Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Interogasi



"Tutup pintunya!" perintah Sean yang langsung dilaksanakan oleh Damian, karena dia yang paling terakhir masuk.


Sean mengayunkan tangannya, dalam sekejap ruangan itu berubah menjadi kedap suara.


Damian merasa dirinya akan diinterogasi oleh wali kelas nya. Tapi mengapa kedua gadis itu ada disana juga? Apa mereka bukan manusia juga?! Batinnya bertanya-tanya. Entahlah Damian tidak tahu, yang jelas dia akan bersikap sewajarnya nanti.


Zeline duduk disofa tanpa disuruh. "Kakak aku ingin makan camilan" katanya sambil menoleh kearah Sean.


Sean berdecak, tapi ia tetap memberikan Zeline beberapa makanan ringan yang entah ia dapat dari mana. Yang jelas ia lakukan dengan sihir.


Mata Leyna berbinar melihat berbagai makanan ringan dimeja. Segera ia ingin ikut duduk disamping Zeline. Sebelum Leyna duduk disofa itu, tiba-tiba tubuhnya berada dipangkuan Sean membuat ia melotot karena terkejut.


"Aku tidak mengizinkan kamu memakan makanan yang tidak swhat itu!" larang Sean membuat Leyna cemberut.


Sean mengalihkan pandangannya kearah Damian yang hanya diam saja menyaksikan kejadian didepannya. Sebelum bicara Sean berdehem "Jika manusia biasa pasti tidak akan tahu siapa kau dan kedua temanmu yang lainnya itu jika kalian bukan manusia. Kecuali jika kalian memperlihatkan kemampuan kalian yang tidak masuk akal, mereka pasti akan percaya jika kalian bukan manusia" 


"Yang anda katakan memang benar pak! Tapi bagaimana anda tahu jika saya dan kedua teman saya bukan manusia?" tanya Damian hati-hati.


"Kalian memiliki aura yang berbeda dari manusia biasa!"


Ingin sekali Damian bertanya apa wali kelasnya manusia atau bukan. Tapi, dengan apa yang ia lihat sepertinya wali kelas yang berada didepannya sekarang memang bukan manusia. Apa wali kelasnya makhluk yang sama dengan dia dan kedua temannya?!. Batin Damian.


"Kau sudah melihat dengan jelas apa yang saya lakukan tadi. Saya yakin kau bukan anak yang bodoh!" seru Sean yang mendengar isi pikiran bocah didepannya.


Sambil terus mengelus lembut rambut kekasihnya yang mungkin sekarang sudah tertidur ia berkata dengan pelan "Saya akan mengawasi kalian dari berbagai arah! Jika kalian membuat masalah, saya tidak akan segan untuk menghukum kalian! Bila perlu sampai melenyapkan kalian!" Ancam Sean memberikan peringatan.


Damian menelan ludah kasar mendengar penuturan wali kelasnya yang terkesan penuh ancaman. Seketika ia ingat dengan kedua temannya yang tertarik dengan gadis yang berada dipangkuan wali kelasnya dan gadis yang satunya berada dikelas, Eshal!. Damian mengerti maksud ancaman itu.


"Jika kau mengerti, beritahu kedua temanmu agar tidak membuat masalah yang berhubungan dengan kedua gadis itu!"


Damian mengangguk patuh, ia juga merasa takut dengan aura yang dikeluarkan wali kelasnya.


Ruangan kembali seperti semula setelah Sean membaringkan Leyna disofa panjang yang tadi diduduki Zeline. Bungkus makanan sudah menghilang entah kemana dan sisa makanan yang masih ada dibawa Zeline untuk diberikan pada adiknya yang sedari tadi menggerutu dipikirannya karena tidak diajak.


Zeline keluar dengan setumpuk buku ditangannya dan tak lupa paperbag yang berisi makanan tadi. Zeline tidak peduli dengan laki-laki yang diinterogasi oleh kakaknya.


Damian keluar setelah Sean selesai memberikan berbagai ancaman, terutama ancaman yang berkaitan dengan gadisnya, Leyna. Tak lupa Damuan juga membawa setumpuk buku yang dua kali lipat tumpukannya dari yang dibawa Zeline.


...»---♡---«...


Sekolah memulangkan para siswa lebih awal karena akan ada rapat dewan guru, dan lagi mereka masih belum memulai pelajaran.


Sean tidak bisa ikut rapat lebih awal karena harus menjaga Leyna yang masih terlelap.


Setengah jam kemudian Leyna terbangun, setelah mendudukkan tubuhnya, ia melihat jam tangannya yang ternyata sudah pukul sebelas siang. Leyna menoleh kearah Sean yang baru keluar dari kamar mandi didalam ruangannya.


