Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Lebih Manis Dari Pancakes



Malam ini Leyna sudah siap dengan gaun yang memperlihatkan punggung mulusnya. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Leyna diam-diam keluar dari kamarnya menuju balkon.


Wusshh...


Sayap putih bercampur emas membentang dengan indah dipunggungnya. Leyna mengepakkan sayapnya pelan kemudian terbang membelah langit malam.


Tujuan Leyna yakni pergi ke mansion milik Kenzie ditengah hutan terlarang yang selama ini sering ia kunjungi untuk berlatih disana.


Pikirannya terus melayang memikir seseorang yang menatapnya dengan sendu. Dalam hati ia menyalahkan dirinya karena ketidaktahuannya. Mengapa tidak ada yang memberitahu dirinya jika dia sangat menderita!. Batin Leyna berkecamuk.


Tak lama Leyna sudah menapak dihalaman mansion. Langkah kakinya begitu tergesa memasuki dan menjelajah mansion.


Ceklek


Pintu salah satu kamar dibuka oleh Leyna. Leyna memasuki kamar itu dengan pelan.


Ketika sudah masuk, dirinya bisa melihat sosok pria yang tidak memakai baju atasan tengah berdiri menatap rembulan dari jendela. Leyna juga bisa melihat beberapa memar dikulit pria itu.


Seiring langkahnya yang semakin dekat dengan pria itu, langkah Leyna semakin bergetar dan rasanya dia ingin menangis.


"Kamu sudah sampai?" pertanyaan bod*h keluar dari bibir merah pria itu ketika dia tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Jelas sekali jika dia hanya sekedar basa-basi saja.


"Maaf, aku sudah membuatmu datang ke tempat ini malam-malam" sesal pria itu sambil membalik badan dan berhadapan dengan Leyna.


Air mata Leyna menetes ketika ia melihat guratan otot yang terlihat jelas di wajah pria itu. Jelas sekali jika pria didepannya ini tengah menahan rasa sakit ditubuhnya.


"Bolehkah aku memelukmu?" pinta pria itu dengan menatap sendu kearah Leyna.


Isak tangis seketika keluar dari bibir merah muda milik Leyna. Dia tidak menyangka bahwa pria nya yang merupakan mate nya sedang meminta izin untuk memeluk dirinya. 


Dulu sebelum Leyna kembali kedunia manusia, Leyna bisa melihat keangkuhan dan arogansi pria itu.


Ingatannya kembali menjelajah pada masa lalu. Ketika itu dia sedang dalam perjalanan ingin masuk kerumah bersama sang kakak. Tiba-tiba ada seseorang yang membawanya pergi dari tangan sang kakak dalam sekejap mata. Ketika Leyna melihat siapa yang berani membawanya pergi tanpa izin dari kakaknya, mata bulatnya terbelalak tak percara.


Pria yang pernah ia tinggalkan dalam keadaan terbaring lemah diatas ranjang sekarang berdiri didepannya dengan menatapnya penuh kerinduan. Siapa lagi jika bukan Sean.


Sean juga menjelaskan rencananya untuk menangkap Richard menggunakan tiruan persis seperti Leyna. Sementara Leyna asli disembunyikan dikamar kaisar yang berada di kerajaan immortal.


Setelah masalah Richard sudah selesai Sean mengajak Leyna menikah. Tapi dengan egois Leyna menolak untuk menikah dengan Sean dalam waktu dekat. Jika saja Leyna tahu akibat dari penolakannya akan berbalik menyerang dan menyakiti matenya, maka Leyna akan tetap setuju menikah dalam waktu cepat.


Tubuh mungil Leyna menubruk tubuh pria itu, Leyna memeluknya dengan erat. "Maafkan aku... Maafkan aku kak Sean" gumamnya menyesal dan merasa bersalah.


Sean membalas pelukan Leyna tak kalah erat. Entah mengapa pelukan itu membuat tubuhnya terasa rileks.


