
Leyna terus berjalan mengikuti langkah kakaknya. Ia masih belum mengganti gaunnya, tetapi riasannya sudah ia hapus.
"Apakah masih jauh?" tanya Leyna sambil menyamakan langkah kakinya agar bisa berjalan disamping kakaknya.
Arga menoleh sambil tersenyum "Apakah lelah?" tanyanya.
"Emm... Sedikit" kata Leyna kerena ia memang memakai hils.
"Kamu memakai celana panjang?"
Pertanyaan Arga membuat kening gadis itu mengernyit. "Aku memakainya"
Pria itu tersnyum lalu ia berjongkok tepat didepan Leyna. "Naiklah! Aku akan menggendongmu" tawarnya sambil menoleh kebelakang.
"Tidak. Kakak pasti lelah juga!" tolak Leyna diiringi dengan gelengan kepala. Leyna sangat yakin, jika kakak nya itu sangat kelelahan.
"Tidak apa-apa. Tempatnya masih sedikit jauh. Ayo naiklah"
Meskipun ragu tapi Leyna tetap melakukannya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Arga.
Arga menaikkan sedikit tubuhnya lalu berdiri dengan meletakkan kedua tangannya dibawah lutut adiknya. "Papa dan mama sudah menunggumu, mari kita bertemu mereka"
Jantung Leyna berdetak kencang ketika mendengar perkataan kakaknya. Leyna menyender dipunggung lebar kakaknya dengan memejamkan matanya, menikmati perlakuan istimewa dari kakaknya.
Selang beberapa menit, akhirnya mereka sudah sampai di tempat pemakaman khusus keluarga Frederick! "Kita ketemu papa sama mama dulu, setelah itu aku akan membawamu menemui kakek dan nenek dari pihak papa dan mama, serta kakek buyut dan nenek buyut keluarga Frederick"
Arga menurunkan adiknya dari gendongannya. Pria itu menuntun adiknya. Mereka berhenti ditengah kedua makam yang dinisannya bertuliskan 'Maximiliam Frederick (Papa) dan Jeslyn Frederick (Mama).
"Papa... Mama... Arga datang mengunjungi kalian. Arga baik-baik saja dan selalu berusaha untuk tetap menjadi anak yang baik. Kali ini Arga tidak sendirian lagi seperti sebelumnya! Lihatlah siapa yang Arga bawa untuk kalian! Putri kecil kalian sudah datang! Arga sudah menemukan dia dan bahkan sudah dekat dengannya selama beberapa tahun terakhir! Semoga papa dan mama bahagia disana! Arga akan menjaga adik dengan nyawa Arga sendiri!" Selesai menyapa dan memberikan beberapa kata, Arga menoleh kearah adiknya.
"Adik, sapalah mereka" pintanya kemudian ia pindah tempat diatas kepala makam.
Leyna maju dengan mata berkaca-kaca, bahkan air matanya sudah jatuh ketanah saat mendengar perkataan kakaknya.
"Papa... Mama..." panggilnya kemudian terisak. Ia sudah tidak kuat lagi untuk tidak menangis.
Melihat adiknya terisak, Arga lantas memeluk adiknya. "Kakak... Hiks"
"Papa sangat menyayangi mu, bahkan mama lebih menyayagimu. Saat kamu masih didalam perut mama, aku selalu merasa papa dan mama lebih menyayangimu. Mereka juga sudah menyiapkan kamar yang luas dan di dekorasi dengan sangat cantik untuk kamu jauh sebelum kamu dilahirkan, mereka menyiapkan kamar kamu setelah dokter melakukan USG. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan segalanya untukmu." Arga menceritakan semua yang ia ingat.
"Mereka sangat menyayangimu, Nana!"
Leyna mengurai pelukannya. Ia berjongkok didepan nisan kedua orangtuanya. "Papa... Mama... Terimakasih sudah menyayangiku. Terimakasih sudah membuat aku hadir didunia ini. Kalian jangan mengkhawatirkan aku lagi. Sekarang kakak yang akan menjagaku. Aku sudah tidak sendirian lagi" isaknya sambil mengelus kedua nisan orangtuanya.
Setelahnya Arga mengajak adiknya kemakam keluarga inti yang lainnya.
...»---♡---«...
Mobil mewah itu berhenti didepan toko bunga milik Leyna. Arga keluar terlebih dahulu kemudian memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Leyna yang tertidur karena kelelahan sehabis menangis.
Senyum tipis dibibir Arga terbit ketika melihat wajah lelap adiknya yang sudah menghilang puluhan tahun. Dalam hati ia berjanji akan melindungi adiknya dengan segala cara. Siapapun yang berani menyakiti adiknya, maka ia akan balas dengan lebih menyakitkan lagi tanpa terkecuali termasuk dirinya sendiri.
