Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
P.D.2#02



Crassshh.... Bummmm


Suara sayatan di ikuti dengan debuman mengakibatkan debu berterbangan.


"Sssst... Anda luar biasa tuan!? Saya tidak menyangka diusia anda yang masih 10 tahun sudah bisa mengendalikan kekuatan anda"


"Kau tidak apa-apa?" Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


Pria itu pun menerima uluran tangan itu dan berdiri.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir"


"Aku akan mengobati mu"


"Aku baik-baik saja, Sean. Kau tidak perlu khawatir"


Pria yang dipanggil Sean itu tetep kekeuh ingin mengobati bawahannya sekaligus sahabatnya.


"Aku tahu! Lukamu yang sebelumnya masih belum sembuh! Kau kira aku tidak mengetahuinya begitu!" Katanya sambil menatap tajam ke arah bawahannya.


Pria itu meringis karena ia tahu, bahwa tuannya itu pasti akan langsung mengetahuinya meskipun ia tidak memberitahu pada tuannya.


Setelah pria bernama Sean itu selesai mengobati pria yang menjadi lawan bertarung nya. Sean pun pergi masuk kedalam kediaman keluarga Alcander.


"Usiamu sudah 24 tahun. Sebentar lagi kebangkitan mu akan terjadi dan sekarang kau semakin kuat. Kamu harus menyembunyikan identitas mu sebelum kamu berusia 25 tahun" ujar seorang pria yang tengah duduk santai diruang tamu.


"Paman Richard tenang saja. Aku tidak akan menunjukkan siapa diriku" balas Sean kemudian ikut duduk di sofa depan pria bernama Richard.


Richard memandang Sean dengan intens.


"Apa kamu merindukan keluarga mu?!" Tanyanya tiba-tiba.


Tubuh Sean menegang.


"Aku bisa melihat dari raut wajahmu! Setiap kali kamu merindukan mereka, kamu pasti akan menyerang Arthur maupun Gerald dengan ganas dan menciptakan luka ditubuh mereka!"


"Semakin lama, aku tidak bisa lagi menahan aura ku agar tidak diketahui musuh. Tapi, aku masih tetap berusaha agar aura ku tidak lepas kendali."


"Aku mungkin merindukan mereka! Tapi, aku tidak ingin mom dan kedua adik perempuan ku kenapa-kenapa. Jika identitas ku sudah diketahui sebelum usia ku 25 tahun, maka mereka akan dalam bahaya besar. Nyawa mereka akan terancam"


Richard terus menatap Sean yang sedang menunduk. Sudah 25 tahun dia terpisah dari kedua orangtuanya dan kedua adiknya itu.


Dan selama 25 tahun itu, Kenzie tidak pernah mengunjunginya karena Richard melarang penuh agar mereka yang mengetahui keberadaan sang putra mahkota tidak menemuinya karena akan sangat bahaya jika ada salah satu musuh yang mengetahui keberadaan putra mahkota.


"Bersabarlah sebentar lagi. Ketika usiamu sudah 25 tahun, aku sendiri yang akan mengantar mu ke mereka! Aku juga tidak pernah mengunjungi mereka setelah terakhir membawa mu pergi bersamaku"


"Apa kau sudah menemukan mate mu?!" Tanya Richard mengalihkan pembicaraan.


Sean menggeleng lemas "Aku masih belum menemukan nya"


"Mungkin mate mu akan segera kau temukan setelah kekacauan ini berakhir!?" Ujar Richard penuh misteri.


Sean langsung menatap Richard "Apa maksud paman?!"


"Sebenarnya ada beberapa dari mereka yang tidak percaya jika putra sang Lord sudah tiada!"


"Mereka masih mencari mu!" Katanya.


Mereka saling bertatapan beberapa detik sampai terdengar suara teriakan yang terdengar mengerikan.


Richard berdiri lalu teriak memanggil kepala pelayan dirumah itu "Sudah saya katakan dari awal! Jika saya berada dirumah ini, jangan ada yang berani masuk kedalam kecuali yang sudah saya izin kan untuk masuk kedalam! Kenapa masih ada yang berani melanggar aturan pertama dari rumah ini!" Bentaknya.


"Apa ada pelayan baru?" Tanya Sean tiba-tiba sebelum kepala pelayan itu menjawab perkataan Richard.


Beraninya dia menyela ku! Dan sekarang bocah ini sedang apa?!. Batin Richard sebal.


