Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Pengorbanan Sang Raja



•Satu tahun kemudian•


Matahari tenggelam berganti dengan rembulan yang bercahaya dengan terangnya.


Naira duduk termenung di balkon kamarnya sendirian tanpa tahu ia sedang di awasi oleh prajurit yang di kirim Kenzie yang sudah satu tahun ini mengawasinya.


Saat Naira melamun memikirkan Kenzie tentunya. Sudah setahun setelah pertemuan terakhir mereka di toilet guru. Sekarang dia tidak pernah menemuinya lagi.


Naira berpikir apakah Kenzie sudah bertemu dengan mate nya dan melupakannya begitu saja? Bukankah aku mate nya?! Pikir Naira cemas.


Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tanpa menoleh pun Naira sudah tahu siapa pelakunya. "Masuklah! Hari mulai larut. Kamu harus istirahat" pinta Rafael memandang adiknya sedih.


Naira tidak menanggapi ucapan sang kakak. Ia hanya melakukan apa yang di suruh kakaknya. Berjalan ke tempat tidurnya tanpa melakukan ritualnya sebelum tidur dan itu sudah berlangsung selama hampir setahun ini.


Saat Naira bertanya kepada kakaknya Rafael kemana Kenzie, dia hanya menjawab 'tidak tahu' dan itu membuat Naira semakin cemas. Apa ia mulai memiliki perasaan pada vampir itu? Cinta? Sepertinya iya. Karena Naira sekarang hidup seperti tanpa jiwa di dalam raganya.


Sedangkan Kean? Yang dia tahu kakaknya yang satu itu masih sibuk dan tidak pernah mengabari Naira. Tapi, Rafael bilang kalau pekerjaan Kean masih belum selesai.


"Nai sudahlah. Kakak yakin dia akan kembali menemuimu. Tapi mungkin tidak sekarang" ujar Rafael


"Apa sekarang dia sudah menemukan gadis lain dan melupakan aku?" sahut Naira membuat hati Rafael mencelos mendengarnya.


Tidak! Dia sudah menemukan gadis yang ia tunggu, yaitu kamu! dan sekarang dia sedang berjuang untuk tetap bertahan sampai super red moon datang untuk membuatmu bangkit kembali menjadi ratu kaum immortal seutuhnya dan semua yang tidak kamu ingat akan kembali kamu ingat. Batin Rafael


"Ssst.... Sudahlah. Dia pasti akan menemuimu lagi, kakak yakin itu"


"Benarkah?" tanya Naira.


Rafael hanya mengangguk lalu membawa Naira berbaring dan memeluk adik tersayangnya hingga mereka terlelap sambil berpelukan. Tapi sebelum mereka terlelap Rafael bertanya "Apa kamu sangat mencintainya?" 'meskipun kamu tahu kalau dia bukanlah manusia' lanjut Rafael dalam hati.


"Ya! Aku sangat mencintainya" lirih Naira lalu ia terlelap dan di susul Rafael yang tertidur sambil tersenyum lebar. Itu artinya adiknya itu menerima Kenzie apa adanya, syukurlah. pikirnya lega. Rafael mengeratkan pelukannya lalu ia juga ikut terlelap.


...»---♡---«...


*Di dunia kaum immortal*


Sebuah ruangan yang gelap gulita terdapat sosok bermata merah menyalah dengan rantai yang melilit di kedua tangan dan kakinya yang di tahan oleh dua tiang di samping kiri kanannya. Ia sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena ia belum mengikat matenya. Hukum di dunia Immortal meskipun seseorang sudah mengikat matenya, bila matenya mati dan bereingkarnasi maka ia harus mengikatnya kembali ikatan yang telah putus dengan sendirinya itu. Kalau tidak, maka ia akan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Aaaarrrrgggg..........


Teriakan yang memekakkan telinga di iringi suara rantai menggema di ruangan gelap itu akibat gesekan rantai karena sang empu terus berontak.


Seseorang berdiri di depan sosok yang menahan rasa sakitnya itu dengan tatapan sendu. Miris melihat kakaknya yang tersiksa itu.


"Lepaskan aku, sialan" teriaknya pada orang yang berdiri di depannya itu. Ingin sekali ia menghancurkan orang didepannya itu.


Sang adik hanya berdiri kaku memalingkan wajahnya. "Tidak!" jawab nya tegas.


"Sialan. Lepaskan aku. Dasar adik tidak beguna" teriaknya lagi dengan pandangan penuh kebencian.


"Kakak yang memintaku untuk tidak melepaskan rantai itu. Bila ku lepaskan rantainya, kakak pasti akan melakukan hal yang tidak ingin kakak lakukan padanya sebelum super red moon datang!" jawab Kean sedih melihat kakaknya yang terus meraung minta di lepaskan. Meskipun Kenzie mengatainya bahkan menghinanya Kean tidak mempermasalahkan itu karena sekarang yang sedang menguasai tubuh kakaknya bukanlah Kenzie melainkan sisi gelapnya yang ingin segera mengikat mate nya, Naira.