"Apa kamu tahu sayang? Aku bersikap arogan karena untuk menutupi rasa sakit yang kualami. Semua itu demi kamu agar kamu masih bisa menikmati waktu sendirian tanpa ada batasan yang mengekangmu" gumam Sean diceruk leher Leyna.


Tangis Leyna pecah seketika. Ke-egoisannya ternyata membawa petaka untuk Sean! Dan ternyata pria itu selalu memikirkan kebahagiannya. Sungguh beruntung dirinya memiliki pria yang sangat mencintanya.


Sean melepas pelukannya saat tangisan Leyna sudah tak terdengar lagi. Tangannya menghapus pelan sisa air mata yang mengalir dipipi Leyna.


"Kumohon. Hanya sekali ini saja aku mendengar dan melihatmu menangis tersedu seperti ini. Hatiku terasa remuk ketika aku melihat kesedihanmu itu sayang" lirih Sean kemudian mengecup kedua mata sembab milik Leyna dengan lembut.


"Aku mungkin bisa menahan rasa sakit yang kualami, tetapi aku tidak bisa menahan sakit dihatiku ketika kamu sedang bersedih" tutur Sean lagi.


"Maafkan aku yang sudah bersikap arogan terhadapmu sayang" pinta Sean menyesal.


Leyna menggeleng pelan "Kakak tidak bersalah. Kakak melakukan itu semua agar kakak tidak membuatku khawatir. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah bersikap egois" kata Leyna pelan.


"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Itu hak mu untuk tidak segera menikah. Jangan menyalahkan diri sendiri"


"Kak Sean juga jangan menyalahkan diri sendiri" balas Leyna.


Bibir Sean mengembang kemudian ia mengangguk pelan. "Apa sekarang kita sudah berdamai?" tanya Sean hati-hati.


Leyna mengangguk pelan llu tersenyum manis "Kita berdamai"


Dengan perasaan bahagia, Sean membawa Leyna kepelukannya.


Tidak sia-sia aku memperlihatkan kelemahanku untuk membuatnya kembali kepelukanku. Batin Sean lega.


...»---♡---«...


Keesokan paginya dikediaman Frederick. Saat ini Arga dan kedua perempuan yang paling dia sayangi sedang sarapan bersama.


"Papa, dimana bunda" tanya Alea dengan suara yang menggemaskan ketika mata beningnya tak melihat keberadaan sang bunda.


Liora juga menatap Arga penasaran. Siapa tahu jika suaminya mengetahui keberadaan adik iparnya yang tidak ia temukan dikamarnya tadi saat memanggil adik iparnya.


Sejenak Arga memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan putrinya. "Bunda sedang ada urusan penting sayang. Dia akan segera pulang nanti"


"Memangnya urusan apa papa?" tanya Alea lagi.


Arga tersenyum hangat, rasa keingintahuan putrinya sangat tinggi. "Emm... Urusan apa ya" ucap Arga pura-pura berpikir.


"Mungkin urusan tentang pernikahannya" lanjut Arga dengan serius.


"Bunda mau menikah?" tanya Alea.


Arga mengangguk pasti "Ya! Bunda akan menikah tak lama lagi"


Liora tersenyum hangat mendengar perkataan suaminya. Liora benar-benar mebunggu kabar baik dari sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Sekarang kita sarapan dulu" potong Liora saat putrinya ingin bertanya lagi.


...»---♡---«...


Di hutan terlarang


Matahari sudah menampakkan wujudnya dari tadi, tetapi kedua insan itu tetap terlelap dalam tidur sambil berpelukan.


Sinar mentari tertutupi dengan sempurna oleh horden yang menjuntai ke bawah berwarna hitam yang sangat tebal sehingga sinar mentari tidak bisa menerobos masuk.


Mata lentik itu mulai terbuka. Terlihat dihadapannya wajah tampan milik kekasihnya yang masih terpejam. Terlihat sangat tampan menurutnya.


