
"Paman akan membawanya kemana?!" Ujar Sean sambil menatap tajam ke arah Richard.
...»---♡---«...
Richard tersenyum tipis "duduklah" ujarnya.
Sean pun langsung duduk berdempetan disebelah Leyna.
Leyna langsung terkejut saat Sean duduk disampingnya. Sean yang merasa jika gadis disampingnya itu terkejut lantas mengatakan.
"Aku terbiasa duduk didepan paman Richard saat sedang mengobrol" katanya dengan santai dan berkedip polos ke arah Leyna.
Hahhh... Richard menghela napas. Sean benar-benar membuat Richard kehilangan kata-kata. Apa lagi saat melihat tangan Sean melingkar dipundak gadis itu saat gadis itu ingin berdiri yang membuat gadis itu diam tak berkutik.
Sean hanya menatap Leyna penuh kelembutan dan senyum manis dibibir nya.
Richard hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sean yang berubah seratus delapan puluh derajat terhadap gadis itu.
"Baiklah paman. Sekarang katakan! Paman mau membawanya kemana?!"
"Yang pasti kamu tidak akan menemukan gadis itu!" Geram Richard.
Sean yang mendengar perkataan Richard lantas mengangkat gadis itu yang membuat Leyna terpekik kaget. Sean membawa gadis itu ke pangkuannya.
"Paman tidak boleh membawa nya pergi jauh dariku!" Katanya sambil memeluk Leyna dengan posesif. Sedangkan Leyna hanya diam saja. Mau berontak juga tenaganya kalah besar dari Sean.
Hahhh.... Richard menghela napas lagi dan kali ini dia memutar bola matanya malas.
"Heh bocah! Gadis itu hanya akan fokus belajar! Jika dia ada dirumah ini, yang ada dia tidak akan fokus kependidikan nya! Kamu akan terus mengganggu nya nanti!"
"Aku tidak mengizinkan dia pergi dariku! Dan aku tidak akan mengganggunya paman. Percayalah" Keukeh Sean.
"Aku akan menjelaskan rencana ku nanti setelah makan malam. Sekarang turunkan gadis itu, dan biarkan dia pergi"
Bukannya melepaskan, Sean malah mempererat pelukannya.
"Turunkan dia atau aku benar-benar tidak akan membuatmu bisa melihatnya lagi!" Teriak Richard. Karena dia sudah kesal dengan tingkah Sean.
Sean pun langsung melepaskan Leyna, dan Leyna pun langsung pamit ke kamarnya.
...»---♡---«...
•Sean POV•
Aku berjalan mondar-mandir dikamar.
Setelah paman menjelaskan rencana nya aku langsung masuk ke kamar. Aku tidak ingin jauh dengan gadis kecil ku.
'gadis kecil kita Sean!' protes Alex.
'ya ya terserah' kataku
'ayo kita keluar dan bawa gadis itu kesini. Jangan biarkan bujang lapuk itu membawa mate kita!'
Aku terkekeh geli saat Alex mengatai paman Richard bujang lapuk.
'Wah wah... Kalau dia sampai dengar, kepala kita taruhannya' ujarku yang masih terkekeh geli
Memang benar sih. Aku saja yang masih berusia 24 tahun sudah menemukan mate. Sedangkan dia yang usianya sudah tak terhitung masih menjomblo. Betah sekali dia hahahaha
'ckckck kalau dia tahu kita membicarakan dia. Kepala kita pasti sudah terpisah dari tubuh kita' ujar Alex mengomentari.
Aku pun langsung bergegas untuk keluar menjemput gadis itu.
Ceklek... Ceklek....
"Sial! Richard..." Teriakku membahana. Aku yakin teriakan ku pasti terdengar ditelinga nya meski kamarku kedap suara.
"Berani sekali dia mengunciku dikamarku sendiri dari luar! Dan sekarang dia malah tertawa!" Gerutu ku.
Percuma saja aku dobrak pintu itu. Dia benar-benar mengurungku dikamarku sendiri! Bisa dilihat jika dia membuat barrir agar aku tidak bisa keluar.
Barrir itu sebenarnya bisa aku hancurkan. Tapi, jika aku memakai kekuatan ku ditempat yang tidak seharusnya maka keberadaan ku akan terungkap.
Aku bisa menggunakan kekuatan ku hanya jika ada di ruangan khusus. Ditempat itulah aku bisa melatih semua kekuatan yang aku miliki tanpa perlu khawatir akan ada yang mengetahui keberadaan ku.