"Apa ada pelayan baru?" Karena pertanyaan nya tidak di jawab Sean bertanya kembali dengan mata yang masih menutup.


"Benar tuan, ada dua pelayan baru. Satu pelayan yang tadi dan yang satunya masih berusia 15 tahun. Maafkan saya tuan besar. Saya sungguh tidak tahu jika ada yang berani masuk kedalam tanpa izin. Saya tadi bersama dengan tuan Arthur setelah tuan muda masuk kedalam"


"Kau sudah mengobati luka ringannya" tanya Sean.


"Sudah tuan muda. Sebelum tuan besar memanggil saya tadi" jawab sikepala pelayan dengan kepala yang masih menunduk.


"Hmm... Bawa gadis itu kemari!?" Perintah Sean. Richard mengangkat sebelah alisnya heran.


"Baik tuan muda" setelah izin pamit kepala pelayan itu pun pergi memanggil gadis itu dikediaman para pelayan.


Tak lama setelah itu Sean dan Richard mendengar suara lembut dari seorang gadis yang masih belia itu. "Apa tuan yakin? Saya akan kembali saja ke kamar saya"


"Tuan muda memanggil anda nona! Dan nona harus segera menemui tuan muda" ujar kepala pelayan setelah itu pergi meninggalkan gadis itu yang masih mematung di pintu.


Richard terus memandangi wajah Sean yang masih belum membuka matanya.


"Hahhh... Harum sekali!?" Gumamnya yang masih didengar Richard.


Sedangkan gadis itu sudah gemetar ketakutan. Ia tadi sempat ingin menyusul teman yang membawa nya kerumah ini untuk bekerja. Tapi, saat dia ingin menghampiri temannya itu. Temannya malah teriak mengerikan dan dengan mata kepala nya sendiri, gadis itu melihat temannya itu menjadi abu lalu menghilang.


Sean yang merasa jika gadis itu sedang ketakutan lantas membuka matanya yang berubah-ubah warna menjadi Merah, hijau zamrud, biru laut dan emas.


Richard yang melihatnya membelalakkan matanya sangat terkejut. Auranya begitu kuat dan sangat dahsyat!. Batinnya


Oh tidak! Tanpa sadar dia membuka aura nya. Batin Richard mulai cemas.


Ditepuknya pundak Sean dan akhirnya Sean pun tersadar dan matanya berubah kembali menjadi hitam.


Sean mengedipkan matanya langsung sadar. Ia berdiri lalu pergi meninggalkan Richard diruang tamu. Sean naik ke arah kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu.


Bertepatan dengan pintu kamar Sean yang tertutup, gadis itu sampai diruang tamu yang hanya ada Richard seorang.


"Emmm.... Per-permisi tuan..... Apa t-tuan yang memanggil ssaya?" Tanya gadis itu sambil menundukkan kepalanya dan tubuhnya bergetar hebat.


Richard memperhatikan gadis belia itu dengan sangat tajam. Sikapnya berubah seketika setelah kedatangan gadis ini. Batinnya.


Ada hubungan apa Sean dengan gadis belia ini. Lanjutnya.


Richard menyadari jika gadis itu sedang sangat ketakutan.


Kata para pelayan dirumah ini, tuan besar tidak suka jika ada pelayan saat beliau berada di kediamannya. Itu sebabnya, waktu kerja kita sudah diatur agar tuan besar tidak bertemu dengan para pelayan. Dan hanya kepala pelayan saja yang keluar masuk dengan bebas dikediamannya.


Richard duduk di sofa lalu ia menyuruh gadis itu untuk duduk. "Duduk" suruhnya dengan tegas.


Dengan cepat gadis itu langsung duduk dilantai dan masih dengan wajah yang menunduk takut. Sampai ketika suara Richard terdengar lagi "Siapa yang menyuruh mu untuk duduk dibawah situ"  dan tanpa sengaja membuat gadis itu menatap Richard. Tapi dengan segera dia langsung menunduk lagi.


Untuk kedua kalinya Richard merasa terkejut.


Meski hanya beberapa detik. Richard bisa melihat warna mata gadis itu. Warna Hijau zamrud bercampur dengan emas?!


"Duduklah diatas" kali ini suaranya melembut tapi tatapan matanya masih tidak berubah.


Dengan perasaan takut dan penuh keraguan gadis itu pun duduk di sofa berhadapan dengan Richard.


TBC