan Arga mengambil napas dalam-dalam "Aku yang terlahir dua puluh tahun lebih dulu dari Richard sudah mulai disibukkan dengan agenda yang padat, menjadi calon pewaris sangat melelahkan bagiku. Namun semua itu akan segera berakhir karena adik yang ku tunggu selama puluhan tahun terlahir dengan selamat, karena adikku yang sebelum-sebelumnya selalu saja terlahir dalam keadaan tak bernyawa sehingga membuat ibunda kami sempat mengalami sedikit depresi. Richard ku tumbuh dengan baik. Kami selalu memanjakan Richard kecil tanpa menyadari keanehan yang dialaminya. Richard kecil penuh semangat dan ambisi." Arga menjeda sejenak. Kemudian kembali bercerita kembali dengan pandangan sendu.
"Sampai ketika ayah kami datang membawa dua anak kecil yang entah dari mana asalnya. Kehidupan kami mulai berubah menjadi bencana. Masalah satu persatu datang silih berganti. Richard ku yang sudah tumbuh remaja menjadi remaja yang nakal. Hati Richard mulai ditumbuhi dendam terhadap adik angkatku yang menjadi kakak kedua dan ketiga Richard. Perhatian ayahanda dan ibunda yang seharusnya diberikan untuk Richard malah direbut oleh kedua adik angkatku. Mereka berdua selalu berusaha menjebak Richard dan menjadikan Richard sebagai kambing hitam mereka."
"Karena ayah dan bunda sudah tidak percaya lagi padanya, akhirnya Richard dihukum dengan diasingkan. Selama Richard diasingkan, aku sesekali menemuinya. Awalnya aku tidak melihat keanehan yang terjadi. Namun semakin lama sikap Richard semakin berubah menjadi lebih tertutup, sikapnya tetap selalu baik-baik saja dihadapanku sehingga aku tidak bisa menyadari perubahannya."
"Kami selalu berlatih bersama dan menciptakan kekuatan baru ketika aku berkunjung ketempatnya yang sampai sekarang ditinggali olehnya. Mansion miliknya itu adalah tempat dimana dia diasingkan. Tempat tak terjamah dan diketahui oleh siapapun kecuali keluarga Alcander. Sifatnya yang memang sedari dulu selalu ambisius membuatnya semakin liar."
"Melihat ibunda yang sudah tidak bernyawa lagi, ayahanda menjadi murka. Tanpa berpikir lagi, ayahanda langsung menyerah Richard dengan kekuatan penuh. Yang di pikirkan ayahanda waktu itu adalah Richard dengan sengaja membunuh istrinya. Tak berapa lama hal yang sama terjadi. Tubuh ayah menjadi kaku tak bisa bergerak sewaktu Richard memberikan serangan balik yang merupakan kekuatan barunya. Apa yang dirasakan ayah sama seperti apa yang dirasakan bunda. Sekilas aku melihat pandangan penyesalan yang diarahkan padaku. Sampai akhirnya ayah juga terbunuh ditangan Richard."
Arga berhenti untuk mengambil napas. Mengontrol emosinya yang siap meledak. Menutup matanya dengan erat agar cairan bening dimatanya tidak terjatuh. Setelah tenang, Arga kembali melanjutkan ceritanya. Kenzie yang sedari tadi mendengarkan hanya diam saja.
"Aku tahu siapa dalang dibalik itu semua! Namun aku tidak bisa bertindak gegabah karena waktu itu, aku kelelahan kehabisan energi untuk melawan para pemberontak. Sedangkan Richard juga kehabisan energi setelah berlatih dengan bunda dan bertarung mati-matian dengan ayah agar dirinya bisa selamat. Jika Richard menyerahkan diri, maka dia pasti akan dihukum penggal oleh ayah."
"Dengan sangat terpaksa aku mengusir Richard. Hatiku hancur melihat keluargaku hancur berantakan. Kini hanya tersisa aku dan adikku saja. Hanya tersisa kami berdua. Aku hanya memiliki kesempatan terakhir untuk menyelamatkan keluarga kandungku satu-satunya. Mengusirnya hanya menjadi kesempatan terakhir yang kumiliki. Aku tahu jika dia sebelum pergi menatapku kecewa dan marah. Namun aku tak memiliki pilihan. Aku hancur karena sudah gagal"
"Suatu hari setelah aku bertugas menjaga perbatasan, aku datang ke istana untuk melapor. Namun siapa sangka, aku menemukan fakta yang mengejutkan. Kedua anak yang dibawa ayah dan diangkat menjadi anak angkat ternyata anak kaisar sendiri. Aku bergegas pergi ke mansion tempat dia diasingkan. Karena aku tahu dia pasti akan pulang kesana, karena hanya tempat itulah yang paling aman waktu itu."
"Sesampainya disana, aku tidak menemukan keberadaannya. Akhirnya aku kembali pulang. Saat aku sampai, aku dikejutkan dengan hal yang sangat menegangkan. Dimana kedua putra kaisar beetarung melawannya secara bersamaan. Aku tidak membantu siapapun. Aku hanya diam menjadi penonton tanpa berniat membantu. Aku tahu jika adikku pasti bisa mengalahkan kedua putra kaisar, karena kekuatannya jauh melebihi kekuatan milikku yang hampir setara dengan keduanya."