"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Sean basa-basi.


"Kenapa kakak tidak membangunkan aku!" protes Leyna.


Sean berjongkok didepan Leyna "Aku tidak tega membangunkan kamu, sayang. Lagi pula kelas tidak ada pelajaran dan dipulangkan lebih awal" jelasnya.


"Pasti kak Zeline dan kak Eshal menungguku"


Leyna menganga tidak percaya. Bagaimana ia pulang nanti?! Tunangannya benar-benar!


"Aku akan mengantar kamu pulang" ujar Sean sambil mengelus pipi Leyna.


"Tutup matamu sayang" perintah Sean.


Bukannya menuruti perkataan Sean, Leyna justru bertanya "Untuk apa tutup mata?!"


"Sudahlah! Tutup mata saja dulu. Nanti kamu akan tahu"


"Baiklah"


"Jangan buka mata kamu sebelum aku minta"


Setelah Leyna menutup mata, dengan sekejap Sean sudah membawa tubuh mereka dikamar gadis kecilnya.


"Sekarang kamu sudah boleh buka mata" kata Sean.


Dengan perlahan Leyna membuka mata. "Ini...!"


"Aku harus kembali kesekolah dulu. Sebentar lagi rapat akan dimulai" pamit Sean kemudian menghilang dari pandangan Leyna.


...»---♡---«...


"Tidak mungkin ada immortal yang berhasil keluar tanpa diketahui oleh kak Kenzie!"


"Yang dikatakan Kean benar! Mereka bertiga tidak pernah terdata didunia immortal!" timpal Rafael membenarkan ucapan Kean.


"Aku sudah menemukan informasi mereka bertiga. Didata tertulis jika mereka dibesarkan disalah satu panti asuhan. Yang pertama keluar panti adalah Aksa Delvin Arion siketua osis kelas dua belas A. Kemudian disusul Ardian Adhlino Gavin ketua kelas, kelas 11 C. Dan terakhir disusul Damian Franco kelas 10 B yang menjadi muridnya Sean. Damian bisa masuk dikelas B karena bantuan dari Arion dan Gavin yang sudah memiliki beberapa usaha yang mereka kelola bersama. Arion keturunan klan penyihir, Gavin keturunan klan Fairy, dan Damian keturunan klan Werewolf. Meskipun mereka berbeda tapi mereka tetap bersama layaknya keluarga. Dan mereka setengah manusia!" Jelas Rafael.


"Tunggu! Kenapa mereka berada dipanti asuhan?" tanya Kean merasa ada yang janggal.


"Aku masih menyelidiki hal itu. Untung saja salah satu diantara mereka salah satu klan-ku! Jadi aku bisa membaca masa lalunya mengapa ia berada didunia manusia. Hanya saja aku masih mencari waktu yang tepat."


"Masalahnya Sean sudah mengancam salah satu diantara mereka!" ujar Alvian yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Sean dan Damian setelah Zeline keluar dari ruangan Sean.


"Sean tidak sebodoh itu! Dia hanya berusaha untuk mengikat mereka, agar mereka tidak menjadi masalah" ucap Richard yang sedari tadi hanya diam dan mendengar saja.


"Maksudnya?" tanya Rafael, Kean, dan Alvian tidak mengerti.


"Sean tidak akan mengancam salah satu diantara mereka jika ia tidak memiliki kelemahan dan apa yang mereka cari selama ini. Dan yang pasti ia juga memberikan peringatan agar Leyna dan Eshal tidak diganggu oleh Arion dan Gavin yang sepertinya tertarik dengan kedua gadis itu" jelas Richard.


"Yang dikatakan paman Richard benar! Aku sudah menyelidiki sampai keakarnya. Masa lalu ketiga anak itu sudah aku ketahui. Sayangnya orang tua mereka sudah mati karena diamuk massa perihal salah satu orang tua mereka tidak sengaja menunjukkan jati diri mereka dan diketahui oleh orang lain. Demi keselamatan anak mereka, sengan terpaksa orangtua ketiga anak itu meninggalkan anak mereka dipanti asuhan yang sama, agar mereka bisa dekat seperti orangtua mereka meskipun berbeda. Dan dengan berada dipanti asuhan yang sama tidak akan membuat ketiga anak itu kesepian karena mereka berbeda" Sean menjelaskan apa yang ia lihat diingatan milik Arion, karena Arionlah yang lebih jelas memiliki ingatan itu, meskipun sekarang Arion sudah tidak mengingat lagi karena ingatannya sengaja dihapus oleh ibunya yang seorang immortal.


"Aku akan menyelidiki lebih lanjut asal usul orang tua mereka. Kenapa bisa berada didunia immortal" lanjut Sean.


...»---♡---«...


...T.B.C...