Aku tidak mau ada masalah kedepannya. Terpaksa aku harus merelakan gadis itu untuk meneruskan pendidikannya diluar rumah ini.
•Sean POV off•
Waktu terus berjalan. Malam pun berganti pagi.
Saat kepergian Leyna dari rumah itu. Sean hanya menatap Leyna dari arah balkon. Ia tidak bisa turun karena Richard masih belum menghilangkan barrirnya.
Sean tidak tidur semalaman.
Leyna yang merasa diperhatikan lantas menoleh keatas. Ke arah Sean yang tengah berdiri dengan wajah dinginnya.
Entah mengapa gadis itu tidak ingin meninggalkan pria yang tengah memperhatikan dirinya. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Biasanya dia akan sangat marah jika ada lawan jenis yang menyentuh nya, tapi kenapa dengan pria itu Leyna tidak bisa marah.
Selama seharian penuh Sean dikurung di kamarnya oleh Richard. Dia hanya tidak ingin Sean mengacaukan rencananya.
Saat makan malam tiba. Sean merasa barrir itu sudah hilang dan setelah itu pintu terbuka menampakkan Richard yang berdiri diambang pintu dengan alis mata yang naik turun disertai smirk yang membuat Sean ingin menghancurkan wajah orang itu.
"Apa?!" Ketusnya.
"Waktunya makan malam" jawab Richard masih dengan seringai menyebalkan.
Sean mendengus "Aku tidak akan mati jika tidak makan seharian" ujarnya yang masih ketus.
"Baiklah" kata Richard mengangkat bahu tidak peduli.
"Sebaiknya kamu jangan keras kepala, Sean!"
"Yang ku lakukan demi kebaikannya! Kamu tidak mungkin egois dengan membiarkan nya dalam bahaya bukan?!"
"Dia pergi juga untuk melanjutkan pendidikan nya dan dia juga sangat senang sekali bisa melanjutkan pendidikan nya. Jadi kamu tenang saja. Dia akan baik-baik saja" lanjut Richard.
"Ya! Paman benar. Aku tidak ingin gadis itu dalam bahaya."
Richard menepuk bahu Sean "Kamu masih bisa mengawasinya setelah kebangkitan mu, Sean!"
"Ayo makan malam dulu" ajak Richard.
Lalu mereka pun pergi ke ruang makan dan makan dengan tenang.
...»---♡---«...
°Kerajaan Penyihir°
"Aku merasakan keberadaan nya walau hanya sebentar"
"Dugaan kita benar! Pangeran mahkota masih hidup!"
"Apa kau bisa melacaknya?!"
"Dia ada didunia manusia!"
"Mereka sengaja menyembunyikan keberadaan putra mahkota di dunia manusia!"
"Setelah pernikahan lord, seluruh kaum immortal yang berada didunia manusia diperintahkan untuk kembali dan siapapun yang berani melanggar perintahnya maka dia akan mati. Ternyata perintah itu agar Lord bisa melindungi putra mahkota yang saat ini berada didunia manusia"
"Setelah apa yang telah Lord lakukan. Lord sudah membunuh pangeran Arthur setelah kelahiran putra mahkota! Dan sekarang dia membodohi kita semua!"
"Kita harus segera masuk ke dunia manusia dan menemukan putra mahkota sebelum kekuatan nya terbangkit kan. Jika tidak, dia akan menjadi pemimpin yang sangat mengerikan"
°Ditempat Kenzie°
Saat itu, Kenzie yang sedang bersama keluarga kecilnya di ruang keluarga. Mereka berbincang dan sesekali bercanda.
"Aku merasakan kekuatan yang sangat besar" ujar Eshal. Putri bungsu Kenzie.
Yang lainnya juga sama merasakan kekuatan dahsyat itu.
Kenzie tahu siapa pemilik kekuatan dahsyat barusan. 'Sean!'
'apa dia sedang dalam bahaya?! Sehingga kekuatan nya terlepas meski hanya sebentar?!' batinnya
"Dad!" Ujar seorang gadis bernama Zeline, putri sulungnya.
"Ah ada apa?" Tanya Kenzie.
"Apa Daddy merasakan nya?" Tanya Zeline.
Naira memandang suaminya penuh tanya. Karena sedari tadi Naira terus memperhatikan wajah suaminya.
"Ada apa, sayang? Apa ada masalah?!" Tanya Naira.
Kenzie tidak menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.
"Aku lupa jika ada pertemuan hari ini" katanya sambil melihat ke arah Naira.