Sebelum masuk kedalam rumah kecil itu, Arga menoleh ke kafe lantai dua. Ia melihat sosok yang selama ini menjadi pelindungnya, sosok yang ia anggap seperti kakaknya sendiri, Rafael Beckham Devender.
Didalam ruangan itu, Rafael hanya tersenyum tipis. Ia juga merasa bahagia. Anak kecil yang ia tolong itu sudah menemukan adiknya yang mereka cari selama ini. Rafael tak menyangka jika gadis yang akan menjadi Permaisuri kerajaan Immortal adalah adik dari pria yang pernah ia selamatkan.
Sepeninggal Arga yang masuk kedalam rumah kecil itu, Rafael memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya, dunia immortal klan Fairy. Rafael yakin jika pria itu sanggup untuk menjaga calon permaisuri kerajaan Immortal. Kekuatan yang dimiliki Arga semakin lama semakin bertambah kuat. Ada kemungkinan jika Arga sepertinya memiliki darah immortal yang mengalir ditubuhnya sebelum ia memberikan darahnya pada Arga. Dan sepertinya darah miliknya memicu darah immortal milik Arga terbangkitkan secara perlahan.
Sebelum Rafael pergi, ia mengirim pesan lewat ponselnya ke Arga. 'Aku akan kembali. Kuharap kau menjaga gadis itu dengan segenap nyawamu! Jika sampai gadis itu kenapa-napa atau bahkan sampai mati, kau akan melihat kehancuran setelahnya!"
Ditempat lain, tepatnya diatas gedung tinggi tak jauh dari rumah kecil tempat tinggal Leyna. Seseorang mengamati pergerakan dari rumah kecil itu. Bibir merahnya menyeringai penuh dendam. "Bukankah kau hanya menggertakku saja?! Jika memang gadis itu mati, aku ingin melihat apakah ramalan itu benar terjadi atau tidak?! Tak peduli meskipun aku harus mati setelahnya!" gumamnya.
...»---♡---«...
Keesokan paginya.
Pria itu tersnyum hangat sambil menatap penuh kearah leyna "Tentu saja! Kakak harus bisa melakukan apapun! Agar aku bisa melakukan segalanya jika adikku sudah ditemukan"
Pandangan Arga kembali menyendu, ia teringat kembali dengan masa lalu yang kelam itu. Dimana ia kehilangan tiga orang terkasihnya dalam satu malam.
Leyna tertegun melihat kakaknya meneteskan air mata. Yang ia kenal selama ini, pria didepannya merupakan pria yang dingin pada siapapun, akan tetapi jika pria didepannya itu berhadapan dengannya maka sikap pria itu akan berubah menjadi hangat dan lembut. Tapi tidak sedetikpun, pria itu memperlihatkan kesedihannya. Namun semenjak Arga mengaku jika dirinya adalah adiknya yang sudah lama menghilang, pria itu tidak segan untuk menunjukkan perasaannya pada Leyna.
Leyna berdiri dan menghampiri Arga kemudian memeluk pria itu dari samping. "Kakak sudah tidak sendiri lagi. Ada aku yang akan selalu bersama kakak. Kemana pun kakak pergi, aku pasti akan ikut bersama dengan kakak"
Arga memegang tangan yang tengah memeluk dirinya itu "Kamu juga sudah tidak sendirian lagi. Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut denganmu dan jika aku pergi, maka aku akan membawamu pergi"
"Kakak pasti sangat menderita waktu itu. Jika bukan karena kakak, aku pasti sudah mati"
Arga mendongak kemudian membawa Leyna pada pangkuannya. "Aku sangat menyayangimu, meskipun waktu itu aku kehilanganmu, aku masih memiliki harapan untuk menemukanmu. Namun, jika kamu terbunuh maka aku akan kehilangan segalanya. Hanya kamu yang kumiliki. Jika aku tidak berhasil menyelamatkan kamu, aku pasti akan menyesal seumur hidup." Arga berhenti sejenak.
"Kamu lihat aku, aku yang sekarang adalah demi adikku! Jika adikku tidak selamat, aku pasti tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin aku akan menjadi gelandangan kemudian mati kelaparan"
Mereka kembali berpelukan melepas beban yang mereka pikul. Namun itu tidak berlangsung lama.
"Sepertinya kalian sedang saling melepas rindu." ucapnya lalu menyeringai.
Arga membawa Leyna dibelakang punggungnya. Tangannya masih memegang tangan Leyna dibelakang punggungnya.
"Tapi itu tidak akan lama lagi. Aku harus membawanya pergi ke akhirat!" lanjut sosok itu diiringi dengan tertawa keras.