"Kedua putra kaisar terpojok dan Richard hendak menghunuskan kedua pedangnya jantung mereka, namun siapa sangka aku malah maju melindungi kedua pangeran itu sehingga kedua pedang milik Richard berhasil menembus tubuhku. Yang kuingat saat itu adalah aku harus melindungi keluarga junjungan ku meskipun yang mereka incar dan yang mengincar mereka adalah bagian dari keluargaku. Aku sudah terikat sumpah terhadap kaisar sehingga dengan aku melindungi keduanya, tugasku sudah selesai.
Richard murka melihatku terluka karena kesalahannya yang ketiga kalinya, kakak yang paling dia sayangi mati terbunuh ditangannya."
Tes
Setetes air mata keluar karena sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuh Arga bergetar hebat menahan tangisannya.
Kenzie rasanya tak tega melihat pria didepannya itu yang terlihat sangat menderita. Disatu sisi dia ingin melindungi adik yang sangat dia sayangi dan disisi lainnya dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang jendral muda kerajaan immortal.
Setelah tenang, Arga melanjutkan ceritanya lagi.
"Aku tidak pernah melihatnya semarah itu bahkan ketika ayah dan ibu mati terbunuh ditangannya sendiri karena ketidak sengajaan, dia tidak pernah semurka itu. Sebelum aku menghembuskan napas terakhir ku, aku melihat Richard berhasil membawa kepala kedua pangeran kehadapanku. Richard memangku kepalaku saat pandanganku mulai menggelap. Sebelum aku menghembuskan napas terakhir ku, aku mendengar ucapan Richard bagaikan anak panah yang tak pernah tergoyahkan targetnya berada dimana."
"Richard berkata dengan suara lirihnya 'Aku berhasil membawakan kepala dua kepar*at yang menghancurkan keluarga kita. Aku bersumpah atas diriku sendiri demi kakak, aku akan melindungi klan kita dengan cara... Aku akan menghancurkan keluarga kaisar tanpa sisa! Aku akan menunggu kaisar berikutnya apakah dia berhak menjadi kaisar dari seluruh klan atau dia hanya akan menjadi beban dari setiap klan. Aku akan menjual jiwaku agar aku tetap berumur panjang' kata-katanya sangat panjang dan dalam penuh dengan dendam"
"Adikku tidak bersalah! Dia terus melakukan kejahatan karena untuk memenuhi sumpahnya! Melindungi klannya dan klan lainnya untuk memastikan kaisar berikutnya layak atau tidak. Masa hidupnya akan berakhir setelah dia puas jika kaisar selanjutnya memang layak memimpin dunia immortal"
"Setelah dia menjual jiwanya, maka dia tidak akan bisa bereingkarnasi kecuali melakukan perjanjian darah dengan kaisar agar dia bisa bereingkarnasi. Namun dia tidak menerima hal itu agar dia bisa bereingkarnasi kembali. Kejahatannya sangat banyak sehingga ia merasa tidak layak untuk hidup kembali. Dan alasan yang lainnya adalah..."
"Kedua pangeran yang dipenggal kepalanya sudah bereingkarnasi menjadi putranya sendiri. Richard tidak menerima hal itu. Dia tidak sudi menjadi ayah dari pembunuh kedua orangtuanya serta kakaknya."
"Kedua putranya? Siapa?" tanya Kenzie dengan kerutan didahi yang sangat kentara. Richard memiliki tiga putra, tidak mungkin jika dia hanya menebak-nebak saja.
"Arion dan Gavin! Mereka adalah kedua pangeran itu. Aku sendiri merasa terkejut karena mereka berdua memiliki rupa yang sama dengan kedua pangeran itu. Ketika aku dalam keadaan kritis setelah melawan Richard. Di alam bawah sadarku, Richard mendatangiku. Dia menangis bahagia dan memelukku sangat erat. Kakak yang selama ini ia nantikan sudah terlahir kembali. Namun sayangnya pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir kami. Sebelum dia pergi, dia menitipkan satu putranya yang amat sangat dicintainya dan selalu ia jaga diam-diam. Putranya dari perempuan yang sangat dia cintai. Hanya dialah putra satu-satunya yang berhak mewarisi kekayaannya. Dia adalah Damian R Alcander"
Mengapa Bukan Damian Franco? Karena nama asli Damian adalah Damian R Alcander yang diberikan sendiri oeh Richard dengan sepenuh hati. Bahkan Richard memberikan namanya setelah nama panggilan putranya. Damian Richard Alcander!.
Sesungguhnya Richard sangat menyayangi Damian, dia tidak pernah memiliki niatan untuk membunuh Damian. Ketika Richard mengetahui bahwa Damian menghilang, dirinya murka lalu membunuh dua wanita yang merupakan ibu dari Arion dan Gavin. Namun ibu dari Damian sangat sedih dan marah kepada Richard sehingga wanita itu memilih untuk mati ditangan Richard dengan cara menghunuskan pedang yang dipegang oleh Richard.
...»---♡---«...