"Aku tidak peduli itu...


Lepaskan aku sialan. Aku akan membunuhmu...." teriak Kenzie menggelegar namun dihiraukan Kean. Karena Kean berjalan keluar dari tempat gelap itu.


"Bagaimana?" tanya Kean pada Vian yang sudah berada di kamar kakaknya.


"Persiapannya sudah selesai. Hanya menunggu super red moon terjadi!" jelas Alvian melirik pintu ruangan yang terdapat Kenzie di dalamnya.


"Semakin mendekati bulan purnama, kakak semakin tidak terkendali" gumam Kean.


"Dua minggu lagi penderitaan lord akan segera berakhir" ujar Alvian lirih. Ingatannya kembali mengingat kejadian setahun yang lalu disaat mereka ingin mencari pemberontak itu.


"Hmm...benar" timpal Kean membenarkan ucapan Alvian.


Kenzie dan Alvian terbang dengan sayap mereka membelah udara yang bisa membekukan tubuh bila manusia yang merasakannya. Berbeda dengan kaum Immortal yang tidak memiliki suhu tubuh kecuali jika mereka sedang sakit mereka akan merasakan dingin dan panas di seluruh tubuhnya seakan tubuh mereka akan membeku dan terbakar. Tapi mereka jarang sakit.


"Dimana tempat persembunyian mereka sebenarnya" geram Kenzie.


"Sebaiknya kita istirahat dulu. Sudah hampir satu bulan kita terbang dan tidak makan. Apa kamu tidak lelah?" saran Alvian yang di angguki Kenzie.


Sebenarnya Kenzie sudah merasa lelah dan hampir melemah karena terus terbang tanpa asupan sedikitpun. Apa lagi ia telah menemukan matenya dan percuma saja ia meminum darah hewan karena kaum vampir dan demon yang telah menemukan matenya hanya bisa meminum darah dari sang mate.


Mereka berdua terbang rendah dan akhirnya mereka menapak ketanah untuk pertama kalinya sejak mereka terbang.


"Aku akan berburu sebentar. Kamu tunggu di sini"


"Tidak! Aku akan ikut" paksa Kenzie


Alvian menghela napas mengingat sahabat sekaligus rajanya ini yang keras kepala. "Baiklah" pasrah Alvian.


"Kita ketemu lagi di sini" ujar Kenzie yang langsung di angguki Alvian.


Mereka pun berpencar mencari buruan mereka masing masing.


Setelah mereka berpencar, Kenzie merasa tubuhnya seakan mau di ambil alih oleh orang lain. Tubuhnya tiba tiba merasakan sakit dan panas luar biasa.


Aaarrggg....


Teriaknya membuat burung burung di hutan berterbangan karena takut dan hewan lain menjauh dan bersembunyi turut ketakutan.


Alvian yang mendengar teriakan Kenzie langsung berhenti berlari dan kembali secepat kilat mencari Kenzie.


Alvian melihat Kenzie tengah kesakitan dan urat urat di tubuhnya seperti akan keluar.


"Lord" ujar Alvian mendekati Kenzie.


"Tidak, jangan mendekat!" cegah Kenzie menahan sakit.


"Tapi kamu kesakitan!" protes Alvian.


"Sudah kubilang jangan mendekat" teriak Kenzie penuh peringatan.


"Apa yang terjadi padamu?" lirih Alvian memandang Kenzie sayu.


"Sialan. Jangan melihatku seperti itu!" teriak Kenzie lagi.


Tak lama kemudian rasa sakit yang tiba tiba mendera Kenzie perlahan menghilang.


Tubuh Kenzie melemas. "Kita kembali dan bawakan aku darah milik Naira" putus Kenzie lirih sebelum tak sadarkan diri.


"Lord" guncang Alvian pada tubuh Kenzie. Nihil, Kenzie sudah terlelap dalam tidurnya dan akan tidur panjang bila ia tidak segera meminum darah Mate nya.


Kenzie tahu itu akan terjadi padanya. Tapi ia lebih memilih mengikat Naira nanti saat ingatan Naira kembali, dengan menanggung resiko yang akan ia alami. Dan sekarang sudah terjadi. Kenzie akan mengalami rasa sakit teramat sangat bila tidak segera mengikat Naira sampai ia nanti mengikat Naira kembali.


Alvian memapah Kenzie dan membawanya kembali ke istana dengan banyak pertanyaan di benaknya.


Pencarian gagal total!


Setelah mengantar Kenzie, Alvian langsung pergi menemui Rafael tanpa menjelaskan terlebih dahulu pada Kean yang khawatir.


...»---♡---«...


...T.B.C...


...Jangan lupa VOTE! Comment!...


...Terimakasih :)...