Naira tersenyum "Aku kira ada masalah apa"
"Sepertinya suamiku ini sudah mulai pelupa ya" lanjut Naira sambil menyenggol lengan Kenzie dan menggoda Kenzie.
Kenzie terkekeh "Jika aku berkumpul dengan ke tiga bidadari ku yang cantik ini, Aku akan melupakan segalanya" katanya membuat ketiga perempuan itu tertawa geli.
"Baiklah. Kalau begitu Daddy pergi dulu. Dan ingat apa yang Daddy katakan..."
"Jangan keluar sebelum Daddy kembali" ujar Zeline dan Eshal bersamaan kemudian tertawa.
"Good girl" ujar Kenzie lalu mengusap kepala kedua putrinya dengan sayang. Kenzie tidak ingin kejadian lampau terulang lagi. Jadi saat Kenzie tidak berada dikediamannya Kenzie melarang keras ke tiga perempuan nya itu untuk tidak keluar meski itu sangat penting sekalipun. Dan perintah harus dilaksanakan tanpa ada bantahan!.
Kenzie mengecup kening Naira "Tutup mata kalian!" Ujarnya yang langsung di laksanakan oleh kedua anaknya.
Dengan cepat Kenzie mencium tempat favoritnya.
Setelah selesai Kenzie mengatakan untuk membuka mata kedua anaknya. Lalu Kenzie pun pergi ke pertemuan dadakan itu.
Pertemuan yang tidak pernah ia buat sejak awal. Kenzie berbohong agar istri dan kedua anaknya tidak khawatir.
Saat Kenzie sampai dipintu tiba-tiba Vano datang dengan wajah tak terbaca. Mereka berdua saling bertatapan, berbicara melalui mindlink dan diakhiri dengan Kenzie yang menganggukkan kepala.
Vano menoleh kedalam ruangan lalu tersenyum manis. Berjalan memasuki ruangan dengan wajah tersenyum nya. Vano berjalan menghampiri Zeline.
Zeline yang terus ditatap oleh Vano menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona.
Diangkatnya dagu milik Zeline saat Vano sudah berada didepan Zeline. Mereka berdua saling bertatapan.
"Sayang sebentar lagi" katanya penuh misteri pada Zeline.
Dibawanya Zeline kepelukan Vano. "Aku sangat merindukan mu, Eve ku!" Gumamnya yang masih bisa didengar yang lainnya.
"Daddy menunggumu, kak"
"Sebentar saja" lirih Vano yang semakin mempererat pelukannya.
Kenzie menatap Vano datar. Ia tahu jika Vano masih sangat merindukan mate nya itu. Terbukti meskipun Vano sering mengunjungi putri sulungnya itu, mulai dari menjaga dan merawatnya sejak dia masih bayi. tapi kerinduan Vano selama ratusan tahun belum juga terobati.
Vano masih terus memeluk Zeline. Eshal yang melihat keduanya memutar bola matanya malas.
"Sampai kapan kak Vano akan terus memeluk kakakku"
Vano terkekeh sambil melepaskan pelukannya.
"Hmm... Sepertinya adik ipar tidak rela jika kakaknya diambil sama kak Vano" kata Vano bercanda.
Eshal yang kesal lantas mendorong punggung Vano untuk keluar agar Daddy nya tidak menunggu terlalu lama.
"Seharusnya kak Vano malu!" Ujar Eshal yang masih mendorong punggung Vano.
"Kenapa harus malu?" Tanya Vano tidak mengerti. Vano membiarkan tubuhnya didorong oleh calon adik iparnya itu.
"Ya malu! Kak Vano sudah membuat seorang Lord menunggu! Dan kak Vano juga sudah berani memeluk kakakku didepan kami dan dikediaman kami!" Kata Eshal menatap tajam Vano.
"Kau ingin aku memenggal kepalamu? Berani sekali kau memeluk putriku didepan mataku sendiri!" Protes Kenzie yang juga menatap tajam Vano.
"Zeline, lihatlah Daddy mu ingin memenggal kepalaku" rengek Vano. Zeline hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan mate nya itu.
"Sudahlah" ketus Kenzie lalu menarik baju Vano agar Vano mengikutinya.
"Sayang tolong aku.... Ayah mertua ingin memenggal kepalaku" teriak Vano kemudian tubuh mereka sudah tak terlihat.
Mereka yang berada dikediaman Kenzie sudah terbiasa dengan drama yang Vano buat hanya geleng-geleng kepala.
...T.B.C...