Bibir pink nya tersenyum lembut. "Tampan" bisiknya sambil menyentuh hidung kekasihnya.


Seketika mata yang tadi terpejam menampakkan manik berwarna merah darah dan emas. Bibir merahnya tersenyum hangat. "Selamat pagi sayang. Sudah puas menikmati wajah tampan kami" sapanya dengan dua suara serak khas bangun tidur dan sekaligus menggoda gadisnya.


Pipi Leyna memerah karena malu sebab ia sudah tertangkap basah menikmati wajah tampan milik kekasihnya itu.


Sean terkekeh melihat kekasihnya yang malu terhadapnya dengan wajah merona. Sontak Sean memberikan ciuman hangat dikening gadisnya.


"Sekarang sudah siang. Kamu mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan kita dibawah" kata Sean dan Leyna menurut dengan patuh.


Senyum Sean kembali mengembang ketika gadisnya menurut dengan patuh. Gemas sekali dimatanya.


Sean berdiri dari ranjang kemudian membersihkan tempat tidur yang tadi mereka tempati. Sean melangkah ke walk-in closet mengambilkan pakaian ganti untuk kekasihnya dan dirinya.


Usai mendapat pakaian yang dirasa pas, Sean membawa baju ganti Leyna dan menatanya diatas ranjang. Kemudian Sean melangkah keluar kamar dan turun langsung ke dapur. Dia akan mandi di kamar mandi dapur lalu memasak.


Setengah jam kemudian Leyna keluar dari kamar menggunakan pakaian yang disiapkan Sean. Saat sampai diruang makan, ia melihat dua porsi makanan di atas meja.


"Sudah selesai sayang? Ayo sarapan dulu" kata Sean dari dapur sambil membawa dua gelas susu putih hangat di kedua tangannya.


Leyna terseyum manis. Kamudia duduk dikursi yang sudah ditarik oleh Sean ke belakang, mempersilahkan dirinya untuk duduk terlebih dahulu. Romantis sekali.


"Aku hanya bisa membuat pancakes saja karena sekarang sudah sangat siang dan sebentar lagi juga akan memasuki waktu makan siang" ucap Sean memberikan seporsi pancakes dengan selai coklat dan madu yang meleleh kepada Leyna. Sedangkan punya Sean sendiri hanya memakai madu saja sebagai toping nya.


"Tidak apa-apa, aku menyukai makanan buatan kamu kok. Kamu masih ingat selai favorit ku ternyata. Selamat makan kak Sean" ucap Leyna yang mulai menyantap pancakes ala Sean.


"Tentu saja aku masih ingat sayang. Selamat makan juga" jawab Sean juga mulai menyantap pancakes buatannya.


"Sangat enak" puji Leyna setelah pancakes miliknya sudah habis.


"Kamu mau?" tawar Sean saat Leyna melihat pancakes miliknya yang tersisa setengah karena ia makan sambil menikmati wajah kekasihnya yang makan makanan buatannya dengan lahap.


"Tapi kak Sean pasti masih lapar" Leyna takut jika Sean masih merasa lapar.


"Tapi sepertinya ada yang lebih lapar disini dari pada aku" canda Sean sambil tersenyum jahil.


"Kak Sean tau aja" jawab Leyna sembari memukul pelan lengan kekar milik Sean.


"Makanlah. Aku tidak masalah jika tidak makan." ucap Sean sembari memberikan piring miliknya.


"Benarkah?" tanya Leyna dan mulai menghabiskan pancakes milik Sean.


Sean meminum habis susunya sambil memandang wajah cantik kekasihnya.  Tangannya terulur menyentuh dagu Leyna sehingga membuat Leyna berhenti makan.


Cup


Sean menc¡um pinggiran bibir Leyna yang terdapat madu, Sean juga sedikit menj!latnya sehingga madu yang belepotan tersapu habis.


"Manis. Bahkan lebih manis dari pancakes buatanku" ujar Sean setelah duduk kembali.


...»---♡---«...


...Tbc...