"Aku tidak akan membiarkan kau membawanya pergi!"
Sosok itu terkekeh kemudian ia berkata dengan tajam "Memangnya kau siapa! Kau hanyalah seorang manusia biasa dengan perjanjian darah ditubuhmu. Kau jauh lebih lemah dari gadis dibelakangmu itu!" gertaknya.
"Apakah salah? Aku mungkin manusia biasa dan aku tidak takut dengan lucifer yang berhianat! Kau sama saja dengan seonggok sampah!" balas Arga tak kalah tajam.
"Kau!" sosok itu menggeram marah.
Arga menyeringai kemudian berkata dengan merendahkan "Kau marah? Bukankah kau duluan yang merendahkanku! Aku harap ingatanmu masih tajam."
"Berani sekali bocah sepertimu menghinaku!"
"Ah... Aku lupa jika usiamu sudah tua. Aku maklumkan saja mengingat usia bisa membuat seseorang mudah melupakan sesuatu" Arga kembali memanas-manasi sosok itu.
"Aku ini masih muda! Aku masih memiliki potensi untuk bisa melampaui dirimu lebih jauh! Dan sekarang aku tidak takut jika aku akan cepat tua."
"Melihat umurmu yang sangat jauh itu, bahkan kau ada diperiode zaman Kaisar sebelumnya. Ckck... Seharusnya kau sudah mati ketika usiamu lima puluh ribu tahun! Bukankah rata-rata usia immortal sampai segitu jika ia memiliki umur yang sangat panjang?! Atau kau melakukan ritual terlarang agar kau tetap terlihat awet muda?! Menyedihkan sekali! Semua keluargamu pasti sudah mati dan hanya kau yang masih hidup seorang diri. Jika aku menjadi kau, aku akan lebih memilih mati dan berkumpul dengan keluargaku!"
"DIAM! APA YANG KAU TAHU! KAU HANYALAH BOCAH MANUSIA TAK BERGUNA! TAHU APA KAU!" pria itu berteriak tidak terima mendengar perkataan Arga yang sangat merendahkan harga dirinya.
Arga memandang dingin "Richard Alcander Lucifer... Aku berterimakasih padamu karena kau membebaskan aku dari marga lucifer. Berkatmu, aku yang sekarang terlahir menjadi manusia biasa!"
Sosok itu membeku dengan perasaan tak menentu tak kala mendengar perkataan Arga.
Dengan tersenyum sinis, Arga mengulurkan tangannya, kekuatannya keluar dari tangannya. Membentuk sesuatu yang terbuat dari angin yang sangat panas dan dingin. Tapi sebelum itu, Arga sudah membuat perlindungan untuk Leyna sekaligus rumah itu.
"Apa kau masih ingat dengan itu?!" kata Arga dingin.
Mata tajam Richard terbelalak, terlihat sebuah sosok seperti tubuh manusia yang terbuat dari kekuatan angin sebagai lapisan luar dan dipadukan dengan kekuatan tumbuhan sebagai inti dalamnya yang terasa sangat panas dan dingin secara bersamaan.
"Sebelum kau berhasil membunuhku, aku berdoa pada Yang Maha Kuasa, jika aku diberikan kesempatan untuk hidup lagi, aku ingin terlahir sebagai manusia biasa! Tuhan mendengar doaku sehingga aku terlahir kembali dalam bentuk yang kuinginkan! Tapi sepertinya Tuhan memiliki rencana lain, mungkin aku terlahir menjadi manusia biasa, namun seiring waktu, aku berubah menjadi diriku yang dulu dengan darah yang berbeda ditubuhku, darah klan Fairy! Musuh bebuyutan klan Lucifer! Agar aku bisa ikut membasmi kejahatan di immortal yang akan menghancurkan seluruh dunia!"
"Derick Alcander Lucifer! Ternyata kau terlahir kembali" desis Richard.
"Benar! Kakakmu terlahir kembali! Aku terlahir kembali untuk membalas kematianku dan kematian Ayah serta Ibuku! Binatang saja tidak akan tega menyakiti keluarganya sendiri, tapi kau tega membunuh keluargamu dengan keji!" Teriak Arga murka. Ingin sekali ia membunuh pria keji itu. Namun ia harus menahannya, mengingat dibelakangnya ada adik kecilnya yang harus ia lindungi.
"Kali ini dalam kehidupan keduaku, aku mendapat adik yang jauh lebih baik dari adikku dikehidupan yang lalu! Bahkan aku tidak sudi untuk menganggapnya sebagai adikku!" Lanjut Arga sambil menatap sinis kearah Richard.
...T. B. C...